Literasi Pembentuk Karakter ABK yang Unggul

Spread the love

Yuda Dinantoro SPd

SLB Negeri Tarakan

 

Kita sering mendengar Gerakan Literasi Nasional  atau dikenal dengan GLN. GLN sudah ada  sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya  tahun 2016 melalui Kemendikbud.

Pemerintah menggaungkan GLN atau Gerakan literasi nasional  merupakan implementasi dari Permendikbud no. 23 tahun 2015, tentang penumbuhan budi pekerti. Gaung suara gerakan literasi nasional ini pun terdengar jauh sampai ke pelosok negeri, semua jenjang Pendidikan pun berlomba-lomba untuk mengimplementasikan di institusinya masing- masing. Mulai dari tingkat PAUD, sekolah dasar, sekolah menengah dan sampai dengan pendidikan tinggi. Semuanya berlomba-lomba untuk menerapkan Gerakan literasi nasional ini dengan sebaik- baiknya.

Tidak ingin tertinggal, Gerakan Lirasi Nasional ini juga diikuti oleh jenjang pendidikan khusus, yang membawahi Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di seluruh pelosok negeri, Indonesia.

Semua stakeholder pendidikan yakin GLN  mampu menumbuhkan semangat siswa dalam belajar yang lebih berinovatif, bervariatif dan menarik. Selain itu,  meningkatkan kemampuan siswa dalam berliterasi secara umum, tentunya tidak hanya dalam aspek baca dan tulis saja.

Yang lebih penting,  tingkat literasi yang dapat diartikan sebagai sebuah pemahaman dan penalaran terhadap suatu konteks masalah pada tingkat keahlian tertentu. Tentu saja, yang tidak kalah pentingnya ialah penumbuhan karakter pada diri siswa, khususnya pada diri ABK pada Sekolah Luar Biasa (SLB), dimana hal ini menjadi hal yang sangat penting.

Literasi  dapat diartikan sangat luas, salah satu pengertian literasi secara umum  menurut Alberta (2009), yang dikutip dari laman academia.edu memberikan definisi  literasi bukan sekadar kemampuan untuk membaca dan menulis.

Literasi dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks.

Selain itu, melalui literasi mampu berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan, kemampuan literasi tidak hanya dikaitkan membaca dan menulis, melainkan pemahaman, perhitungan, pemecahan tentang suatu konteks masalah.

Dalam dunia Pendidikan sendiri, khususnya dalam bidang pendidikan khusus, literasi sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak berkebutuhan khusus, karena literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan suatu metode atau cara dalam menanamkan karakter yang baik pada diri anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pembentukan karakter sendiri merupakan tujuan dari Pendidikan nasional. Salah satu poin dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, Bab II Pasal 3 menyebutkan  tujuan dari pendidikan nasional adalah untuk  berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jadi, bisa disimpulkan  pendidikan itu tidak hanya membentuk insan manusia yang cerdas, namun juga berkepribadian unggul dan tentunya berkarakter. Pendidikan karakter sendiri terdiri dari beberapa nilai utama, dikutip dari laman kemendikbud.go.id, disebutkan adanya 5 nilai karakter utama dalam pembentukan karakter, yaitu (1) religius, (2) nasionalisme, (3) integritas, (4) kemandirian dan (5) kegotongroyongan.

ABK  merupakan anak dengan karakteristik khusus, yang tentunya dalam proses pembelajaran memerlukan kreatifitas dari guru, agar menarik bagi anak dan tentunya mudah diterima oleh anak. Prinsip- prinsip pembelajaran yang bermakna tetap harus diperoleh dengan tetap memberikan penguatan dalam menanamkan pendidikan karakter pada diri  ABK.

Penanaman karakter ini dapat diperoleh  ABK  melalui kegiatan- kegiatan literasi yang diselenggarakan di sekolahnya. Banyak sekali kegiatan literasi yang dapat digunakan sebagai metode dalam membentuk karakter pada diri ABK, salah satunya adalah kegiatan bercerita atau mendongeng, membaca puisi serta pembuatan mading kelompok.

Diharapkan dengan kegiatan tersebut anak dapat menyerap karakter-karakter baik, antara lain  percaya diri, mampu bekerjasama dengan teman, menghargai perbedaan, disiplin, unggul dan berprestasi, kreatif, mempunyai keberanian, mempunyai tanggung jawab, mempunyai empati kepada sesama teman, suka tolong- menolong dan tentunya dapat bekerja sama dengan baik.

Dalam prosesnya di lapangan, penanaman karakter pada anak diperlukan pendampingan oleh guru, agar nilai- nilai karakter yang ditanamkan kepada diri anak dapat diserap secara baik. Tentunya, penanaman karakter pada diri anak tidak hanya dilakukan satu-dua kali, melainkan secara berkesinambungan melalui kegiatan-kegiatan literasi yang beraneka ragam, agar anak tidak bosan dan jenuh, serta mampu menyerap karakter-karakter baik yang sudah ditanamkan.

Karena bagaimanapun, pendidikan adalah suatu seni untuk membuat insan manusia menjadi berkarakter dan menjadi manusia cerdas, berbudi pekerti luhur serta memiliki karakter yang baik adalah tujuan utama sebuah pendidikan.  Bagaimana pendapat Anda? Foto ilustrasi: google.com

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *