Puncak Grebeg Sudiro 2026 di Gelar di Pasar Gede Solo, Bentuk Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa
SOLO, POSKITA – Puncak kemerihan perayaan Grebeg Sudiro 2026 digelar di Kawasan Pasar Gede Surakarta, Minggu, 15 Februari 2026.
Dalam situasi hujan deras, ribuan warga memadati Kawasan Pasar Gede untuk menyaksikan kirab budaya yang menjadi simbol Akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani dan Direktur Utama BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi. Sebagai bentuk dukungan pemerindah daerah maupun pemerintah pusat dalam pelestarian budaya.
Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2026, Arsatya Putra Utama, menyampaikan kirab budaya Grebeg Sudiro 2026 berbeda dengan Grebeg Sudiro 2025. Untuk tahun ini diikuti dari dalam kota, luar kota, bahkan negara juga.
“Ada kurang lebih 2.500 peserta yang ikut dalam kirab budaya ini, dan kita bagikan 5000 kue keranjang. Dan kita tampilkan berbagai potensi makanan maupun potensi-potensi khas dari RW (Rukun Warga) masing-masing,” Ujar Arsatya.
Ia menambahkan, Grebeg Sudiro 2026 digelar dari tanggal 5 hingga 21 Februari nanti. Dalam kegiatan ini Panitia Grebeg Sudiro bekerjasama dengan Panitia Imlek Bersama 2026.
“Disitulah jadinya akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa, jadi berbagai pilar tersebut yaitu dari warga masyarakat Sudiroprajan dari berbagai etnis Jawa dan Tionghoa, dan kita juga bekerjasama dengan klenteng Tien Kok Sie serta Pasar Gede Surakarta,” kata Arsatya.
Ia berharap semoga tahun depan wisatawan domestik maupun mancanegara semakin tertarik. Dan untuk perserta akan dikembangkan dari berbagai inovasi.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, dalam sambutannya, menegaskan Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat biasa. Namun menjadi representasi nyata kehidupan masyarakat Sudiroprajan dan kota Surakarta yang harmonis dalam keberagaman.
“Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat biasa, ini simbol sejati akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang terjalin harmonis,” ujarnya.
Kirab budaya yang menampilkan beragam kesenian tradisional, dari Reog Ponorogo hingga barongsai. Perpaduan tersebut mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang hidup di Kota Surakarta.
Prosesi karnaval diawali penampilan cucuk lampah penari sendratari, atraksi 12 Shio dari Klenteng Tien Kok Sie serta Liong Macan Putih turut memeriahkan perjalanan rombongan menuju panggung utama di Kawasan Pasar Gede.
Diujung acara, prosesi pembagian 5000 kue keranjang, tradisi ini menjadi simbol keberkahan sekaligus penutup rangkaian acara puncak Grebeg Sudiro 2026.
Dalam kirab budaya ini juga diikuti penampilan mahasiswa mancanegara diantaranya Pakistan, Syria, Malawi, Tanzania, India, Timor Leste, Nigeria, Sudan, Jepang, dan Thailand.
Grebeg Sudiro ini kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara 2026 sebagai penggerak ekonomi rakyat di Surakarta. (Arya)

