Sragen

Sragen Gelar Festival Sambel Tumpang Nusantara 2026, Siapkan 10.000 Porsi Gratis


SRAGEN, POSKITA.co – Aroma gurih sambel tumpang akan menyelimuti Halaman Kantor Pemda Terpadu Kabupaten Sragen pada 14–15 Februari 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen berkolaborasi dengan Suara Merdeka siap menggelar Festival Sambel Tumpang Nusantara 2026, sebuah hajatan kuliner yang diproyeksikan menjadi perayaan sambel tumpang terbesar sepanjang sejarah Sragen.

Bukan sekadar festival, ajang ini dirancang sebagai ruang perjumpaan antara tradisi, rasa, dan denyut ekonomi kerakyatan. Sambel tumpang—kuliner khas berbahan tempe semangit yang selama ini hidup di dapur-dapur warga—akan naik panggung sebagai ikon kebanggaan daerah.

Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dan meramaikan festival tersebut bersama keluarga dan kerabat. Ia menegaskan bahwa festival ini terbuka untuk siapa saja, baik warga lokal, wisatawan domestik, hingga mancanegara.

“Sedulur-sedulur masyarakat Kabupaten Sragen dan masyarakat Indonesia, ayo hadir dan ramaikan Festival Sambel Tumpang Nusantara. Acara ini akan digelar pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 14–15 Februari 2026. Ajak keluarga, ajak teman, siapa pun untuk ikut memeriahkan,” ujarnya.

Tak main-main, panitia menyiapkan 10.000 porsi sambel tumpang gratis bagi pengunjung. Selain itu, festival ini juga ditargetkan memecahkan Rekor MURI untuk kategori festival masak sambel tumpang dengan peserta terbanyak, melibatkan sekitar 280 peserta, bertepatan dengan Hari Jadi Pemkab Sragen.

“Festival ini akan sangat ramai dan meriah. Selain membagikan 10 ribu porsi sambel tumpang, kami juga menargetkan pemecahan rekor MURI Festival Sambel Tumpang,” tambah Bupati.

Warung Legendaris, Rasa yang Tak Pernah Pudar

Di balik semangkuk sambel tumpang, tersimpan cerita panjang lintas generasi. Festival Sambel Tumpang Nusantara 2026 menjadi momentum mengenalkan 30 warung sambel tumpang legendaris, baik dari Sragen maupun luar daerah, yang telah bertahan puluhan tahun menjaga rasa.

Salah satunya Nasi Tumpang Bu Rijem, warung sederhana di tepi Jalan Solo–Sragen, Kecamatan Masaran. Dengan cita rasa ndeso yang konsisten sejak dulu, warung ini tak pernah sepi pembeli.

“Masakannya dari dulu ya seperti ini, tidak berubah. Pembelinya selalu ada,” tutur Bu Sri, salah satu pengelola warung.

Warung ini buka setiap hari pukul 06.00 hingga 14.30 WIB, kecuali hari besar. Dalam sehari, ratusan porsi bisa habis, terutama saat akhir pekan. Kini, estafet pengelolaan diteruskan oleh Mbak Yani, pewaris Bu Rijem, yang setia menjaga resep turun-temurun.

Tak jauh dari sana, di jantung Kota Sragen, berdiri Nasi Tumpang Mbah Templek, usaha kuliner yang telah memasuki generasi keempat sejak berdiri pada era 1970-an.

“Saya generasi keempat. Dari dulu yang terkenal di sini nasi tumpang dan bubur tumpangnya,” ujar salah satu penerus Mbah Templek, di sela ramainya pelanggan.

Lebih dari Sekadar Kuliner

Keberadaan warung-warung legendaris tersebut menjadi bukti bahwa sambel tumpang bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari sejarah, identitas, dan ingatan kolektif masyarakat Sragen.

Melalui Festival Sambel Tumpang Nusantara 2026, Pemkab Sragen berharap kuliner tradisional ini semakin dikenal luas, mampu menarik wisatawan, sekaligus menggerakkan UMKM dan ekonomi rakyat berbasis budaya lokal.

Di Sragen, sambel tumpang bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita tentang kesetiaan pada tradisi—yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (**)

Tanto