Sragen

Festival Sambel Tumpang Sragen, Puspo Wardoyo: Bisa Jadi Produk Unggulan

Owner Wong Solo Grup, H Puspo Wardoyo bersama tim juri lainnya mencicipi masakan sambel tumpang untuk menentukan pemenangnya dalam lomba memasak sambel tumpang terbanyak di Kantor Terpadu Pemda Kabupaten Sragen, Minggu (15/2). (foto dokumentasi)

SRAGEN, POSKITA.co – Festival Sambel Tumpang (FST) yang berlangsung selama dua hari, pada Sabtu (14/2) dan Minggu (15/2) di Kantor Terpadu Pemda Kabupaten Sragen mendapat respon positif dari berbagai kalangan.

Salah satunya dari pengusaha kuliner nasional yakni H Puspo Wardoyo yang memiliki banyak kegiatan berkenan menyempatkan waktu untuk mengunjungi pesta kuliner kebanggaan warga Sragen tersebut.

Owner Ayam Bakar Wong Solo Grup tersebut menilai sambel tumpang Sragen memiliki keunikan rasa, terutama pada komposisi tempenya yang lebih dominan dibanding daerah lain.

Founder Destinasi Wisata Kalipepe Land dan Makanan Siap Saji MakanKu yang sangat menyukai masakan tradisional tersebut mengingatkan pentingnya teknologi pengemasan agar daya tahannya meningkat.

“Ini dapat meningkatkan daya saing serta menumbuhkembangkan perekonomian bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) karena bisa mengawetkan masakan tradisional hingga tahan lama sampai dua tahun, seperti makanan siap saji MakanKu yang kami produksi menggunakan teknologi canggih,” ungkapnya usai menjadi dewan juri untuk menentukan pemenang dalam lomba memasak terbanyak yang diikuti 280 peserta dari berbagai desa, puskemas, rumah sakit dan lainnya di area halaman Kantor Terpadu Pemda Kabupaten Sragen, Minggu (15/2) pagi.

Untuk itu, pengusaha sukses yang memiliki delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Sragen agar tidak berhenti pada pencapaian rekor MURI semata, melainkan menyediakan ruang khusus pengembangan sambel tumpang sebagai produk unggulan daerah.

Dengan demikian, lanjutnya, sambel tumpang tidak hanya lestari, tetapi juga naik kelas sebagai oleh-oleh premium berbasis ekonomi kreatif.

Pecahnya rekor MURI dengan lomba memasak yang diikuti 280 peserta ini, katanya, sebagai menandai transformasi sambal tumpang dari menu harian masyarakat menjadi simbol identitas budaya sekaligus potensi ekonomi Sragen yang siap menembus pasar nasional. (**)

Tanto