Pendidikan

Laboratorium Virtual untuk Mencegah Learning Loss Pada Materi Administrasi Infrastruktur Jaringan

Oleh: Danang Subagiyo, S.Kom
Guru Teknik Komputer dan Jaringan, SMK Negeri 2 Pekalongan

Dalam kondisi dunia dan juga Indonesia yang sedang menghadapi pandemi Virus Covid-19 ini, mengharuskan dunia pendidikan bertransformasi untuk mengikuti perubahan karena sistem pembelajaran tatap muka di kelas berubah menjadi tatap maya atau sistem daring (dalam jaringan) dengan memanfaatkan ICT.
Information and Communication Technology (ICT) adalah sistem pembelajaran berbasis multimedia (teknologi yang melibatkan teks, gambar, suara, dan video) yang mampu membuat penyajian suatu topik bahasan menjadi menarik, tidak monoton dan mudah untuk dicerna. Peran yang sangat penting dan strategis ini digunakan sebagai pusat belajar, pusat interaksi yang mendorong sekolah untuk dapat mengembangkan aktivitas pembelajaran yang jelas dan daya jangkau yang luas. Namun tetap diingat bahwa ICT hanyalah sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.
Menurut UNESCO, ada lima manfaat yang dapat diraih melalui penerapan ICT dalam sistem pendidikan, yaitu: 1) mempermudah dan memperluas akses terhadap pendidikan, 2) meningkatkan kesetaraan pendidikan, 3) meningkatkan mutu pembelajaran, 4) meningkatkan profesionalisme guru dan 5) meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen, tata kelola, dan administrasi pendidikan.
Dalam dunia Pendidikan, pemanfaatan ICT salah satunya dalam bentuk e-learning, penggunaannya dikelompokkan berdasarkan basis teknologi yaitu: (1) Computer Based Training (CBT) dan (2) Web Based Training (WBT). Perkembangan e-learning ini ditunjang antara lain akibat pesatnya perkembangan sistem animasi yang kian menarik dan realistis (misalnya sistem animasi 3 dimensi) dan pola Web base yang makin interaktif. Sehingga dengan menggunakan konsep ini, dapat terjadi komunikasi dua arah antar pengguna.
Faktanya kegiatan pembelajaran merupakan sebuah kegiatan kompleks yang harus benar-benar dirancang oleh guru agar peserta didik memiliki perubahan pada aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Di dalam proses pembelajaran ketiga aspek tersebut harus dicapai agar pembelajaran menjadi bermakna dan peserta didik mampu menguasai baik dari aspek teoritis maupun dari aspek aplikasi langsung di lapangan.
Di SMK Negeri 2 Pekalongan khususnya peserta didik diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di sekolah ke dalam dunia nyata, sehingga diperlukan praktikum dalam pembelajaran. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan alat pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran.
Pembelajaran Virtual LAN dimasa pandemic perlu diajarkan dengan menggunakan laboratorium virtual atau virtual laboratory. Laboratorium virtual ini merupakan sebuah simulasi dalam komputer yang memungkinkan fungsi-fungsi penting dari laboratorium menjadi rill (nyata) untuk dilaksanakan di dalam komputer. Laboratorium virtual memiliki 2 jenis yaitu laboratorium yang berbasis pada peralatan hardware yang nyata dan laboratorium berbasis simulator. Untuk laboratorium berbasis simulator tidak dapat mewakili secara keseluruhan model benda nyata yang ada di lapangan. Sehingga masih diperlukan sebuah peralatan nyata untuk meningkatkan fleksibilitas proses pengajaran.
Adapun keunggulan dari Laboratorium virtual yaitu kegiatan praktikum akan menjadi lebih efisien dan murah karena setiap tahapan percobaan sudah tersedia dalam software pembelajaran, kegiatan praktikum lebih aman dan tidak ada kekhawatiran kerusakan alat laboratorim.
Secara umum pelaksanaan pembelajaran berbasis laboratorium virtual dengan bantuan aplikasi rekam layar di kelas XI TKJ SMK Negeri 2 Pekalongan, dapat meningkatkan kemandirian peserta didik dalam pembelajaran dan peserta didik mampu melakukan simulasi praktikum secara mandiri tanpa harus di dampingi oleh guru secara langsung.
Hal ini ditunjukkan dengan file hasil praktikum dan video hasil rekam layar yang dikumpulkan oleh masing-masing peserta didik ke guru mata pelajaran. Walaupun di dalam pelaksanaan pembelajaran masih ada kendala yang dihadapi peserta didik sehingga terkadang mereka harus berdiskusi dengan teman apabila terdapat troubleshooting jaringan agar mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengurangi motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, justru mereka terpacu untuk belajar lebih baik lagi agar mampu menghasilkan karya yang lebih bagus dari tugas-tugas sebelumnya. ***

Editor: Cosmas