Musim Kemarau Datang, Warga Dukuh Tugurejo Wiro Bayat Menangis Kekurangan Air
Keterangan Foto: Sumadi selaku Ketua RW 02 Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, memantau droping air bersih dari para relawan yang dialirkan di penampungan air terbuat dari terpal di RW 02, Jumat (18/9/2026) petang.
KLATEN, POSKITA.co – Sudah menjadi ujian tahunan, setiap musim kemarau Dukuh Tugurejo, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, mengalami kekeringan atau krisis air bersih. Setidaknya ada 160 kepala keluarga (KK) atau sekitar 500 warga yang tinggal di Dukuh Tugurejo kesulitan air bersih.
Hal ini dikatakan Sumadi, Ketua RW 02 Tugurejo, Desa Wiro, saat ditemui redaksi di rumahnya, Jumat (18/9/2026) siang. Untuk krisis air bersih ini sudah dialami sekitar 1,5-2 bulanan. Dan kemungkinan sampai musim hujan tiba, warga Tugurejo sangat membutuhkan uluran tangan atau bantuan.
“Salah satu penyebab warga Tugurejo ini krisis air bersih karena debit tiga sumur Pamsimas turun drastis. Dan warga hanya mengandalkan air bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk konsumsi,” jelas Sumadi.
Dijelaskan jumlah total warga di wilayah Tugurejo mencapai 160 keluarga atau sekitar 500 jiwa yang tinggal di tiga RT. Warga di satu wilayah RW itu mengalami kesulitan air bersih selama satu-dua bulan terakhir.
Untuk persediaan air bersih memang tidak seperti tahun yang dulu, ini lebih parah karena sumber airnya menggunakan Pamsimas, tetapi kondisi debitnya sudah kurang, tidak mencukupi.
“Terkait kekurangan air bersih ini kami sudah konsultasi dengan Pak Sinto selaku Kepala Desa dan sepertinya berkepanjangan sampai musim hujan datang. Solusinya, kami diberikan bantuan air bersih,” jelas Sumadi yang pekan ini mantu.
Bagi warga atau relawan yang ingin membantu, warga Tugurejo menyiapkan sekitar 7 bak air dari terpal. Terpal dadakan ini bisa menampung air bersih sekitar 3-4 ribu liter. Dan warga harus mengambil air menggunakan ember maupun galon ke beberapa titik yang sudah dikoordinasikan RW 02.
Salah satu warga, Ibu Juminten (76 th), menyatakan, selama krisis air bersih ini, warga hanya mengandalkan sumur Pamsimas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, sekitar 1,5 bulan terakhir, aliran air Pamsimas menurun drastis.
“Sumbernya habis, tinggal sedikit dibagi banyak orang. Alirannya dibuat bergilir dengan giliran setiap tiga hari sekali dan biasanya air tersebut untuk minum dan mandi saja. Air Pamsimas hanya mampu mengalir sekitar 2-3 jam, sebab debitnya kecil,” jelas Juminten.
Sumadi menambahkan, bantuan air bersih datang dari berbagai pihak, antara lain dari BPBD Klaten, PMI Klaten, serta pihak swasta maupun individu. Dan dikatakan, jika ada perbaikan sumur-sumur Pamsimas itu, untuk pemenuhan air bersih tetap masih kurang.
Untuk itu, jelas Sumadi, warga Tugurejo Wiro mengharapkan solusinya yang bagus supaya di musim kemarau yang diprediksi sampai Desember ini, kebutuhan air warga tetap tercukupi. Terpal penampungan air bersih dapat memudahkan warga mengambilnya.

Untuk mencuci, warga membawa pakaian yang hendak dibersihkan ke sendang Ngruweng terdekat. Ada satu sendang terdekat yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Selain itu, warga mencuci ke wilayah Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk.
Dikabarkan, mayoritas warga Tugurejo ini bekerja merantau ke luar kota, di antaranya sebagai pedagang es puter. Kebanyakan warga yang sehari-hari tinggal di kampung tersebut merupakan kaum perempuan, lansia, serta anak-anak.
Untuk bantuan air bersih yang diambil dari Umbul Bethek dari jasa pengiriman air bersih yang beralamat di Desa Manjung, Kecamatan Ngawen ini, tangki air bersih bisa memuat 8 ribu liter. Dulu biasanya warga bawa jrigen dan antre ambil air bersih dan sekarang cukup buka kran pipa rumah sudah teraliri dengan system tandon Pamsimas.
Biasanya untuk biaya transport jasa droping pengiriman air bersih sekitar Rp500 ribu untuk wilayah di atas atau lereng Gunung Merapi (Kemalang) dan Rp350 ribu untuk wilayah selain lereng Gunung Merapi, seperti ke Trucuk, Bayat, Cawas, Karangdowo dan lainnya. (Hakim)

