Klaten

Yayasan Mustika Harapan Nusantara Klaten Gelar Pelatihan SOP Penjamah Pangan

Keterangan Foto: Ketua Yayasan Mustika Harapan Nusantara Klaten Endang Samiasih Rahayu, SE saat ditemui redaksi di sela-sela acara di Hotel Grand Tjokro Klaten.

KLATEN, POSKITA.co – Setidaknya ada 100 lebih peserta yang hadir dan mengikuti acara Badan Gizi Nasional (BGN) berupa pelatihan Sertifikasi Kompetensi Penjamah Pangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) naungan Yayasan Mustika Harapan Nusantara di Hotel Grand Tjokro, Rabu (8/4/2026) pagi.

Ketua Yayasan Mustika Harapan Nusantara Klaten Endang Samiasih Rahayu, SE saat ditemui redaksi di sela-sela acara mengatakan, para pengelola SPPG harus bisa menyiapkan tenaga-tenaga professional dalam pengelolaan Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak semudah apa yang dibayangkan, bahwa mengelola SPPG itu memang ribet dan butuh kesabaran tinggi.

“Jadi hari ini ada pelatihan bagi relawan penjamah pangan SPPG. Kebetulan kami dari Yayasan Mustika Harapan Nusantara Klaten mengirimkan para relawan dari tiga dapur ikut running pelatihan ini. Ada dari dapur Jonggrangan 7 Klaten Utara, ada dapur dari Tambakan Jogonalan dan dapur Talang Bayat,” jelas Endang.

Mantan Ketua TP PKK Kabupaten Klaten periode 2021-2026 ternyata selama ini sudah berjuang dan berupaya maksimal dalam mengelola sejumlah SPPG yang tersebar di wilayah Kabupaten Klaten. Endang mengaku memiliki beberapa SPPG, yaitu dapur Jonggrangan 1, Jonggrangan 2, Jonggrangan 7, SPPG Sajen Trucuk, SPPG Solodiran Manisrenggo, SPPG Tambakan Jogonalan dan SPPG Bonyokan Jatinom.

Semua SPPG yang dikelola ini tetap menjalankan sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) SPPG. Para relawan penjamah pangan wajib mengikuti SOP adalah panduan resmi dari Badan Gizi Nasional yang mengatur seluruh rantai produksi makanan, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga distribusi dalam program MBG. SOP ini menjamin keamanan pangan, higienitas, dan nilai gizi yang disajikan sesuai standar keamanan pangan.

Ada beberapa poin-poin penting dalam pelaksanaan SOP SPPG, antara lain harus higienis dan sanitasi baik. Semua petugas wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, memisahkan area bahan nabati dan hewani, serta mematuhi standar higienis. Untuk bagian
manajemen bahan baku dalam penyortiran diterapkan super ketat. Bahan baku dipastikan kualitas, kesegaran, dan gizi yang baik.

Ratusan peserta relawan penjamah pangan sedang mengikuti pelatihan dengan materi dari Dinas Kesehatan Klaten.

Dikatakan pula, untuk proses memasak, tetap pada waktu yang diatur secara ketat. Misalnya suhu kematangan minimal 60 derajat Celcius untuk mencegah mikroorganisme. Juga bagian pendistribusian MBG harus mengemas dengan wadah food grade dan didistribusikan segera untuk menjaga keamanan dan kesegaran. Dalam kegiatan ini, juga melibatkan ahli gizi dan Quality Control untuk pemeriksaan rutin, termasuk sampling makanan untuk memantau keamanan dari bahan berbahaya.

“Dengan mengikuti pelatihan penjamah pangan ini, para relawan dalam menjalankan tugas di dapur bisa sesuai dengan standar SOP berlaku. Para relawan penjamah pangan betul-betul jaga kebersihan dari kotoran, bersih dari pestisida kalau sayur-sayuran. Relawan harus menaungi, mulai menerima, memilih barang, cara menempatkan barang, cara memasak yang benar, hingga pendistribusian,” ungkap Endang yang tak lain istri Yoga Hardaya (mantan Wakil Bupati Klaten).

Pemateri dalam kegiatan ini disampaikan tim Dinas Kesehatan Klaten dengan metode pemaparan materi lewat layar proyektor serta tanya jawab. Para peserta memakai baju putih dan bawaan warna hitam. Para peserta terlihat antusias dari awal hingga akhir agar nantinya bisa mengimplementasikan nyata SOP terkait pengelolaan SPPG. (Hakim)