Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Teknik Peer Counseling

Spread the love

Oleh: Atik Tri Hasanah, S.Pd
SMK Muhammadiyah Ulujami
Mengajar BK kelas XII

Tugas konselor sekolah adalah memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang optimal dan memperhatikan arah perkembangan siswa. Diharapkan siswa mampu berkembang secara optimal sesuai dengan tugas perkembangan masing-masing individu.
Oleh karena itu, bimbingan dan konseling menjadi satu kesatuan yang utuh sangat diperlukan. Beberapa permasalahan yang dihadapi remaja sehubungan dengan proses belajar, salah satunya adalah motivasi belajar. Dalam proses belajar mengajar, siswa diharapkan mampu memahami pelajaran yang telah disampaikan oleh guru. Guru tidak hanya menjelaskan panjang lebar, tetapi guru juga dituntut untuk menyampaikan motivasi belajar kepada siswanya agar dapat dengan mudah memahami dan memahami mata pelajaran tertentu, karena sebagian siswa di kelas tidak semuanya termotivasi untuk belajar.
Salah satu faktor yang juga sering disebut-sebut menurunkan motivasi belajar siswa adalah materi dari pelajaran itu sendiri dan guru yang menyampaikan materi pelajaran. Materi pelajaran sering dikeluhkan siswa sebagai materi yang membosankan, terlalu sulit, tidak berguna untuk kehidupan sehari-hari, materi yang terlalu banyak dalam waktu yang terbatas, dan sebagainya (Sarwono, 2012:151).
Motivasi menjadi faktor batin yang berfungsi menyebabkan, mendasari, mengarahkan tindakan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasi maka semakin besar pula keberhasilan belajar. Seseorang yang memiliki motivasi kuat akan bekerja keras, begitu pula sebaliknya jika motivasinya lemah akan acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak terfokus pada pelajaran, suka mengganggu, sering meninggalkan pelajaran akibatnya banyak yang mengalami kesulitan belajar. (Ahmadi, 2004: 83).
Faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya dari guru dan sarana serta prasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman juga sangat besar pengaruhnya. Apa yang dikatakan guru tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran meskipun guru itu termasuk guru yang disegani. Apalagi kalau sekolah itu berlokasi di pusat keramaian dimana terjadi titik singgung yang terus menerus setiap hari antara anak-anak yang akan ke sekolah atau mau pulang dari sekolahnya dengan berbagai manusia dan rangsangan sosial yang bermacam-macam coraknya. Misalnya, tempat-tempat hiburan (billiard, panti pijat) yang merupakan tempat perjudian atau warung-warung yang menawarkan obat-obatan terlarang. Akibatnya anak-anak itu tidak bersemangat lagi dalam pelajaran sekolah (Sarwono, 2012 : 157- 158).
Dalam proses belajar, motivasi adalah hal yang sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin bisa melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Jika tidak ada motivasi untuk belajar atau kurangnya minat belajar bagaimana siswa dapat mengembangkan pikiran, bagaimana juga siswa bisa berekspresi dan bereksplorasi dalam belajar.
Teman sebaya merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar karena berbicara tentang belajar pastinya siswa termasuk diruang lingkup sekolah/ berada di lingkungan sekolah. Dimana di sekolah ada guru dan teman. Di sekolah, siswa lebih suka berinteraksi dengan teman sebayanya. Terkadang seseorang tidak bisa mengontrol waktu yang tepat untuk belajar atau bermain bersama teman. Apalagi jika remaja yang sudah memiliki banyak teman di dalam dan di luar sekolah, waktu belajarnya sangat singkat dan mungkin tidak pernah memiliki waktu luang untuk belajar. Karena sering mengisi waktu luang dengan kegiatan yang tidak berguna seperti berkumpul dengan teman, jalan-jalan/rekreasi, siswa/remaja melupakan tugas utamanya sebagai siswa. Siswa/remaja tidak memiliki keinginan untuk belajar dan tidak memiliki motivasi untuk belajar.
Banyak siswa yang merasa nyaman menceritakan apa yang dialaminya kepada teman-temannya yang telah dipercaya untuk menyimpan rahasianya. Mulai dari masalah pribadi hingga masalah belajar. kebanyakan tentang masalah motivasi belajar yang sering dihadapi siswa. Siswa yang kurang motivasi dapat bercerita atau curhat dari teman sebayanya, sehingga sedikit banyak siswa yang kurang memiliki pandangan ini dapat memiliki pandangan dari temannya.
Menurut Varenhorst (1976:542) konseling sebaya adalah suatu upaya yang mempengaruhi perubahan (intervensi) sikap dan perilaku yang efektif untuk membantu siswa yang mengikuti pembekalan dalam memecahkan masalahnya sendiri. Konseling teman sebaya pada dasarnya merupakan cara bagi siswa untuk belajar memperhatikan dan membantu siswa lain, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Konseling teman sebaya diartikan sebagai kegiatan saling peduli dan saling membantu secara interpersonal antar sesama siswa yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, menggunakan keterampilan pemecahan masalah, dalam kedudukan yang setara (setara) di antara teman sebaya (Hunainah, 2011: 19).
Dengan konseling sebaya, berbagai masalah yang berkaitan dengan pembelajaran dapat lebih mudah diatasi. Peneliti memilih menggunakan teknik Peer Counseling karena siswa merasa lebih bebas untuk mengungkapkan masalah kepada teman sebayanya. Selain itu, teman sebaya dalam bentuk persahabatan juga memberikan kesempatan untuk memberi semangat dan dukungan. Kelebihan teknik Peer Counseling (konseling sebaya) artinya dengan teknik ini siswa dapat membantu memecahkan masalah teman sebayanya, siswa yang menjadi konselor sebaya dapat menggunakan bahasa dengan lebih lancar karena dilatih untuk menjadi komunikatif yang efektif, teknik Peer Counseling mampu untuk membantu kinerja guru BK/konselor sekolah Selain itu, teknik Peer Counseling ini juga mampu mempererat silaturahmi antar sesama.
Editor: Cosmas