Dari Karangmojo, Api Semangat Pramuka Itu Menyala
Jamran Kwartir Ranting Tasikmadu: Ketika Tunas Muda Belajar Mandiri, Bersaudara, dan Mengabdi
oleh: Marjito,S.Pd.,M.Pd.
Ketua Kwartir Ranting Gerakan Pamuka
Kecamatan Tasikmadu
Lapangan Desa Karangmojo, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, pada 13–14 Agustus 2026, berubah menjadi ruang belajar yang berbeda. Bukan ruang kelas dengan papan tulis dan bangku-bangku sekolah, melainkan hamparan lapangan tempat para anggota Pramuka belajar tentang kehidupan melalui kebersamaan, kedisiplinan, kemandirian, dan pengabdian.
Di tempat inilah Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Tasikmadu menggelar rangkaian Perkemahan Hari Pramuka ke-65, yang menjadi bagian penting dari semangat kegiatan Jambore Ranting (Jamran) Kwartir Ranting Tasikmadu. Pilihan Lapangan Desa Karangmojo sebagai lokasi kegiatan bukan sekadar persoalan tempat. Di ruang terbuka inilah nilai-nilai kepramukaan menemukan bentuknya yang paling nyata: hidup sederhana, bekerja bersama, saling membantu, dan belajar bertanggung jawab atas diri sendiri maupun kelompok. Rangkaian kegiatan secara resmi dijadwalkan dimulai pada Kamis, 13 Agustus 2026, melalui berbagai agenda kepramukaan hingga puncaknya pada Upacara Hari Pramuka ke-65 pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Hari Pertama: Dari Disiplin Pagi hingga Tantangan di Lapangan
Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika aktivitas mulai bergerak. Hari diawali dengan ibadah. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan aktivitas pagi dan persiapan peserta untuk memasuki rangkaian utama perkemahan. Suasana Lapangan Desa Karangmojo perlahan berubah. Seragam Pramuka, tenda, barisan peserta, dan berbagai aktivitas menjadi warna tersendiri. Semangat yang dibangun bukan semata-mata untuk menyelesaikan agenda, tetapi untuk menanamkan pengalaman yang kelak menjadi kenangan.
Registrasi dan persiapan upacara menjadi tahapan awal sebelum seluruh peserta mengikuti Upacara Pembukaan Perkemahan Hari Pramuka ke-65 Kwartir Ranting Tasikmadu. Dalam surat undangan resmi, upacara pembukaan dijadwalkan pada Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB di Lapangan Desa Karangmojo. Kegiatan tersebut diikuti dan didukung unsur Forkompinca, Korwilcam Bidang Pendidikan, Puskesmas, UPT terkait, pemerintah desa, pengurus Kwartir Ranting, Kamabigus, Dewan Kerja Ranting (DKR) serta pembina satuan pendidikan se-Kecamatan Tasikmadu.
Setelah upacara pembukaan, semangat peserta tidak berhenti pada seremoni. Kegiatan dilanjutkan dengan pioneering, salah satu aktivitas khas Pramuka yang mengajarkan ketelitian, keterampilan, kreativitas, kerja sama, sekaligus kemampuan memecahkan persoalan secara bersama-sama. Tali-temali yang mungkin terlihat sederhana sesungguhnya menyimpan pelajaran besar: bahwa sebuah karya tidak akan berdiri kokoh tanpa simpul yang kuat. Begitu pula sebuah organisasi dan kehidupan Bersama memerlukan ikatan, kepercayaan, dan kerja sama.
Dilain sisi, setelah upacara pembukaan Jamran Kwartir Ranting Tasikmadu juga diadakan kegiatan ziarah ke makam para tokoh Pramuka Tasikmadu. Sebanyak empat lokasi makam tokoh Pramuka menjadi tujuan ziarah yang diikuti oleh Ketua Korwilcam Bidang Pendidikan Tasikmadu, beberapa Kamabigus, serta panitia Seksi Ziarah Jamran. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi mengenang mereka yang telah berjasa, melainkan wujud penghormatan atas dedikasi dan pengabdian para pendahulu dalam membesarkan Gerakan Pramuka di Tasikmadu. Di hadapan pusara para tokoh tersebut, peserta diajak merefleksikan bahwa semangat kepramukaan tidak lahir begitu saja, tetapi dibangun melalui perjuangan, keteladanan, dan pengabdian yang panjang. Dengan ziarah ini, diharapkan tumbuh tekad untuk melanjutkan cita-cita serta semangat pengabdian para tokoh Pramuka, sehingga nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.

