Diaspora Indonesia Sumbang Ratusan Topi Rajut untuk Pasien Kanker dan Anak Pengungsi

Spread the love

Berawal dari hobi merajut yang sudah ditekuni sejak masih duduk di sekolah dasar di Bandung, diaspora Indonesia, Vera Fuad, yang tinggal di Sacramento, California, kini banyak meluangkan waktunya untuk merajut topi atau bando, untuk disumbangkan kepada anak-anak yang sakit dan kurang beruntung.

Sekitar tujuh tahun lalu, Vera mendengar anak salah seorang temannya menderita kanker dan dirawat di rumah sakit Stanford di California. Hatinya terenyuh setiap kali menjenguk dan melihat pasien anak-anak yang rambutnya rontok karena dampak kemoterapi.

“Sedih melihat mereka, sudah sakit, nggak ada rambut. Jadi (dalam) perjalanan pulang itu, saya selalu mikir, (apa yang bisa saya lakukan untuk membuat mereka gembira?) Saya mulai membuat topi yang lucu-lucu saya selalu buatnya yang lucu to make them happy, that’s how it started,” cerita Vera Fuad kepada VOA belum lama ini.

Sumbangan topi rajutan Vera untuk pasien anak-anak di rumah sakit UC Davis, California (dok: Vera Fuad)

Mengingat ketika itu rumah sakit Stanford cukup jauh dari tempat tinggalnya, Vera pun tergerak untuk menyumbangkan topi-topi hasil rajutannya ke rumah sakit anak-anak penderita kanker, salah satunya di rumah sakit UC Davis di Sacramento, California, sekitar 6 tahun lalu.

Topi-topi yang disumbangkan diminta mengikuti persyaratan dari rumah sakit, seperti harus menggunakan benang dan sabun yang khusus sebelum diserahkan.

“Mereka mau sekali mendapat topi-topinya itu. Jadi saya melakukannya selama dua tahun kayaknya ya, sumbang-sumbang topi,” kata perempuan yang sudah tinggal di Amerika selama 34 tahun ini.

Pihak rumah sakit pun sangat senang atas bakti sosial yang dilakukan oleh Vera dan mengirimkan surat yang berisikan tanda terima kasih.

Topi hasil rajutan klub merajut Vera untuk anak-anak di Ukrania (dok: Vera Fuad)

Merupakan sebuah kegembiraan tersendiri ketika hasil karyanya mendatangkan kehangatan dan senyuman bahagia di wajah anak-anak, saat menerima topi rajutannya yang unik, lucu dan menyerupai berbagai karakter, seperti Minion, manusia salju, dan aneka binatang.

Adalah impian Vera untuk bisa menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan anak-anak ini.

“Ya, senang sekali sih ya. That’s the least that I can do to make them happy gitu. Enggak kebayang kan, kalau anak-anaknya ini sakit atau pun yang saya donate juga ke anak-anak miskin. Cuman kasih topi simple yang lucu aja mereka sudah happy,” kata perempuan yang juga hobi melukis ini.

Menyumbang Topi ke Berbagai Negara

Berbagai upaya Vera lakukan untuk bisa menyumbangkan hasil topi rajutannya untuk anak-anak yang kurang beruntung. Tidak hanya ke rumah-rumah sakit di Amerika, namun Vera juga menyumbangkan beragam topi ke Meksiko, Rumania dan Ukrania.

Anak-anak di Rumania memakai topi rajutan yang disumbangkan oleh Vera dan teman-teman (dok: Vera Fuad)

Vera masih ingat ketika berkunjung ke Rumania dan melihat anak-anak yang berjalan kaki di udara yang sangat dingin. Inilah yang mendorongnya untuk menyumbangkan beragam topi rajutannya ke sana, yang biasanya ia titipkan melalui teman-temannya yang tengah berkunjung ke Amerika Serikat.

“Jadi dalam tiga tahun terakhir, pokoknya hampir setiap hari itu saya buat topi-topi atau ngerajut. Dikumpulin aja gitu. Nanti kalau pas mereka ada yang mau pulang ke Eropa gitu jadi topi-topinya kebawa,” kata Vera.

Kakak Vera membagikan topi flannel karya Vera untuk anak-anak di Meksiko (dok: Vera Fuad)

Mengingat permintaan yang cukup banyak, Vera pun merangkul teman-temannya untuk merajut topi bersama untuk disumbangkan.

Sebagian lalu disumbangkan ke yayasan Firm Foundations Romania, yang membantu pendidikan dan memberi pengarahan kepada anak-anak yang kurang beruntung di Rumania.

Stefanie Vogel, wakil presiden yayasan Firm Foundations Romania (dok: Stefanie Vogel/Vera Fuad)

“Saya pertama kali bertemu Vera sekitar 5 tahun lalu dan suaminya adalah salah satu anggota dari yayasan kami yang bercabang di Amerika Serikat. Sejak itu, Vera telah memberkati kami dengan topi-topi rajutan hasil karyanya dan teman-temannya untuk anak-anak yang tergabung dalam program kami. Anak-anak menyukai topi Minions, kupu-kupu, bunga atau beruang, Musim dingin di Rumania sangat dingin, tapi sangat menyenangkan bagi anak-anak ini ketika berjalan kaki sambil mengenakan topi Minion,” ujar Stefanie Vogel, wakil presiden yayasan Firm Foundations Romania.

Tidak hanya ke Rumania, topi hasil rajutan Vera dan teman-temannya juga disumbangkan untuk anak-anak tentara di medan perang di Ukrania.

“Sangat penting bagi para keluarga ini untuk merasa dicintai dan dihargai dan bahwa mereka tidak terlupakan. Anak-anak sangat senang mendapatkan topi ini. Mereka belum pernah melihat topi seperti itu sebelumnya, yang bisa menaruh senyum lebar di wajah mereka. Dan orang tua mereka juga sangat bahagia, senang bahwa ada yang ingat dan peduli, serta meluangkan waktu untuk memberikan hadiah yang sangat praktis ini,” kata John Musgrove, seorang guru yang juga adalah teman Vera di Ukrania.

Bando dan Topi Untuk Anak Pengungsi

Mengingat bahwa topi rajutan tidak terlalu berguna di Sacramento yang cuacanya cukup panas, Vera lalu mendapat ide untuk membuat bando rajutan, untuk anak-anak pengungsi yang tinggal di sana, ditambah dengan topi-topi mungil untuk bayi.

Bando rajutan karya Vera Fuad yang disumbangkan untuk anak-anak pengungsi di Sacramento (dok: Vera Fuad)

Proses pembuatan topi-topi ini tidak memakan waktu yang terlalu lama, yaitu sekitar setengah jam. Walau, memang untuk topi-topi yang menyerupai sebuah karakter seperti Minion akan memakan waktu lebih lama.

“Nah, yang lama itu buat matanya, buat mulutnya. Kalau umpamanya buat Minion, matanya yang gede itu bisa mungkin (memakan waktu) satu setengah jam untuk 1 topi. Yang lama itu menjahit manik-maniknya,” jelas perempuan yang juga berprofesi sebagai fotografer keluarga paruh waktu ini.

Dukungan Keluarga dan Teman

Dukungan keluarga turut menyemangati Vera untuk terus merajut dan menyumbangkan topi-topi ini kepada anak-anak yang kurang beruntung.

Teman-teman Vera pun kerap memintanya untuk membagi ilmu merajut yang dimilikinya, hingga akhirnya ia mengadakan kelas merajut di rumahnya setiap bulan.

Vera Fuad bersama diaspora Indonesia di Sacramento kerap merajut bersama (dok: Vera Fuad)

“Saya welcome sekali. Soalnya (yang memerlukan topi) itu banyak sekali, tapi (yang mengerjakannya sedikit). Jadi saya tuh pengin sekali ada yang membantu gitu,” ujar Vera.

“Kalau lebih banyak yang volunteer kan kayaknya lebih banyak dapat topi. Tapi waktu itu, saya hanya seorang diri yang bisa membuat,” tambahnya.

Salah satu dari sekitar 12 peserta kelas merajut Vera adalah diaspora Indonesia, Felicia Sentosa di Sacramento, yang terinspirasi untuk belajar merajut, setelah melihat hasil karya Vera di media sosial.

“Vera meluangkan waktunya dan membuka backyard-nya untuk crochet (red.merajut) for fun class. Dan disitulah saya belajar crochet. Tahun 2020, Vera mengabarkan teman misionarisnya dari Ukraine itu akan datang dan Vera akan menitipkan topi untuk anak-anak di sana. Karena itu kita ramai-ramai membuat beanies (red.topi) sebanyak mungkin untuk dikirim ke Ukraine,” cerita Felicia.

Hingga kini, bersama teman-teman, Vera telah menyumbangkan ratusan topi ke berbagai negara. Sayangnya kelas merajut Vera saat ini terpaksa dihentikan karena pandemi.

Berbagi Dengan Tuna Wisma

Belakangan ini Vera juga menyumbangkan topi-topinya untuk tuna wisma dewasa di Sacramento. Berdasarkan data dari California State University tahun 2019, terdapat lebih dari 5,500 tuna wisma di Sacramento, meningkat 19 persen dibandingkan tahun 2017.

“Saya kasih mungkin ada dua-tiga puluh topi,” ujarnya.

Vera pun selalu menyiapkan topi kemana pun ia pergi. Jika bertemu tuna wisma di lampu merah dan tidak membawa uang, ia pun lalu memberikan topi rajutannya.

“Saya selalu ada di mobil atau ya sebanyaknya saya buat. Enggak mesti ada certain amount gitu. Kalau di tas ada 5, ya udah saya kasih aja semua,” katanya.

Untuk ke depannya, Vera akan terus merajut lebih banyak topi yang bisa ia sumbangkan kepada yang memerlukannya. Ia berharap akan selalu ada yang “tergerak hatinya dan mau juga meluangkan waktu untuk membuat topi.”

Ia berharap pandemi ini bisa segera berakhir agar ia bisa kembali mengadakan kelas merajut, sekaligus bersilaturahmi sambil berbuat kebaikan. [di/em]

sumber: voaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *