Pensiunan Kepala SMKN 1 Tulung Jadi Petani dan Pelihara Ratusan Ayam Petelur di Tambongwetan Kalikotes
Keterangan Foto: H. Narimo bersama istrinya Hj. Semirah tunjukkan kandang ayam petelur yang setiap hari datangkan cuan di Tambongwetan, Kalikotes.
KLATEN, POSKITA.co – Berawal dari jiwa berwiraswasta, setahun sebelum purna tugas sebagai Kepala SMKN 1 Tulung, Klaten, atau kisaran tahun 2024, H. Narimo, SPd MPd mengelola 60 ayam petelur di rumahnya Tambongwetan, RT 1/RW 7, Desa Tambongwetan, Kecamatan Kalikotes, Klaten. Narimo mengaku purna tugas tahun 2025 dan adanya kandang ayam petelur ini bisa untuk hiburan.
Saat ini, Narimo Bersama istrinya Hj. Semirah, mengelola ayam petelor kisaran 400-an ekor yang setiap hari bisa bertelur yang totalnya antara 14-15 kg. Sehari ayamnya makan sekali sekitar jam 13.00 WIB dan ayamnya minum air dengan sendirinya didukung alat khusus.
Jumlah ayam petelur semakin bertambah karena banyaknya permintaan dari masyarakat, seperti pedagang pasar, penjual telur outlet Toko Madura, penjual Mie Ayam dan warga sekitar. Belinya 13 minggu dan sebulan berikutnya sudah bertelur. Pakan ayam petelur menggunakan Newhoob, telurnya bersih dan tidak ada bintik-bintik atau hasilnya kurang memuaskan.
Untuk per kilogramnya saat ini harganya Rp25 ribu kalau ambil langsung atau beli di kendang. Sedang kalau warga beli di toko dijual Rp26 ribu. Untuk per kilogramnya jumlahnya ada 18 telur yang ukurannya agak besar dan 20 telur (ukuran telurnya sedang).
“Pernah Harga telur kita jual Rp32 ribu langsung di kandang dan saat ini kalau ambil langsung di kandang harganya Rp25 ribu. Teman-teman bisa buktikan, kalau kita mau serius, tekun dan ulet, usaha yang kita lakukan akan sukses,” jelas Narimo saat ditemui redaksi di kandang ayam petelur, Tambongwetan, Kalikotes, Minggu (10/5/2026) siang.
Terkait ajakan untuk menjual telur ke SPPG program MBG, Narimo mengaku tidak siap. Sebab jumlah telur yang ada per hari tidak mencukupi, hanya kisaran 14-15 kg telur. Narimo tetap mengutamakan sediakan atau menjual telur ayam untuk pelanggan biasanya.

Tak hanya menggeluti ayam petelur, Narimo bersama istrinya juga membuka toko baju, peralatan listrik dan lainnya di Gatak Tuan, Gemblegan, Kalikotes. Selain itu, sudah beberapa bulan ini, Narimo juga menjadi seorang petani.
“Kita sudah panen sayur pare empat kali di utara Kantor Kecamatan Kalikotes dengan ukuran tak terlalu luas. Pare ini kalau dibeli di sawah Rp6 ribu per kilo oleh bakul-bakul pasar dan mereka para bakul menjualnya per kilogramnya Rp12 ribu,” ungkapnya.
Untuk pembagian waktunya, Narimo berusaha mengatur dengan baik, baik untuk mengurus ayam petelur, urus dagangan di took 300 meter selatan Pasar Gentongan dan juga untuk garap sawah. Baginya, hidup ini sangat indah dan mengasyikkan dengan bisa mengatur waktu dengan baik. (Hakim)