Menjelajah, Bergerak, dan Bertumbuh Bersama
Memasuki siang hingga sore, kegiatan berlanjut dengan aktivitas hiking dan senam sesuai pembagian kegiatan peserta. Di sinilah lapangan dan lingkungan sekitar menjadi laboratorium kehidupan. Peserta tidak hanya dituntut bergerak secara fisik, tetapi juga belajar membaca situasi, menjaga kekompakan, membangun komunikasi, serta menyelesaikan tantangan bersama. Pramuka memang bukan sekadar tentang seragam cokelat, setangan leher, atau barisan yang rapi. Pramuka adalah tentang proses menjadi manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan.
Sore hari, setelah seluruh aktivitas, peserta kembali mempersiapkan diri untuk memasuki suasana yang berbeda. Apel sore menjadi jembatan menuju salah satu momen yang paling dinantikan dalam sebuah perkemahan: api unggun.
Ketika Api Unggun Menyatukan Hati
Malam mulai turun di Karangmojo. Di tengah suasana malam perkemahan, nyala api unggun menjadi simbol yang jauh lebih besar daripada sekadar cahaya di tengah kegelapan. Ia adalah simbol semangat, persaudaraan, dan harapan, sekaligus pengingat bahwa dalam kehidupan manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Dalam upacara api unggun tersebut, selaku pembina adalah Kakwaran Tasikmadu. Dalam amanatnya, menyampaikan tiga pesan penting kepada seluruh peserta, yaitu agar selalu menjaga kesehatan, menjaga kebersihan, serta membangun pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Pesan tersebut menjadi penguatan bahwa nilai-nilai kepramukaan tidak hanya dipelajari selama perkemahan, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Renungan dan Ulang Janji Hari Pramuka ke-65.
Suasana malam di Tasikmadu perlahan berubah menjadi hening. Riuh tawa dan semangat perlombaan yang mewarnai sepanjang hari berganti dengan langkah-langkah tenang menuju Aula Balaidesa Karangmojo. Di bawah langit malam, cahaya obor dan keheningan menghadirkan suasana yang mengajak setiap insan Pramuka menundukkan hati, menatap kembali perjalanan pengabdiannya. Inilah puncak perenungan, ketika setiap anggota Pramuka diajak bukan hanya mengingat janji yang pernah diucapkan, tetapi juga menguji sejauh mana janji itu telah hidup dalam sikap, tindakan, dan pengabdiannya.
Upacara Renungan dan Ulang Janji dipimpin oleh Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Kamabiran) Gerakan Pramuka Tasikmadu, Camat Tasikmadu, Ibu Sri Wahyuningsih, S.H., M.M. Dengan penuh khidmat beliau memimpin jalannya upacara yang menjadi salah satu momen paling sakral dalam rangkaian Perkemahan Hari Pramuka ke-65. Dalam suasana yang sunyi dan penuh penghayatan, setiap peserta diajak menyadari bahwa menjadi Pramuka bukan sekadar mengenakan seragam atau mengikuti kegiatan kepramukaan, melainkan sebuah komitmen untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berintegritas, dan siap mengabdikan diri kepada sesama.
Sebelum memasuki prosesi utama, peserta terlebih dahulu mengikuti sarasehan yang dipandu oleh Ketua Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Tasikmadu. Pada kesempatan tersebut beliau menguraikan makna mendalam dari kata renungan, ulang, dan janji. Menurutnya, ulang bukanlah sekadar mengucapkan kembali kalimat yang telah dihafal, melainkan menghidupkan kembali kesadaran terhadap komitmen yang pernah diikrarkan. Adapun janji adalah ikatan moral yang menuntut kesetiaan, keberanian, dan tanggung jawab untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Tri Satya dan Dasa Darma tersimpan janji-janji luhur yang menjadi arah hidup setiap anggota Pramuka dalam mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa, negara, masyarakat, dan sesama manusia.
Untuk memperdalam makna tersebut, Kakwaran Tasikmadu mengutip asas hukum dari bahasa Latin, Pacta sunt servanda_“janji harus ditepati.” Sebuah kalimat yang sederhana, namun mengandung pesan universal bahwa kehormatan seseorang terletak pada kesungguhannya memegang dan melaksanakan janji. Beliau menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang mampu menepati janjinya apabila ia tidak pernah lagi mengingat dan merenungkannya. Oleh karena itu, kegiatan Renungan dan Ulang Janji bukanlah sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang untuk menyegarkan kembali ingatan, memperbarui komitmen, dan meneguhkan tekad agar setiap butir Tri Satya dan Dasa Darma tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi benar-benar menjelma menjadi karakter dan pedoman hidup.
Jumat Pagi: Ketika Semangat Itu Kembali Dikibarkan
Fajar Jumat, 14 Agustus 2026, menyambut peserta dengan semangat baru. Hari kedua kembali diawali dengan ibadah dan aktivitas pagi. Setelah itu, peserta mengikuti apel serta kegiatan kebersihan lingkungan. Kebiasaan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan bagian penting dari pendidikan karakter: belajar menjaga lingkungan, menghargai tempat bersama, dan bertanggung jawab terhadap apa yang digunakan.
Menjelang pukul 08.00 WIB, suasana Lapangan Desa Karangmojo kembali berubah. Barisan peserta tersusun rapi, seragam dikenakan dengan penuh kebanggaan, dan setiap atribut dipastikan terpasang sempurna. Embun pagi yang belum sepenuhnya sirna seolah menjadi saksi hadirnya semangat baru yang memenuhi lapangan. Hari itu bukan sekadar penutup rangkaian perkemahan, melainkan momentum yang sarat makna: peringatan Hari Pramuka ke-65. Upacara yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026 tersebut menjadi titik temu seluruh insan Pramuka dalam meneguhkan kembali komitmen untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara.
Bertindak sebagai pembina upacara adalah Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Kamabiran) Gerakan Pramuka Tasikmadu, Ibu Sri Wahyuningsih, S.H., M.M. Dalam amanatnya, beliau juga menyampaikan sambutan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Budi Waseso, yang menegaskan bahwa Gerakan Pramuka harus terus menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi muda Indonesia yang berkarakter, berintegritas, berjiwa Pancasila, serta memiliki kepedulian sosial dan semangat pengabdian. Di tengah berbagai tantangan zaman, Pramuka diharapkan mampu melahirkan insan-insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan siap mengambil peran sebagai pemimpin masa depan.
Usai pelaksanaan upacara, suasana khidmat beralih menjadi penuh semarak melalui penampilan seni yang memukau. Atraksi pencak silat dari Persinas ASAD yang dibawakan oleh peserta didik SMP Al AmanahdanSMA Al Amanah menampilkan perpaduan ketangkasan, kedisiplinan, dan nilai-nilai luhur bela diri yang selaras dengan semangat kepramukaan. Penampilan tersebut kemudian disusul oleh atraksi Semaphore Dancedari MIN 1 Karanganyar, yang memadukan kreativitas gerak dengan keterampilan komunikasi khas Pramuka.
Tepuk tangan dan apresiasi dari seluruh peserta menjadi bukti bahwa semangat berkarya, berprestasi, dan melestarikan budaya tumbuh subur di tengah generasi muda. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada para juara berbagai mata kegiatan dan perlombaan dalam Jambore Ranting Kwartir Ranting Tasikmadu sebagai bentuk penghargaan atas usaha, kerja sama, sportivitas, dan dedikasi yang telah ditunjukkan selama perkemahan. Penyerahan penghargaan tersebut sekaligus menjadi penutup resmi seluruh rangkaian kegiatan Jamran Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Tasikmadu, meninggalkan kenangan, persaudaraan, dan semangat pengabdian yang diharapkan terus menyala di hati setiap peserta, jauh setelah tenda dibongkar dan lapangan kembali lengang.
Karangmojo Menjadi Saksi
Dua hari di Lapangan Desa Karangmojo mungkin hanya akan menjadi dua lembar dalam kalender. Tetapi bagi mereka yang mengikutinya, ia bisa menjadi halaman penting dalam perjalanan hidup. Di Karangmojo, anak-anak belajar mendirikan simpul dan ikatan. Mereka belajar berjalan bersama. Mereka belajar menjaga lingkungan. Mereka belajar disiplin. Mereka belajar menghormati sesama. Dan pada malam yang hening, mereka belajar menundukkan hati di hadapan sebuah janji. Pramuka mengajarkan bagaimana menyalakan api semangat di dalam diri. Api yang membuat seorang anak berani bermimpi. Api yang membuat seorang remaja berani mengambil tanggung jawab. Dan api yang kelak diharapkan menjadikan mereka manusia yang siap mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Dari Tasikmadu, api itu dijaga.
Perkemahan Hari Pramuka ke-65 Kwartir Ranting Tasikmadu akhirnya menjadi lebih dari sekadar rangkaian kegiatan. Ia adalah sebuah pesan. Bahwa pendidikan karakter membutuhkan pengalaman. Bahwa persaudaraan membutuhkan perjumpaan. Bahwa kepemimpinan membutuhkan latihan. Dan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi kuat dalam karakter, tangguh menghadapi tantangan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Dari Lapangan Desa Karangmojo, semangat itu dinyalakan. Dan semoga dari tangan-tangan kecil para Pramuka hari ini, kelak lahir tangan-tangan besar yang mampu menjaga Indonesia.
Salam Pramuka!
Editor: Cosmas

