PJJ Masa Pandemi, Guru  Kreatif  dan Orang Tua  Aktif

Spread the love

Artikel Ilmiah Populer

oleh: Trias Nafiulana S.Pd.SD

Guru SD N 01 Kaliwuluh  Kebakkramat

Sejak merebaknya Covid-19, proses belajar mengajar langsung atau tatap muka di sekolah dihentikan sementara dan diganti belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Guru pun dituntut hadir dalam pembelajaran dalam jaringan (daring) yang bisa diakses siswanya dari rumah masing-masing. Bukan mudah menciptakan proses pembelajaran daring yang menarik, bermakna dan menyenangkan.

Sebab, ketika kegiatan belajar-mengajar secara langsung dihentikan, yang ada dalam benak sebagian besar anak adalah libur dan bermain, terutama bagi anak-anak di tingkat sekolah dasar. Disamping itu, masih banyak guru yang mengajar secara online dengan hanya memberikan soal sebanyak-banyaknya untuk siswa. Sehingga tak heran jika muncul keluhan dari banyak orang tua tentang pelaksanaan belajar dari rumah yang justru membuat anak dan orang tua menjadi stress. Sebab orang tua pun tak bisa banyak membantu anaknya mengerjakan soaal-soal tersebut. Di sinilah, guru dituntut bisa menciptakan pembelajaran online yang benar-benar menarik dan menyenangkan bagi siswa.

Sebenarnya sudah banyak pelaksanaan pembelajaran dari rumah yang baik yang dilakukan oleh para guru. Mestinya contoh-contoh praktik baik tersebut bisa menjadi inspirasi bagi para pendidik lain untuk lebih memaksimalkan pembelajaran online yang mereka hadirkan selama masa belajar di rumah ini.

Mengenai hal tersebut, Kemendikbud telah meluncurkan program Guru Berbagi untuk membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran daring pada masa darurat COVID-19. Program tersebut diakses di laman guruberbagi.kemendikbud.go.id. Laman yang bisa diakses publik secara umum ini hadir sebagai ruang berbagi ide dan praktik baik penunjang pembelajaran selama belajar dari rumah atau selama masa darurat. Laman guruberbagi.kemendibud.go.id. memiliki tiga fitur utama. Pertama, berbagi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kedua, berbagi bacaan dan ketiga berbagi aksi. Di laman ini guru dan para penggerak pendidikan dapat saling berbagi Rencana Pelaksanaan Pembeajaran (RPP), berbagi semangat positif, juga inspirasi prsktik baik pendidikan jarak jauh atau belajar dari rumah. Melalui laman tersebut, guru bisa saling membantu sesama dalam situasi yang tidak mudah saat ini.

Pada masa pandemi   seperti ini banyak guru mencoba berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Ini merupakan sebuah bentuk bagaimana seorang guru melakukan hal yang relevan dengan keadaan siswa tetapi tetap masuk dalam koridor mata pelajaran. Peningkatan mutu pendidikan tidak berpatokan pada bagaimana kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dilaksanakan di lapangan semata. Pelaku pendidikan seperti guru juga berperan besar sebagai penentu kualitas pendidikan yang bagus.

Kecakapan guru dalam mengajar setidaknya berpegang pada keterampilan 4C yaitu communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi), critical thinking (berpikir kritis), dan creativity (kreativitas). Bukan hal mudah memang untuk menata diri sehingga menjadi guru yang professional yang memenuhi kualifikasi akademik dan mempunyai sertifikat sebagai pendidik.

Guru semestinya mempunyai empat standar kompetensi yaitu kompetensi pedagogic, kepribadian, social, dan professional. Terutama di masa revolusi 4.0 yaitu tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Siswa yang termasuk dalam kaum milenial yang hidup di ekosistem digital sudah terbiasa dengan tehnologi informasi dan komunikasi. Budaya digital sudah menjadi bagian utama kehidupan mereka. Semua sumber informasi terbuka dan mudah diakses. Siswa terbiasa mencari informasi di internet serta bekerja tim menjadi model belajar utama mereka.

