Permainan Tradisional  Dukung  Keterampilan  Sosial  Anak  TK

Spread the love

Oleh: Yahmi  SPd

Guru TK Pertiwi Kliwonan I Masaran Sragen

 

Anak usia dini adalah  anak yang berada pada masa “golden age”, yaitu masa di mana anak tumbuh dan berkembang dengan cepat.

Oleh karena itu, dibutuhkan pendidikan yang  berfungsi mempersiapkan diri anak untuk menjadi bagian dari kehidupan, baik sebagai pribadi yang utuh maupun sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Taman Kanak-Kanak adalah salah satu bentuk lembaga pendidikan yang bertugas melakukan upaya pembinaan melalui rangsangan pendidikan dalam bentuk pembelajaran. Namun kenyataan di lapangan, Taman Kanak-Kanak cenderung menganggap bahwa Taman Kanak-Kanak merupakan miniatur Sekolah Dasar (SD).

Penulis sebagai seorang guru TK pun menemukan beberapa hal yang menjadi masalah yang dihadapi oleh sekolah tempat penulis mengajar. Masalah tersebut di antaranya anak sulit diatur, suka membantah, suka mengganngu teman yang lain, bahkan cenderung senang memilih untuk bermain sendiri. Masalah utamanya khususnya tentang keterampilan sosial.

Untuk itulah, penulis tergerak untuk  berinovasi di TK  Pertiwi Kliwonan I Masaran Sragen, yang merupakan tempat mengajar penulis. Penulis ingin sekali membantu anak didik  dalam rangka meningkatkan keterampilan sosial mereka.

Keterampilan sosial sendiri menurut  (Osland, 2002: 372), adalah keahlian memelihara hubungan dengan membangun jaringan berdasarkan kemampuan untuk menemukan titik temu serta membangun hubungan baik. Keterampilan sosial meliputi keterampilan komunikasi, berbagi (sharing), bekerja sama, berpartisipasi dalam kelompok masyarakat.

Anak-anak yang mempunyai kesadaran diri yang kuat siap untuk belajar hidup bersama dengan orang lain. Kemampuan berkomunikasi mencakup perilaku – perilaku yang dipelajari dan digunakan individu dalam situasi-situasi interpersonal untuk memperoleh atau memelihara pengukuhan dari lingkungannya. Dengan demikian, keterampilan sosial bukanlah kemampuan yang dibawa sejak lahir tetapi diperoleh melalui proses belajar, baik belajar dari orang tua sebagai figur yang paling dekat dengan anak maupun belajar dari teman sebaya dan lingkungan masyarakat.

Upaya yang penulis lakukan untuk mendukung keterampilan sosial anak didik adalah dengan menerapkan metode bermain. Dalam hal ini penulis memilih permainan tradisional. Alasan penulis memilih itu, karena permainan tradisional semakin terpinggirkan di dunia pendidikan, anak, dan kehidupan sosial dalam masyarakat. Hal ini disebabkan banyaknya permainan-permainan modern yang bermunculan, bahkan gadget sehingga  permainan tradisional tidak lagi dimanfaatkan sebagai salah satu metode yang diajarkan di sekolah.

Sedangkan bermain dapat mempengaruhi seluruh area perkembangan anak, dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Dengan bermain akan memberikan kebebasan kepada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan menciptakan sesuatu.

Permainan tradisional tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat. Kebanyakan permainan tradisional dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Permainan tradisional, mengutamakan interaksi sosial dengan mengutamakan kerjasama, kekompakan, saling asah asih asuh, dan melatih emosi juga moral anak karena anak selain dituntut untuk bermain jujur juga bermain dengan adil dan penuh tanggung jawab kepada anggota sepermainannya.

Untuk mengetahui keterampilan sosial anak, penulis fokus memperhatikan dan menilai pada  beberapa aspek yaitu, aspek kerjasama, yang meliputi menolong atau meminta pertolongan dari teman, aspek komunikasi, meliputi menyampaikan pendapatatau ide, mengajak teman bermain bersama, mau menjawab dan memberi pertanyaan, aspek berbagi meliputi mau berbagi mainan atau makanan, aspek partisipasi, meliputi bermain dalam kelompok, bermain berdua atau bertiga dengan teman dekat, serta aspek adaptasi, meliputi simpati, empati, disiplin, dan mampu menyelesaikan masalah.

Permainan tradisional yang penulis gunakan adalah “gobak sodor” dan “lompat karung” yang memiliki karakteristik permainan yang mengasah dan mampu memberikan stimulus kepada siswa dalam interaksi teman sebaya yang baik berupa kebersamaan, berbagi, berkomunikasi, partisipasi yang aktif serta kemampuan beradaptasi yang baik.

Sebagai guru, penulis menempatkan dirinya sebagai fasilitator dan motivator sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan  apa yang sudah direncanakan.

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *