Bu Tejo Dalam Dunia Pendidikan

Spread the love

Oleh: Mulyani SPd

Pendidik, tinggal di Jatiyoso, Karanganyar, Jawa Tengah

Film pendek dengan judul Tilik dan karakter Bu Tejo sedang viral dan trending di media sosial tanah air beberapa hari terakhir ini. Film pendek dengan durasi kurang lebih 32 menit ini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan warga Twitter. Salah satu karakternya, yaitu Bu Tejo juga menjadi trending topik di Twitter. Sekitar 30,3 ribu cuitan di Twiter membahas karakter Bu Tejo yang menarik perhatian. Kata “Tilik” juga dicuitkan sebanyak 17 ribu kali. Karakter lainnya dalam film Tilik yang masuk dalam trending topik adalah Fikri. Bahkan kata “lambene” yang dalam bahasa Indonesia artinya bibirnya juga telah dicuitkan sebanyak 2.851 kali. Termasuk juga kata solutif yang yang diucapkan Bu Tejo juga ikut viral. Film ini sebenarnya diproduksi tahun 2018 dan baru tayang di channel YouTube Ravanaca Films pada 17 Agustus 2020. Tilik merupakan film yang diproduksi Ravacana Film bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY dan disutradarai Wahyu Agung Pasetyo.
Sinopsis film ini bercerita tentang ibu-ibu yang bergosip di atas truk ketika mau menjenguk Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit. Tilik adalah bahasa Jawa yang artinya menjenguk orang yang sedang sakit. Ibu-ibu di atas truk yang sedang melaju bergunjing tentang Dian yang merupakan seorang kembang desa. Namun Dian digosipkan sebagai perempuan nakal yang senang jalan di mall bersama om-om. Dian juga digosipkan dekat dengan Fikri. Fikri adalah anaknya Bu Lurah yang sedang sakit. Ibu-ibu dalam truk tersebut bergunjing kalau Bu Lurah sakit karena Fikri anaknya dekat dengan perempuan nakal seperti Dian. Gosip khas ibu-ibu ini yang menjadi daya tarik film pendek Tilik. Salah seorang ibu yang paling heboh dan paling piwai ketika sedang bergunjing adalah Bu Tejo. (https://www.harapanrakyat.com).
Kata-kata maupun kalimat karakter Bu Tejo bahkan menjadi bahan meme. Celotehnya yang ikonik juga menjadi quote tersendiri yang menarik untuk dikutip. Karakter Bu Tejo inilah yang menarik perhatian para netizen. Cara berbicaranya yang menyebalkan serta nyinyiran Bu Tejo sangat khas. Layaknya para tetangga maupun teman yang sering turut campur urusan orang lain. Ocehan ibu-ibu dalam truk yang bergunjing dalam perjalanan ke rumah sakit tersebut juga sangat terhubung dengan keadaan saat ini. Film pendek tersebut merefleksikan kehidupan nyata. Dimanapun, dalam lingkungan masyarakat maupun instansi manapun selalu ada sosok Bu Tejo yang dengan mudah dapat kita jumpai.
Pun dalam dunia pendidikan, jika mau jujur pasti ada rekan kerja yang mewakili karakter Bu Tejo di lingkungan kerja kita. Dari atasan yang selalu menyelidiki apa yang kita kerjakan, apa yang terjadi pada kehidupan kita, sampai pada teman kerja yang gemar menggunjing. Teman kerja yang suka mengeluh, sibuk menceritakan bagaimana beban hidupnya, type orang yang merasa dialah yang paling benar, tukang cari muka, tukang penyendiri, tukang gossip dan tukang ikut campur seperti karakter Bu Tejo. Setiap pagi kita akan berangkat ke kantor, kita merasa stress. Bukan karena masalah pekerjaan di kantor tetapi karena membayangkan akan bertemu dengan manusia-manusia di kantor. Tidak bisa dibayangkan jika dalam lingkungan kerja ada tipe manusia seperti itu. Selalu mencari celah untuk menjatuhkan mental dan harga diri rekan kerja lainnya.
Dan yang paling pedas mengalahkan pedasnya saos yang paling pedas sekalipun adalah nyinyiran Bu Tejo jika rekan kerja mengikuti diklat untuk menambah ilmu, membuat artikel pendidikan, maupun membuat penelitian tindakan kelas (PTK) seorang Bu Tejo akan menganggap teman seperti itu orang yang ambisi naik pangkat. Hingga akhirnya rekan kerja tersebut memenuhi syarat untuk kenaikan tingkat, Bu Tejo semakin nyinyir dengan celotehan yang lebih pedas, baik di depan kita langsung maupun bergunjing di belakang layaknya karakter Bu Tejo dalam film pendek Tilik. Saat ada rekan kerja yang begitu-begitu saja, mengajar, mengerjakan administrasi disebut tidak kreatif, kurang lincah. Serba merepotkan jika di kantor kita ada karakter Bu Tejo. Bisa dipastikan suasana tempat kerja menjadi tidak kondusif. Bahkan bukan mustahil hal ini bisa membuat produktifitas di tempat kerja menjadi menurun.
Pun terpaksa di kantor ada sosok seperti itu, mau tidak mau setiap hari kita harus bertemu dengan tipe orang seperti itu, maka cara menghadapinya dengan cara positif. Usahakan untuk mengalihkan pembicaraan atau menghindar dengan cara halus pada saat Bu Tejo mulai nyinyir ataupun bergosip tentang orang lain. Anggap semua nyinyiran kepada kita adalah angin lalu. Hal yang teramat ringan diucapkan tetapi sulit memang menganggap semua nyinyiran seperti angin lalu, tapi toh kita tidak perlu meladeni hal yang tidak perlu dan tidak bermutu seperti itu. Jika kita tidak mampu mengatasinya, maka kurangi ketegangan. Karena setiap hari kita harus tetap bekerja di sekitar orang-orang tersebut. Jadi sebaiknya jangan buat situasi menjadi semakin buruk. Tak perlu pula ikut-ikutan seperti mereka. Atasi masalah dengan tenang dan jangan mudah terpancing. Orang-orang seperti ini biasanya akan meniupkan gosip miring tentang diri kita. Bukan mustahil gosip tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan murahan. Namun jangan pernah merespon negatif. Tetap tenang dan jangan mudah terpancing emosi karena itulah memang yang diinginkan oleh Bu Tejo. Jika memang sesekali kita harus membalas, balaslah dengan cara cantik dan elegan. Tunjukkan apa yang kita lakukan, dilakukan dengan proses, sesuai prosedur dan bermanfaat bagi kemajuan karir kita. Teruslah berkarya dan buktikan bahwa semua prestasi yang diraih adalah karena kerja keras. Dengan begitu, Bu Tejo maupun Pak Tejo akan semakin lihai dalam hal pernyinyiran tanpa ada manfaat bagi kemajuan karirnya. Foto: int

Editor: cosmas