Cari Bibit Baru Pebulutangkis Junior, PMS Solo Gelar Audisi

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Ajang pencarian bibit baru bulutangkis kembali di gelar Persatuan Bulu Tangkis ‘PMS’ Surakarta (PB PMS Surakarta). Dalam audisi nanti, pebulutangkis Junior yang dibidik PB PMS ini, sebanyak 24 orang.

Dalam ajang pencarian bibit baru, PB PMS tak diragukan lagi. Terbukti beberapa atlit bulu tangkis juniornya lolos masuk babak lanjutan dalam audisi PB Djarum yang digelar di Karanganyar, yakni Moamar Khadafi, Muhammad Rizki Mubarok, dan Fio Pratama.

Koordinator divisi bulu tangkis Pono Budi Sutrisno mengatakan nantinya, bibit baru pebulutangkis hasil audisi yang digelar di GOR PMS Solo pada 16 – 17 September 2017 akan di dilatih secara profesional oleh tim dari PB PMS. Selama ini sudah banyak atlit besar yang berasal dari sini seperti Sigit Budiarto, Luluk Hadiyanto yang merupakan alumni PB PMS

“Kita ingin lahirkan atlit berprestasi lain sebagai penerus tongkat estafet bagi dunia bulu tangkis,” jelas Pono Budi Sutrisno, Rabu (13/9/2017).

Sementara itu Ketua PB PMS Surakarta Tanty Willyawati sampaikan dalam audisi yang digelar kali ini terbuka untuk umum. Dan dibagi dua kelompok yakni kelompok umur (KU) 11 dan KU 13 tahun.

“Jika dalam pelatihan kami, ada bibit yang berprestasi dan miliki potensi besar akan kita salurkan pada klub bulu tangkis yang lebih besar,” ucap Tanty.

Dalam kesempatan yang sama ketua pelatih PB PMS, mengatakan para peserta akan menjalani screening atau tahap awal seleksi oleh tim pemandu bakat dan pelatih untuk mengetahui permainan para peserta audisi.

Mereka, lanjut Darmawan setidaknya harus memiliki dasar dan mengetahui bagaimana cara dalam bermain bulutangkis yang benar.

“Tahap awal ini peserta dalam menyajikan bagaimana teknik dasar dalam bermain bulutangkis itu seperti apa,” kata Darmawan

Tahapan screening ini peserta hanya diberi waktu lima menit saja, dan itu dirasa sudah cukup bagi pelatih maupun tim pemandu bakat.

“Lolos atau tidaknya bukan dari hasil menang atau kalahnya dalam permainan. Tolak ukurnya adalah teknik dan daya juang peserta,” pungkasnya.(Uky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *