Anggota Gapoktan Desa Jenar Mengeluh Penyaluran Pupuk Amburadul

Spread the love

SRAGEN, POSKITA.co – Para anggota Gabungan kelompok tani (gapoktan) Desa Jenar, Kecamatan Jenar, Sragen, mengeluh. Pasalnya, penyaluran pupuk subsidi bagi petani melalui Gapoktan Desa Jenar dinilai amburadul. Lantaran para anggota kelompok tani dibebani sejumlah biaya administrasi seperti ongkos angkut pupuk, biaya gesekan ATM Kartu Tani. Sehingga itu, dinilai tidak sesuai Keputusan Dirjen prasarana dan sarana pertanian nomor 01/Kpts 210/B /01/2021, Tentang pedoman tehnis pengelolaan pupuk bersubsidi tahun anggaran 2021.

Forum Masyarakat Sragen (Formas) Sri Wahono mengungkapkan, penyaluran pupuk subsidi Gapoktan Desa Jenar, ditengarai terjadi penyimpangan. Lantaran distribusi tidak di kios, hanya di rumah salah satu pengurus Gapoktan. Bahkan kartu tani sebagai syarat untuk pengambilan pupuk, juga ditangan Bendahara Gapoktan. Semrawutnya lagi. Petani anggota Gapoktan tidak mendapatkan struk dalam pembayaran pupuk melalui ATM.

“Anehnya lagi, anggota Gapoktan diwajibkan membayar Rp 3 ribu, setiap gesek kartu tani di rumah Warsono selaku bendahara Gapoktan di Desa Jenar,” bener Wahono, Selasa (21/9/2021).

Menurut Wahono, sesuai aturan Dirjen Sarpras pertanian tentang pupuk subsidi, seharusnya penyaluran pupuk subsidi Gapoktan, harus dilakukan di kios pupuk , sebagai gudang penyimpanan. Gapoktan untuk kelompok tani, serta petani atau anggota kelompok tani,harus hadir langsung di kios pupuk pengecer dengan membawa kartu tani untuk digesek.

“Melihat kondisi lapangan, Gapoktan Desa Jenar tak sesuai dengan aturan yang ada,” tutur Wahono.

Parahnya lagi, kata Wahono, pihak Gapoktan Desa Jenar melarang anggota kelompok tani mengambil langsung ke tempat penyimpanan pupuk. Sebanyak 8 kelompok tani diwajibkan membayar biaya angkut Rp 5 ribu/sak. Contohnya, kirim pupuk sebanyak 5 ton dikalikan Rp 5 ribu, sehingga kelompok tani harus membayar Rp 500 ribu untuk biaya angkut plus tenaga bongkar muat.

“Pengelolaan yang diduga secara pribadi ini, belum ada kesepakatan juga antara Gapoktan dengan kelompok tani.

Bahkan ada kelompok tani mau ambil jatah pupuk subsidi tidak boleh, harus menggunakan jasa angkut dari Gapoktan Desa Jenar,” jelas Wahono.

Dijelaskan Wahono, adanya keluhan yang masuk ke Formas itu, pihaknya langsung kroscek ke lapangan, mendatangi kelompok tani maupun para petani Desa Jenar. Ternyata penyaluran pupuk subsidi Gapoktan desa Jenar, ditengarai tidak sesuai aturan yang berlaku. Keluhan petani sudah dirasakan sangat lama. Bendahara Gapoktan menguasai seluruh bidang urusan pertanian, dari pupuk, tarikan gesekan ATM petani Rp 3 ribu. Lantas jasa angkut Rp 5 ribu/sak.

Di sisi lain, gudang pupuk Gapoktan malah dikosongkan. Di sisi lain, tidak ada laporan soal keuangan soal iuran biaya gesek ATM Kartu Tani Rp 3 ribu tidak jelas. Melihat kondisi itu, Formas akan mengadukan masalah tersebut ke penegak hukum.

“Jelas akan kita adukan ke penegak hukum, karena dari 8 kelompok tani dengan 700 petani yang selalu bayar Rp 3 ribu tiap gesek ATM tidak pernah ada laporan dari Gapoktan Desa Jenar,” tandas Wahono. (Cartens)

Caption Foto HL:
Gudang pupuk Gapoktan Jenar yang tak difungsikan. (Foto: Cartens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *