Pemilih Pemula Butuh Figur Politisi Muda Capai 35%

Spread the love

KARANGANYAR, POSKITA.co – Figur pemuda ternyata sangat berpengaruh dalam mendongkrak partai politik.
Pasalnya, kiprah bagi pemuda menyokong ada 30-35 persen pemilih pemula yang dinilai awam soal berpolitik dan demokrasi.

‘’Mereka perlu didekati termasuk tugas lembaga-lembaga pemilu seperti KPU (Komisi Pemilihan Umum) maupun Bawaslu. Mereka perlu mendapatkan sosialisasi memadai agar melek terhadap politik sehingga pengetahuan mereka lebih terbuka. Dan ini akan lebih baik jika ada figur yang bisa menjadi panutan mereka,’’ kata Diza Ageng Alifven Ketua Pemuda Pancasila kepada wartawan, Kamis (20/5).

Bersama dengan Ilyas Almadani Ketua Bapera (Barisan Pemuda Nusantara) dan Yanuar Faizal Wakil Sekretaris DPD KNPI Karanganyar, mereka tampil dalam diskusi tentang peran pemuda di era kebangkitan nasional sekarang, yang digelar Bawaslu Karanganyar.

Diza mengatakan, pengalamannya saat terjun di 17 kecamatan di Karanganyar untuk kampanye salah satu parpol dan membantu bapaknya yang menjadi caleg, diperoleh data bahwa pemuda justru kelompok cuek dan tidak peduli pada parpol dan caleg.

Mereka hanya tahu kapan harinya nyoblos, datang ke tempat pemungutan suara, mencoblos siapa yang memberinya uang, yang kebetulan dia kenal, setelah itu pulang. Sangat simpel dan ada unsur transaksional di situ.

Tidak ada pendekatan sama sekali lewat Karang Taruna, sekolah, apalagi tempat mereka berkumpul dan lainnya. Sangat minim informasi yang mereka terima. Sehingga jika tidak segera didekati mereka akan terus menjadi massa mengambang yang blank serta cuek pada perkembangan politik.

Dia memberi contoh yang dia lakukan lewat Pemuda Pancasila. Keberadaan organisasi pemuda sangat penting untuk memberikan pemahaman agar serba sedikit mereka juga peduli politik. Dia selalu mengajak agar anggota Pemuda Pancasila bukan pemilih yang bodoh, namun tahu makna pilihannya dan tidak sembarangan memilih.

Yanuar Faisal menambahkan, pemahaman transaksional itu sebuah kabar buruk yang ada di dalam diri pemuda. Sehingga jika dibiarkan, pemuda akan semakin cuek dan menjadi kelompok masa depan yang selalu transaksional.

‘’Ini perlu pendekatan agar mereka berubah menjadi kelompok peduli, kelompok yang mengerti makna memilih. Dan organisasi pemuda merupakan wadah yang pas untuk memberikan pemahaman politik itu. Dan ini tugas berat agar organisasi pemuda menjadi menarik untuk berkiprah,’’ kata dia.

Diza menambahkan perlunya parpol untuk menampilkan lebih banyak pemuda sehingga kiprahnya diketahui dan menjadi idola, figur yang bisa dicontoh serta menjadi panutan pemuda. Dan ini perlu untuk mendekati pemuda. (Cartens)

Caption Foto HL:
Diskusi Melalui Zoom Meeting tentang kepemudaan di Bawaslu Karanganyar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *