Indonesia Peringkat 5 Pengakses Internet Terbanyak di Dunia, Tapi…

Spread the love

YOGYAKARTA, POSKITA.co – Warganet Indonesia berada di peringkat 5 pengakses internet terbanyak di dunia. Namun, mengapa Indonesia seakan tak pernah berhenti dari banjir hoaks?

“Negara Indonesia merupakan pengakses internet no 5 di dunia. Sayang, setiap hari ada hoaks di medsos, facebook, twitter, hingga grup whatsapp. Di kalangan relawan sampai fasih mengucapkan kalimat ini, ‘Sudah dapat berapa hoaks hari ini?’ Bagimana dengan sumbernya?,” kata Aribowo Sasmito, dari Mafindo, salah satu nara sumber Training of Trainers bertema Membangun Ekosistem Anti Hoaks Siskamling Digital di Era Post- Truth, Kamis, 2 Mei 2019, di sebuah hotel di Yogyakarta.

Mengapa warga Indonesia sangat mudah terpapar hoaks? Hal ini seolah menjawab apa yang telah dilakukan sebuah penelitian Central Connecticut State University di New Britain 2016, yang menyatakan Indonesia berada di peringkat 2 dalam hal literasi di antara 61 negara lainnya, satu tingkat di atas Botswana. Peringkat 2 dari bawah,” kata Aribowo Sasmito yang disambut ger-geran peserta yang hadir.

Lalu, apa artinya ini?

“Artinya, ada banyak orang Indonesia berkerumun di internet, lebih dari separuh populasi, dan terpapar oleh beragam informasi, tanpa kemampuan literacy yang memadai,” ujar Aribowo.

Aribowo kemudian berbicara lebih banyak tentang berbagai hoaks yang terjadi di Indonesia, dikupas tuntas.

Pembicara ke-2 menghadirkan Jumrana dari Mafindo Yogyakarta, mengambil tema Hoaks di Tengah Tahun Politik.

Lalu, apa dampak hoaks politik dan polarisasi di negeri ini?

“Pertama, hilangnya trust, kepercayaan. Kedua, perpecahan di masyarakat. Ketiga, konflik sosial dan keempat melemahnya literasi digital masyarakat,” kata Jumrana.

Menurutnya, pilpres kali ini benar-benar melelahkan karena Indonesia bak banjir hoaks, khususnya hoaks politik saat pemilu 2019. Ia pun berbagi tips agar polarisasi dapat diminimalisir.

“Elit politik berhenti mengeksploitasi politik identitas dan bijakana dalam mengeluarkan pernyataan di media. Publik tidak terus-menerus saling menebar kabar bohong dan ujaran kebencian lewat media social,” ucap Jumrana.

Jumrana berpesan kepada masyarakat, agar bijaksana menggunakan medsos. Membaca, berpikir sebelum share informasi. Menjadi WNI yang baik, tidak ikut menyebar hoaks. Menggunakan media sosial untuk membangun relasi, membangun bisnis.

Ketua Panitia Boni Soehakso menuturkan digelarnya Training of Trainers karena adanya banjir hoaks melalui layar gawai. Banjir hoaks dapat menggerus kewarasan nalar.

“Di era digital, warganet menghadapi banjir informasi di mana tidak seluruh informasi benar. Hoax, fitnah, dan hasutan merangsek lewat layar gawai dalam genggaman warganet, menggerus kewarasan nalar. Fenomena ini membawa daya rusak yang mustahil disekat-dibatasi di ranah daring (online) saja namun juga melanda ranah luring (offline). Jangkauannya tak berbatas usia, tak berbatas riwayat pendidikan, tak berbatas sektor kehidupan, pun tak berbatas identitas suku, profesi, gender, atau agama,” ujar Boni.

Untuk itulah, Mafindo hadir menyumbang upaya untuk menjaga kewarasan khalayak dengan literasi digital di tahun politik, pemeriksaan fakta (fact checking) dan penyebaran hasilnya di kanal-kanal Mafindo, serta pengembangan piranti lunak, Hoax Buster Tools, yang telah diluncurkan di Rakernas I Mafindo, 10 Februari 2018, dan sudah tersedia bagi pengguna Android.

Koordinator Mafindo Yogyakarta, Ade Intan Christian, menjelaskan tentang tujuan ToT untuk mencegah dan melawan penyebaran hoaks, fitnah dan hasutan.

“Mafindo perlu menguatkan pengetahuan dan ketrampilan lebih banyak relawannya untuk menjadi pendidik sebaya yang siaga mengkampanyekan pengetahuan-ketrampilan menguji kesahihan informasi kepada beragam audiens. Dengan latar belakang tersebut, Mafindo chapter Yogyakarta menyelenggarakan ToT untuk para relawan,” ujar Ade Intan Christian.

Lebih lanjut dijelaskan Ade Intan, tujuan ToT ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan relawan Mafindo tentang etika komunikasi dan verifikasi informasi dalam konteks daring dan luring, inti kerja verifikasi informasi, dan teknik presentasi yang inklusif-efektif-efisien.

Hadir dalam ToT di antaranya dari para pemangku kepentingan atau stakeholder, mahasiswa, dan berbagai komunitas masyarakat. Mereka di antaranya relawan MAFINDO wilayah Soloraya, relawan MAFINDO wilayah Magelang, relawan MAFINDO wilayah Purworejo, Lembaga Eksekutif Mahasiswa, Lembaga Pers Mahasiswa, media, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta serta Komunitas literasi media se-DIY. (COSMAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *