Tingkatkan Proses Kognitif Siswa dengan
Model Pembelajaran Pemecahan Masalah

Spread the love

Oleh: Dwi Hastuti, S.Pd
Kepala Sekolah SDN 01 Paseban, Jumapolo Kabupaten Karanganyar

Model pemecahan masalah berpedoman¬ kepada teori belajar yang artikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk final tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Sebagai model pembelajaran, pemecahan masalah mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri dan pemecahan masalah . Tidak ada perbedaan yang prinsip pada ketiga istilah ini.
Pada Pemecahan masalah lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaan inkuiri dan problem solving dengan pemecahan masalah adalah masalah masalah yang dihadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru.
Dalam mengaplikasikan model pembelajaran pemecahan masalah guru berperan sebagai pembim¬bing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.
Dalam pemecahan masalah, hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, histori atau ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
Manfaat pemecahan masalah meliputi: 1) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. 2) Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer. 3) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. 3) Model pembelajaran ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. 4) Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri. 5) Model pembelajaran Pemecahan masalah ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. 6) Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. 7) Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. 8) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik. 9) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru. 10) Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. 11) Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. 12) Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik. 13) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang. 14) Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya. 15) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa. 16) Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar. 17) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Model pembelajaran pemecahan masalah ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
Model pembelajaran pemecahan masalah ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama. Model pembelajaran pemecahan masalah lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
Dalam model pembelajaran pemecahan masalah, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penilainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran Pemecahan masalah dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan. ***

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *