Diterjang Naiknya Harga Tepung, Usaha Rambak Rika Fitria di Puton Candirejo Tetap Bertahan
Keterangan Foto: Adik Rika Fitria, Ikhwan sedang menggoreng rambak dibantu sejumlah karyawannya.
KLATEN, POSKITA.co – Rika Fitria (35 th) bersama adiknya Ikhwan (33 th), tampak bekerja keras menekuni pembuatan krupuk dan rambak di Puton, Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Klaten. Ibundanya Tatik Komariah alias Ibu Yati (75 th), sampai saat ini masih mendampingi keduanya usaha makanan khas kampung ini.
Ada 17 orang karyawan (13 orang perempuan dan 4 orang laki-laki) yang kebanyakan warga Candirejo, sejak 15 tahun lalu ikut bekerja pembuatan krupuk dan rambak. Kebetulan pelanggannya atau bakul pedagang dari berbagai desa datang sendiri ke rumah mereka.
“Kita tetap bertahan, meskipun saat ini harga tepung atau gandumnya mahal banget. Kenaikan tidak langsung banyak, tapi proses panjang dan sebelum naik kesannya ada kelangkaan bahan di pasaran. Sudah satu minggu ini kenaikannya dan kita mau tak mau menaikkan harga juga. Per kilonya semula Rp27 ribu dan karena bahan mahal jadi naik Rp30 ribu,” jelas Rika Fitria yang asli Ciamis, Jawa Barat saat ditemui redaksi di rumahnya, Rabu (4/11/2026) siang.
Untuk proses pembuatan krupuk atau rambak dari bahan tepung dan bahan lainnya, ada proses pengadukan menggunakan alat khusus dan setelah proses pengadukan selesai ditaruh di sejumlah baki khusus dengan pemasanan. Tungku pemanasan dengan bahan bakar kayu bakar dan ngirit listrik.
Setelah 1 sampai 1,5 jam, adukan yang dimasukkan almari pemanasan diambul dan ditaruh di tempat khusus untuk pemasanan matahari. Selain pemanasan matahari langsung, juga ada pemanasan dengan alat panggang pemanasan dengan bahan bakar gas elpiji.
“Kami mohon kepada pemerintah ikut pengendalian Harga tepung. Untuk satu sak tepung biasanya harganya Rp250-an ribu, kini tembus diangka Rp500-an ribu. Kita terpaksa naikkan harga juga per kilonya, kita nggak mau rugi dong. Tolong pemerintah turun tangan agar harga tepung bisa turun lagi,” harap Rika.
Terpisah, Agus (58 th), salah satu karyawan asal Desa Drono, Kecamatan Ngawen, mengaku senang bisa bekerja di pabrik milik Ibu Yati ini. Sekitar 2 bulanan, Agus baru bergabung kerja mendapatkan tugas penggorengan kerupuk atau rambak membantu Ikhwan, putranya Ibu Yati dengan bahan bakar kayu.
“Untuk kenaikan harga tepung sudah satu minggu ini. Kita sebagai karyawan hanya berharap, harga tepung kembali normal. Kasihan, sudah kondisi ekonomi masyarakat susah, harga bahan pembuatan rambak atau kerupuk malah naik. Pemerintah harusnya turun tangan,” jelas Agus.
Tampaknya karyawan usaha krupuk dan rambak Puton ini tetap satu keinginan atau harapan, agar pemerintah membantu UMKM yang ada. Khususnya membantu para pengrajin pembuatan kerupuk atau produksi roti yang saat ini terasa susah atau keberatan dengan kenaikan harga tepung sekitar 80-100 persen kenaikannya. Tepung ini bahan utama yang mau tak mau harus dibeli kalau mau bertahan usaha rambak atau roti. (Kim)

