Agus Suryonugroho: Nyawa Harus Dijaga Saat di Jalan Raya
Kedekatan Eks Kakorlantas Polri, Irjen Pol (Purn) Dr Agus Suryonugroho bersama masyarakat dari berbagai lapisan. (foto dokumentasi)
JAKARTA, POSKITA.co – Keselamatan berlalu lintas dijaga bersama. Orang tercinta menunggu di rumah.
Jalan raya bukan sekadar tempat berkendara, namun ada kehidupan keluarga yang harus dijaga.
Pesan tersebut merupakan refleksi dari Irjen Pol (Purn) Dr. Agus Suryonugroho, eks Kakorlantas Polri, di momentum HUT ke-71 Lalu Lintas Bhayangkara.
Untuk itu, Mantan Wakapolda Jateng tersebut mengajak jajaran Polantas, mitra keselamatan jalan, pengemudi, pengendara, hingga masyarakat untuk melihat keselamatan berlalu lintas harus dijaga.
Menurutnya, setiap kendaraan yang melintas membawa seseorang yang memiliki keluarga, pekerjaan, cita-cita, serta orang-orang tercinta yang menunggu dirumah..
“Jalan raya bukan sekadar ruang yang mempertemukan kendaraan dan manusia. Jalan raya menjadi bagian dari perjalanan kehidupan,” demikian kata Agus Suryonugroho dalam refleksinya.
Dalam pandangannya, keselamatan lalu lintas tidak cukup hanya mengandalkan aturan, rambu, tilang maupun operasi. Kesadaran setiap pengguna jalan untuk saling menjaga juga menjadi bagian penting dalam keselamatan jiwa.
Perwira tinggi yang belum lama menyelesaikan gelar Doktornya itu menggambarkan senyuman sebagai sebuah marka jalan kehidupan. Marka yang baik, menurutnya, tidak perlu mengancam, tetapi mampu memberikan arah yang jelas sehingga orang dapat mengambil keputusan dengan benar.
“Polantas tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum. Polantas juga hadir sebagai pelindung, pengayom, penolong, sekaligus sahabat masyarakat,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut menempatkan keselamatan sebagai tujuan utama. Petugas tidak hanya mengatur arus kendaraan, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat mengenai alasan di balik aturan lalu lintas.
Dengan begitu, masyarakat diharapkan tertib bukan semata-mata karena takut ditilang, tetapi karena memahami bahwa kepatuhan terhadap aturan dapat menyelamatkan kehidupan.
Pensiunan Jenderal Bintang Dua yang pernah menjadi Kapolres Boyolali itu juga memberikan pandangan mengenai ukuran keberhasilan dalam membangun budaya tertib lalu lintas.
Menurutnya, kebanggaan Polantas tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya lembar tilang yang diterbitkan.
“Ukuran keberhasilan bukan jumlah tilang,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan Agus dalam refleksinya.
Untuk itu, dia mengingatkan agar angka kecelakaan tidak hanya dipandang sebagai data statistik.
“Satu korban kecelakaan bukan sekadar satu angka dalam laporan,” pesannya.
Di balik korban kecelakaan terdapat keluarga yang kehilangan ayah, ibu, anak, pasangan, saudara, maupun orang yang mereka cintai.
Karena itu, menurut Agus, keselamatan jalan juga dapat dilihat dari semakin banyaknya masyarakat yang mampu menyelesaikan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat.
“Selama masih ada keluarga yang kehilangan orang tercinta akibat kecelakaan lalu lintas, perjuangan keselamatan jalan belum selesai,” tegasnya.
Kepada seluruh anggota Polantas, Agus menitipkan pesan agar tugas dijalankan dengan ketulusan dan kelembutan hati.
Menurutnya, seragam Polantas membawa tanggung jawab besar karena masyarakat melihat petugas sebagai wajah negara yang hadir langsung di jalan raya.
Polantas diharapkan mampu menjadi penolong bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan sekaligus pengingat bagi pengguna jalan yang melakukan kesalahan.
Namun, Agus juga mengingatkan anggota kepolisian agar tidak mengabaikan keselamatan diri sendiri.
Dalam upaya penegakan disiplin, Eks Kakorlantas Polri itu mengajak masyarakat membangun budaya keselamatan mulai dari diri sendiri.
Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan seharusnya tidak muncul hanya karena takut terhadap denda, petugas maupun kamera pengawas.
“Kesadaran keselamatan harus muncul karena setiap nyawa memiliki nilai yang tidak tergantikan,” urainya.
Perhatian khusus juga diberikan Agus kepada pengemudi ojek online yang setiap hari menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
Para pengemudi ojol menghadapi tekanan waktu, cuaca, kepadatan lalu lintas hingga tuntutan memenuhi target pendapatan.
Namun, keselamatan tetap harus menjadi prioritas.
Ketika membawa penumpang, pengemudi ojol juga mengemban tanggung jawab karena penumpang mempercayakan keselamatannya selama perjalanan..
“Keberanian bukan berarti memacu kendaraan secepat mungkin. Keberanian justru muncul ketika seseorang mampu menahan diri, menjaga kecepatan, memakai perlengkapan keselamatan, dan memilih berhenti ketika kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan,” terangnya.
Di akhir refleksinya, perwira tinggi yang asli warga Boyolali itu berpesan mengenai arti sebuah perjalanan.
Masyarakat berangkat dengan berbagai tujuan, mulai bekerja, mencari nafkah, mengantar anak sekolah, mengantar penumpang, menjalankan tugas negara hingga perjalanan menuju rumah.
Namun, semua perjalanan tersebut memiliki satu tujuan yang sama, yakni kembali dengan selamat.
“Jangan pernah menganggap keselamatan sebagai urusan orang lain. Sebab setiap perjalanan membawa seseorang menuju orang-orang yang mencintainya,” kata Agus Suryonuhroho di akhir refleksinya. (**)
Cosmas

