Warga Satu Desa Mandi Lumpur Dalam Tradisi “Jeguran”

Spread the love

WONOGIRI-Pos Kita- Warga Desa Sambiroto, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, punya tradisi unik membersihkan sumber air, yakni dengan cara terjun bebas ke sebuah sendang secara bergantian. Tradisi turun temurun dalam rangka bersih desa ini, biasa disebut “Jeguran”. Dalam tradisi ini, semua lelaki di desa, diwajibkan ikut berpartisipasi mengaduk air sendang sebagai sumber kehidupan dan penghidupan para petani.

Cara mengaduk air sendang ini cukup unik. yakni dengan melakukan atraksi terjun bebas secara bergantian, dari sebuah menara setinggi tiga meter di pinggir sendang. Atraksi menceburkan diri ke dalam sendang ini dilakukan berulang-ulang hingga masing-masing warga bisa meloncat puluhan kali.

“Ada yang terjun sampai seratus kali lebih,” ungkap Puguh, warga Desa setempat, Minggu (13/8).

Uniknya , dalam tradisi ini, masing-masing peserta minimal satu kali disarankan untuk melumuri tubuhnya dengan lumpur di sekitar sendang.

“Tradisi jeguran ini, merupakan rangkaian kegiatan Bersih Desa atau Rasulan, yang kami selenggarakan setiap tahun sekali.” ujar Sukatmo, Kades Sambiroto.

Menurut warga, Sendang abadi di Desa Sambiroto tersebut awalnya merupakan “Luweng” berkedalaman tak terbatas. Besarnya debit air sendang, tidak hanya dimanfaatkan warga untuk minum dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mampu mengairi 80 Ha sawah milik warga yang kebanyakan bertani.

“Kegiatan jeguran ini sekaligus merupakan bentuk syukur warga kami kepada Tuhan Maha Esa, atas berkah pemberian sumber air abadi di desa kami,” tegas Kepala Desa.

Kegiatan terjun bebas ke dalam sendang tersebut, berlangsung seharian penuh hingga air sendang menjadi keruh bercampur lumpur.  Warga berharap, kotoran lumpur di sendang akan hanyut, sehingga  airnya bersih dan bening lagi.,

Dalam tradisi ini, warga juga memperisapkan perapian kayu bakar, di salah satu sisi di pinggiran sendang. perapian ini, dimaksutkan untuk menghangatkan badan para warga, setelah seharian mengikuti tradisi jeguran. (Ewa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *