Karanganyar

Dapat Musibah, Iwan Malah Dapat Keluarga Baru dengan Suharto

KARANGANYAR, POSKITA.co – Mengalami musibah justru mendapat keluarga baru.

Perumpamaan itu rasanya tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Iwan Adranacus.

Merintis usaha dari bawah, merangkak naik hingga meraih puncak kesuksesan, Iwan sempat mengalami musibah pada Agustus 2018 yakni mobil mercy yang dikemudikannya mengalami kecelakaan hingga pengemudi motor yang bernama Eko Prasetio meninggal dunia.

Di fase tersebut, Iwan Adranacus yang dikenal sebagai Presiden Direktur (Presdir) PT Indaco Warna Dunia justru menemukan pelajaran hidup, juga mendapatkan keluarga baru.

Keluarga yang dimaksud adalah Suharto, ayah dari Eko Prasetio, yang legawa dan ikhlas atas perbuatan dan perilaku anaknya di jalan yang membuat putra sulungnya itu meninggal dunia.

Suharto pula, yang tidak memiliki prasangka buruk terhadap Iwan Adranacus pada saat musibah itu terjadi.

Iwan selaku pendiri pabrik INDACO itu mengaku, fase hidup yang pernah dialami itu sebagai sebuah kisah lama yang selalu manis untuk dikenang.

“Kami merasa, segala sesuatu dalam hidup ini merupakan takdir Illahi. Segala hal yang terjadi dalam hidup kita, merupakan izin Yang Mahakuasa untuk terjadi, yang pastinya selalu ada berkah yang disiapkan untuk kehidupan kita selanjutnya,” ungkapnya.

Founder Green Indaco Paints ini juga mengungkapkan, bahwa dari musibah kecelakaan itu, dia justru mendapat keluarga baru.

Hubungannya dengan Suharto, disebutnya sangat akrab dan erat. Selama tujuh tahun lebih, Suharto ikut membantu urusan pribadi keluarga Iwan.

Setahun terakhir, Suharto juga diminta ikut menjaga Toko Bangunan Lestari Indah di Jalan Sumpah Pemuda 59 Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Solo. Di toko itu, INDACO memiliki booth khusus untuk mendisplay produk cat buatannya.

Iwan menuturkan, ada berkah di balik musibah yang menurutnya merupakan takdir dari Tuhan yang harus dijalani. “Kami merasa nambah saudara, nambah kerabat. Itu juga berarti nambah rejeki. Meski kejadiannya luar biasa buat saya, tapi itu selalu manis untuk dikenang,” terangnya.

Di fase mendapat keluarga baru, Iwan Adranacus juga mendapat pengalaman berharga yakni belajar di tengah masyarakat.

“Setelah bertemu Pak Harto, saya belajar banyak hal. Tambah teman, tambah saudara, tambah pengetahuan, wawasan, pengalaman, dan sebagainya. Banyak pengalaman pribadi, pengalaman spiritual, yang membuat saya lebih bersyukur dan lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai hal pada saat ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Suharto mengenang bahwa takdir Tuhan-lah yang membuat ia bertemu dengan Iwan Adranacus dan menjalin persaudaraan hingga kini.

Pria 64 tahun ini mengaku, sejak September 2025 diajak untuk ikut mengawasi booth INDACO di Toko Bangunan Lestari Indah.

“Awalnya Pak Iwan minta anak saya untuk membantu. Tapi anak saya udah punya usaha sendiri. Lalu saya yang diminta untuk ikut ngawasi di toko ini,” katanya, ditemui di Toko Bangunan Lestari Indah, belum lama ini.

Suharto menyadari 100 persen musibah kecelakaan yang membuat anak sulungnya meninggal, bukan semata kesalahan dari Iwan Adranacus.

“Ada faktor dari anak saya juga. Sebagai orang tua, saya kan tahu sifat anak. Makanya, saya memahami kejadian itu sebagai takdir dan ikhlas atas apa yang terjadi. Dulu Pak Iwan malah kaget, ketika saya menemui di persidangan. Tidak menyangka, karena saya ikhlas dan tidak menyalahkan beliau,” urainya.

Suharto juga bercerita, bahwa pasca kejadian itu, dia tidak butuh tawaran materi sebagai ganti rugi. “Saya butuh persaudaraan. Itu saja yang saya minta. Saya nggak nyari uang. Saya nyari persaudaraan. Dan Alhamdulillah, Tuhan memberikan jalan. Sampai sekarang, saya dengan Pak Iwan sudah seperti saudara,” katanya.

Anak almarhum Eko Prasetio juga terus mendapat perhatian dari Iwan Adranacus. “Anaknya sekarang sudah 8 tahun. Kelas 3 SD. Ikut nenek dari pihak ibu. Saya paling seminggu sekali ketemu, sambil ngasih uang jajan dari Pak Iwan untuk cucu saya. Pak Iwan rutin ngasih uang jajan ke cucu saya itu,” tuturnya saat bincang santai beberapa hari lalu .

Tanto