Memetik Inspirasi dari Para Pahlawan Islam

Spread the love

Solo, Poskita.co

Kisah-kisah inspiratif dan profil tokoh-tokoh sejarah perlu diceritakan kepada anak-anak sejak kecil. Tujuannya agar

mereka termotivasi untuk meniru karakter dan inspirasi dari tokoh-tokoh berpengaruh pada masa itu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Uttiek M. Panji Astuti, seorang jurnalis, penulis buku, dan traveller muslim yang menjadi narasumber pada kegiatan parenting virtual kelas IV SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta, Sabtu (31/7/2021).

Kegiatan yang diikuti oleh 78 siswa beserta orang tua/wali siswa kelas IV SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta tersebut berlangsung melalui Zoom Cloud Meeting dan mengangkat tema “Berprestasi Sejak Dini, Kisah Para Pahlawan Islam.”

“Sejak kecil saya sering mendapat cerita dari ayah tentang sejarah tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad Al-Fatih, Harun Al-Rasyid, dan lain-lain, sehingga memotivasi serta menginspirasi saya untuk menjelajah jejak-jejak peradaban Islam di seluruh dunia,” ujarnya.

Di awal penyampaian materi, muslimah yang akrab disapa Bunda Uttiek ini memberikan contoh kepada siswa tentang “the real superhero” yang sudah seharusnya dikenalkan kepada generasi Islam, yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Ali Bin Abi Thalib, Imam Syafi’i, dan Muhammad Al-Fatih.

“Dari Rasulullah Muhammad kita belajar menjadi anak yang saleh dan baik hati, melalui kisah Ali Bin Abi Thalib kita diajarkan menjadi sosok yang pemberani, dari Imam Syafi’i kita terinspirasi dengan kepintarannya sehingga memotivasi untuk rajin belajar, sedangkan dari Muhammad Al-Fatih kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa,” ungkapnya.

Bunda Uttiek juga memberikan motivasi kepada siswa untuk bersemangat dalam mempelajari Al quran, gemar membaca atau iqra’, belajar sungguh-sungguh, dan mempunyai cita-cita besar, serta bersemangat untuk meraihnya seperti yang banyak dikisahkan dalam perjuangan pahlawan Islam.

Kisah kepahlawanan tersebut rupanya menarik perhatian dari beberapa siswa untuk bertanya. Salah satunya adalah Edric Faeyza Baswara, siswa kelas IV A. Ia tertarik dengan istilah ulama yang disematkan kepada Imam Syafi’i.

“Saya kan punya cita-cita masuk Akpol (Akademi Kepolisian), apakah saya juga harus menjadi ulama dulu sebelum menjadi polisi?,” tanya Edric kepada Bunda Uttiek.

Menanggapi pertanyaan Edric tersebut, Bunda Uttiek menjelaskan bahwa ulama bukan berarti setiap hari harus mengisi khotbah di mimbar-mimbar masjid, tetapi ia adalah orang yang memiliki semangat untuk memperluas ilmu agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari apapun profesi yang disandangnya.

“Seandainya Mas Edric menjadi polisi yang saleh dan paham ilmu agama, tentu akan menjadi sosok polisi yang profesional, tidak sewenang-wenang, dan bisa menjadi teladan masyarakat,” kata Bunda Uttiek.

Lusia Wahyu Purbowati, selaku koordinator tim guru kelas IV, menyampaikan rasa terima kasih kepada komite kelas yang sudah bekerja sama dan memfasilitasi kegiatan parenting virtual tersebut.

“Semoga kegiatan ini bisa memperluas cakrawala berpikir anak-anak dan memberikan inspirasi untuk memiliki cita-cita besar serta gigih dalam memperjuangkannya,” ungkap Lusi.

Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *