City Branding, Upaya Memenangkan Persaingan antar Kota

Spread the love

SOLO, Poskita.co – Marketing Talk dengan tema “Membangun City Branding: Tinjuan Praktis dan Akademis itulah yang diselenggarakan oleh STIE Surakarta dalam rangka ulang tahunnya yang genap 28 tahun pada Mei 2921 ini. Acara yang diadakan di The Sunan Hotel Solo, Selasa (11/5) sebagai pelopor kampus bisnis dan ekonomi di Surakarta, STIE Surakarta selalu mengadakan kajian-kajian akademis dengan tema sesuai dengan perkembangan lingkungan.

Dalam acara ini STIE Surakarta menggandeng organisasi profesi pemasaran yaitu Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Solo. Sebagai Presiden IMA Chapter Solo, Retno Wulandari, SH., MSi.

Retno menjelaskan, City branding dibutuhkan oleh sebuah kota agar memiliki keunikan tertentu di mata masyarakat, sehingga kota tersebut memiliki keunggulan dibanding kota yang lain. Praktek-praktek City Branding yang telah diterapkan di beberapa Kota khususnya di Kota Solo dalam upaya swasta berperan dalam membangun kota. Dampak city branding memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap pengambilan keputusan wisatawan yg ingin berkunjung ke suatu obyek wisata daerah, jelasnya.

Ginanjar Rahmawan, SE., MM., MH., dosen Marketing STIE
Surakarta menyajikan beberapa hasil penelitian internasional berkaitan dengan City Branding. Ginanjar menyebutkan city branding adalah upaya untuk memenangkan persaingan antar kota baik itu di dalam maupun di luar negeri. City branding ini untuk endingnya nanti mendapat penghasilan dari berbagai sektor, ada bisnis, pariwisata, restoran, hotel dan sebagainya. Persaingan antar kota ini tidak diukur kecilnya kota atau megapolitan, tapi ada pembeda dan keunggulan yang bisa dikemas. Membangun City Branding bisa menggunakan pendekatan CBI (City Branding Index) yang meliputi Presencen, Place, Potential, People, Pulsem dan Prerequisire. Dengan pendekatan Heksagonal ini, diharapkan sebuah kota mampu memiliki branding yang baik di komunitas internasional.

STIE Surakarta selama bulan Mei 2021 membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk program S1 Manajemen dan S1 Akuntansi dengan akrediatsi “Sangat Baik”. Dr Alam, penitia PMB, menjelaskan kuliah di masa pandemi ini tetap harus dilakukan, biaya kuliah di STIE Surakarta terjangkau, hanya 400.000/bulan. STIE Surakarta juga memiliki keunggulan dalam kurikulum yang memungkinkan mahasiswa bisa lulus dalam waktu 3,5 tahun. Kini STIE Surakarta membuka jalur NON SKRIPSI. Sebagai gantinya, mahasiswa melakuka penelitian yang berupa karya ilmiah terpublish di jurnal nasional maupun nasional. (Aryadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *