Kalmapita ’92 Tutup Masa Bakti dengan Workshop UMKM: Membangun Semangat Bangkit, Bertumbuh, dan Berdaya
Paparan materi dari Ketua Maliyana Nur Wijayanti, S.Pd., M.M, Ketua Komite Tetap UMKM, Kewirausahaan, dan Koperasi KADIN Kota Surakarta di depan peserta ,lokasi Meet Room De Mbakoe Resto, 23/7/2026
SOLO, POSKITA.co – Menjelang berakhirnya masa kepengurusan Keluarga Alumni SMA Negeri 7 Surakarta Angkatan 1992 (Kalmapita ’92) periode Agustus 2025–Juli 2026, menutup rangkaian program kerjanya dengan menghadirkan Workshop UMKM bertema “Kuliner Berjaya dari Usaha Rumahan: Mengubah Resep Menjadi Rezeki” yang diselenggarakan di Meet Room De Mbakoe Resto, Kamis (23/7/2026).
Workshop ini menjadi simbol arah baru yang ingin diwariskan Kabinet Lestari, yakni menjadikan organisasi alumni tidak hanya sebagai ruang silaturahmi, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan ekonomi, kolaborasi, dan pengembangan kapasitas anggotanya. Kegiatan tersebut diikuti oleh alumni Kalmapita ’92, pelaku UMKM, serta mahasiswa dari Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret, dan ITB AAS Surakarta.
Ketua Umum Kalmapita ’92, Iriana Indrawati Senin (27/7/2026) mengatakan bahwa penutupan masa kepengurusan melalui workshop UMKM bukanlah sebuah kebetulan. Menurutnya, tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini membutuhkan ruang belajar, berbagi pengalaman, dan kolaborasi yang dapat membuka peluang usaha baru.
“Kami ingin meninggalkan warisan yang dapat terus bertumbuh. Persaudaraan alumni akan semakin bermakna apabila mampu saling menguatkan, membuka jejaring, dan menciptakan kemandirian ekonomi bersama. Karena itu, workshop ini kami pilih sebagai penutup perjalanan Kabinet Lestari,” ujar Iriana Indrawati.
UMKM Harus Naik Kelas
Pada sesi pertama, Maliyana Nur Wijayanti, S.Pd., M.M, Ketua Komite Tetap UMKM, Kewirausahaan, dan Koperasi KADIN Kota Surakarta, mengajak para pelaku usaha untuk mengubah pola pikir dari sekadar berdagang menjadi membangun bisnis yang berkelanjutan.
Menurutnya, agar mampu bersaing di tengah perubahan pasar, UMKM harus naik kelas dengan memperkuat kualitas produk, membangun identitas merek (branding), memahami perilaku konsumen, memanfaatkan pemasaran digital, serta menerapkan pengelolaan usaha yang profesional.
“Inovasi, pencatatan keuangan yang baik, legalitas usaha, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi fondasi penting bagi UMKM agar mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing. Usaha yang bertahan bukan selalu yang paling besar, tetapi yang paling siap beradaptasi dan terus belajar,” kata Maliyana Nur Wijayanti kepada peserta.
Bangkit dari Kegagalan, Bertahan karena Pelanggan
Sesi berikutnya menghadirkan pasangan pengusaha kuliner Lorida Ratna Sari dan Togaryan Anantyo S., pendiri Rumah Makan Sereh Ketumbar, yang membagikan perjalanan mereka membangun usaha dari dapur rumah hingga berkembang menjadi bisnis kuliner yang dikenal masyarakat.

Owner RM Sereh Ketumbar memberikan paparan usaha kuliner rumahan di Workshop UMKM Kalmapita ’92 (23/7/26)
Mereka mengisahkan bahwa perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan, termasuk kegagalan, penurunan penjualan, hingga keterbatasan modal pernah mereka alami. Namun, setiap kegagalan justru dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas produk, pelayanan, dan strategi usaha.
Bagi keduanya, pelanggan bukan sekadar pembeli, melainkan mitra yang harus dijaga kepercayaannya. Konsistensi rasa, pelayanan yang tulus, kemampuan menerima kritik, serta keberanian untuk terus berinovasi menjadi kunci agar usaha tetap bertahan dan berkembang.
Melalui kisah tersebut, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan sebuah usaha lahir dari ketekunan, daya juang, dan kemauan untuk bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.
Organisasi Alumni yang Memberdayakan
Workshop UMKM menjadi penutup rangkaian program Kabinet Lestari setelah selama satu tahun menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari Alumni Mengajar , kampanye #SafeSpaceForAll, Rapat Akbar Kalmapita, Gerakan Berbagi 2.000 Takjil Ramadan bersama TNI dan Polri, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya.
Bagi Kalmapita ’92, seluruh program tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu mengubah semangat persaudaraan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi alumni, almamater, dan masyarakat.
Menutup masa baktinya, Iriana menyampaikan harapannya agar semangat yang telah dibangun tidak berhenti pada pergantian kepengurusan.
“Teruslah mengabdi tanpa menunggu dihargai. Sebab manfaat bagi sesama adalah warisan bernilai sepanjang masa.”
Melalui Workshop UMKM ini, Kalmapita ’92 ingin meninggalkan pesan bahwa organisasi alumni dapat menjadi ruang belajar, bertumbuh, dan saling memberdayakan. Estafet kepengurusan berikutnya diharapkan mampu melanjutkan semangat tersebut, sehingga Kalmapita tidak hanya dikenang karena nostalgia, tetapi juga karena karya, kolaborasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Gunharjo