Maka di saat pandemi seperti ini guru di tuntut menjadi kreatif dengan penggunaan internet di kelas. Clasroom learning yang dulu biasa dilakukan seorang guru sekarang diubah blended learning yang menggabungkan pengajaran langsung (fase-to-fase) dan e-learning. Pada konsep e-learning, siswa dapat belajar sendiri memakai laptop, computer, atau ponselnya. Namun, tentu saja penggunaan ponsel di luar kelas perlu terus dipantau. Ponsel memang perlu, kemajuan teknologi perlu diterapkan, tetapi tetap harus dikontrol.

Di samping itu, cara penyampaian guru ketika di kelas juga menjadi hal penting untuk diperhatikan. Siswa tidak akan mencerna materi pelajaran dengan baik jika diajar guru yang kurang menyenangkan. Gaya bicara, ramah dan mampu berdialog dengan nuansa humor saja kurang cukup untuk menjadi pengajar yang baik. Gesture atau gerak tubuh juga penting. Guru todak bolah merengut wajahnya, tampil ramah dan mudah diajak berkomunikasi akan membuat siswa menjadi senang. Kelas yang sehat kelak akan menghasilkan siswa yang sehat dan berbakat pula.

Beberapa kendala yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran secara online ini tidak menyurutkan semangat mereka. Hal ini terbukti dari upaya yang dilakukan guru agar dengan sumber daya yang ada,mereka bisa memberikan pembelajaran yang berarti untuk para siswanya. Poin pemanfaatan teknologi dalam kondisi pandemi ini merupakan hal yang luar biasa. Salah satu masalah terbesar dalam mengadopsi tehnologi pada pendidikan di Indonesia adalah kecemasan bukan kemampuan. Sebenarnya para guru kita ini mampu tetapi cemas. Sekarang karena dikondisikan oleh wabah covid-19 sehingga mau tidak mau harus mencoba. Mencoba suatu hal baru memang membutuhkan proses dan waktu. Banyak guru mencoba berinovasi dan mengembangkan kreativitasnya. Ini merupakan sebuah bentuk bagaimana seorang guru melakukan hal yang relevan dengan keadaan siswa tetapi tetap dalam koridor mata pelajaran.

Ilmu pendidikan selalu berkembang seiring dengan lajunya perkembangan pengetahuan dan tehnologi,budaya, maupun tuntutan dan ekspektasi masyarakat.Kuantitas dan kualitas seorang guru akan berimbas pada kualitas peserta didik .Guru harus mengikuti perkembangan (updating skill) pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru harus mempunyai bekal pengetahuan berbagai hal tentang konsep pembaharuan dalam pendidikan, tentang paradigm pembelajaran terkini (Tecnology based, Scientific approach) agar dapat menjadi agent of change ketika menjadi pengajar, pendidik atau pengelola yang inovatif dan motivatif di era Revolusi industry.

Revolusi industry banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, yang secara fundamental telah mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif revolusi industry 4.0 berupa efektifitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan pekerjaan.Era Revolusi industry 4.0 membutuhkan tenaga kerja termasuk guru yang memiliki keterampilan dalam literasi, digital, literasi teknologi, dan literasi manusia.

Menurut Teori Darwin ,”Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling  adaptif dalam merespon perubahan”. Melalui pendidikan terlahir hal-hal kreatif, konstruksi dan inovatif dalam menapaki setiap perkembangan zaman. Keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah ekosistem pendidikan yang harus bersinergi.

Bukan hanya kreativitas dan inovasi pembelajaran online dari guru yang dibutuhkan agar anak belajar dari rumah bisa maksimal, tetapi juga adanya kemandirian siswa dalam belajar. Sebab, system belajar online minim control dan pendampingan dari guru secara langsung. Lewat sedikit arahan dan panduan dari guru, terutama dalam penggunaan aplikasi belajar online, untuk selanjutnya siswa diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar secara mandiri. Di sinilah kemudian peran aktif orang tua dibutuhkan. Orang tua mempunyai kesempatan berharga untuk membangun komunikasi yang intens dengan anak. Orang tua bisa meluangkan waktu menemani anak belajar, juga membangun kreativitas anak lewat berbagai aktivitas bersama yang bermanfaat.

Kreativitas guru dan peran aktif orang tua sanga dibutuhkan dalam mendukung proses anak belajar di rumah. Keduanya mesti membangun kolaborasi demi memaksimalkan kegiatan belajar anak. Kreativitas guru dalam menghadirkan pembelajaran daring yang menarik dan menyenangkan akan sangat menentukan besarnya atensi siswa terhadap kegiatan belajar daring tersebut. Sedangkan pendampingan dan keaktifan orang tua dalam menemani anak akan mementukan sejauh mana kegiatan belajar di rumah akan bermanfaat dan bermakna. Pendiri Kampus Guru Cikal Najeela Shihab menuturkan, penting untuk menciptakan rutinitas bagi anak meski sekolah pun dilakukan dari rumah.

”Anak-anak perlu punya struktur, kapan mengerjakan tugas sekolah, kapan main, kapan nonton TV,” kata Najeela dalam konferensi pers daring Wrdah Inspiring Teacher 2020, belum lama ini.

Menurut Najeela, belajar dari rumah tidak serta merta seperti memindahkan sekolah ke rumah. Contohnya, durasi belajar anak. Jika di sekolah anak diberi waktu lima jam untuk belajar, bukan berarti mereka juga wajib menghabiskan waktu yang sama saat belajar di rumah. ”Perlu fleksibilitas,”kata Najeela.

Sebab, ada kendala yang bisa dihadapi terkait belajar jarak jauh. Misalnya jaringan internet hingga gawai yang dimiliki. Ada kalanya anak harus memakai gawai secara bergantian dengan saudaranya yang juga bersekolah dari rumah. Belajar dari rumah adalah kesempatan bagi anak untuk menumbuhkan kemandirian buah hati dalam mengerjakan tugas-tugas. Biarkan anak mengerjakan tugasnya, bila ada kesulitan, bantu mereka untuk berkomunikasi dengan gurunya. Belajar dari rumah di tengah pandemi adalah kesempatan orang tua untuk menumbuhkan kompetensi anak agar bisa belajar dari mana saja. Saat anak belajar di rumah orang tua berperan sebagai pengajar atau pendamping belajar. Orang tua, baik ayah maupun ibu,perlu berkolaborasi dalam pendampingan dan pengajaran bagi anak, baik di tengah situasi pandemi  maupun normal.

Maya Sita Darlina Psikolog Dompet Dhuafa mengatakan, di tengah COVID-19 Saat ini ada tantangan baru bagi orang tua dalam mendampingi anak belajar dari rumah. Orang tua perlu memiliki strategi untuk menyesuaikan diri dengan konsep belajar dari rumah, selain juga perlunya dukungan sarana belajar yang dapat menunjang proses pembelajaran selama anak belajar dari rumah, misalnya internet. Dengan menyiapkan strategi dan segala sesuatunya, beban tanggung jawab orang tua dapat sedikit berkurang dan tidak akan lebih tertekan karena kemungkinan beban lain.

Selain itu, orang tua juga perlu memahami mekanisme belajar dari rumah yang diterapkan masing-masing sekolah, karena setiap sekolah memiliki peraturan yang berbeda-beda. Orang tua katanya, bersama anak menyepakati tata tertib selama belajar di rumah sehingga mereka bisa diingatkan saat proses belajar tidak sesuai dengan kesepakatan. Misalnya, kapan dimulai, kapan selesai, kapan waktu  istirahat  dan seterusnya,” kata dia.

Selain itu, katanya orang tua juga perlu nelakukan evaluasi secara berkala dan melakukan penyesuaian yang dibutuhkan. Evaluasi perlu dilakukan dengan melibatkan anak sehingga anak bisa menyampaikan perasaannya selama belajar di rumah,  orang tua juga perlu senantiasa berusaha melakukan penyesuaian. **

 

Editor: Cosmas