Klaten

PPGMK Gelar Pelatihan Menulis Buku ISBN di Kampus Unwidha, Satu Guru Satu Buku Satu Warisan

Keterangan Foto: Ketua PPGMKM Moch. Shidiq dampingi Kepala Inspektorat Kabupaten Klaten Agus Suprapto, SSos MSi, juga Prof. Dr. Drs. H. Dwi Bambang Putut Setiyadi, MHum (Dekan FKIP Unwidha Klaten), dan Budi Wahyono, SPd MPd, di acara menarik ini.

KLATEN, POSKITA.co – Setidaknya ada puluhan guru SD, SMP maupun SMK/SMA mengikuti acara pelatihan menulis buku ber-ISBN di salah satu ruang kuliah Pascasarjana Universitas Widya Dharma (Unwidha) Klaten, Sabtu (22/8/2026) pagi. Acara ini dikemas oleh Pusat Pelatihan Guru Menulis Klaten (PPGMK) di bawah koordinasi Drs. Moch. Shidiq, MPd.

Hadir dalam acara pelatihan menulis buku ber-ISBN antara lain Kepala Inspektorat Kabupaten Klaten Agus Suprapto, SSos MSi, juga Prof. Dr. Drs. H. Dwi Bambang Putut Setiyadi, MHum (Dekan FKIP Unwidha Klaten), Budi Wahyono, SPd MPd, segenap pengurus PPGMK dan lainnya.

“Alhamdulillah, acara pelatihan menulis buku ber-ISBN kali ini ada 31 guru yang dinas sebagai guru SD, SMP maupun SMA/SMK. Salah satu harapan kami adalah bagaimana guru bisa produktif dalam menulis, terbiasa atau membiasakan berkarya dengan menulis buku. Istilahnya kita wujudkan satu guru satu buku dan satu warisan,” jelas Moch. Shidiq.

Dalam kesehariannya, guru memang tak sekedar hanya mengajar, atau mendidik siswa, akan tetapi seorang guru juga berkarya. Dan salah satu komitmen guru bisa berkarya adalah bisa mengaktualisasikan diri menjadi seorang penulis buku yang produktif. Istlah lainnya, one teacher one book. PPGMK, ungkap Shidiq, hadir untuk mewujudkan impian tersebut.

Sementara itu, Kepala Inspektorat Klaten Agus Suprapto yang juga menjadi Pembina PPGMK mengharapkan, para guru juga bisa menulis tentang ide-ide atau wawasan seputar pariwara antikorupsi. Semakin banyak buku terkait antikorupsi, setidaknya bisa memberi motivasi bagi semua pihak dalam bersama-sama mencegah sedini mungkin tindak korupsi.

Para peserta pelatihan menulis buku ISBN tetap semangat jalani proses yang ada. Mereka ingin menjadi penulis buku yang hebat dan produktif.

“Inspektorat Kabupaten Klaten tetap akan dorong bagaimana para guru ini bisa menulis buku ber-ISBN, baik berisi pengalaman atau hal-hal yang actual. Harapan kami juga bisa menulis atau berkarya menulis yang isinya terkait pariwara antikorupsi. Karena korupsi di negeri ini sudah memprihatinkan dan harus kita cegah sedini mungkin lewat tulisan di buku,” pesan Agus Suprapto mantap.

Secara singkat, Prof. Dr. Dwi Bambang Putut Setiyadi juga sependapat dengan Agus Suprapto. Para guru yang ikut pelatihan menulis ini bisa memanfaatkan peluang yang ada dan serius sebagai seorang penulis buku yang aktual dan menarik sesuai pengalaman atau wawasan yang ada.

“Program satu guru satu hendaknya jangan kita maknai hanya sebagai target untuk menghasilkan sebuah buku dan mendapatkan ISBN. Jangan sampai ISBN menjadi tujuan akhir,” harap Putut Setiyadi. (Hakim)