Geger Resto Unggah di Medsos, Mahasiswi Dipermalukan Gegara Belum Bayar Makanan
Asri Purwanti SH, MH, CIL, CPM mewakili kliennya mengadukan salah satu resto di Polresta Surakarta, pada Jumat (9/10) dalam perkara dugaan pencemaran nama baik dan UU ITE. (foto dokumentasi)
SOLO, POSKITA.co – Media sosial jika tak dimanfaatkan dengan benar berujung fatal.
Belum membayar makan di restoran, seorang mahasiswi dipermalukan di media sosial (medsos).
Kejadian ini dialami seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi terkenal di Solo berinisial HN (20).
Putri salah satu pengusaha sukses itu diviralkan di medsos milik restoran tersebut.
Buntut kasus ini, WN (53) yakni ibu dari mahasiswi yang merasa dipermalukan didampingi kuasa hukumnya, Asri Purwanti SH, MH, CIL, CPM mengadu ke Polresta Surakarta dalam perkara dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan pencemaran nama baik, pada Jumat (9/10).
Sebab HN tidak bisa menerima setelah kedatangannya hingga keluar dari resto terekam melalui CCTV lalu dipublish di medsos. Bahkan pihak resto juga mengunggah tampilan mobil mewah terbaru yang ditumpangi mahasiswi tersebut di Instagram.
HN dan ibunya berinisial WN menyesalkan kejadian tersebut yang seharusnya pihak restoran menghubungi mereka terlebih dahulu sebelum mengunggah konten yang dibuat pihak resto ke media sosial.
Namun begitu dikonfirmasi, manajemen restoran menyatakan telah mengingatkan pelanggan bahwa tagihan belum dibayar dan mengunggah konten setelah tidak mendapat respons.
Kejadian ini ada dua versi yang berbeda. Pihak pengadu yang diwakili Asri Purwanti mengatakan, HN merupakan pelanggan yang sudah beberapa kali datang ke restoran tersebut. Bahkan, menurut dia, HN pernah merayakan ulang tahun bersama teman-temannya di tempat itu.
Asri Purwanti yang dikenal sebagai Ketua DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jateng meyakini pihak resto menyimpan nomor ponsel kliennya, namun tanpa menghubungi lebih dahulu, kemudian masalah tersebut diapload di medsos.
Asri Purwanti menyayangkan kejadian tersebut, terlebih tagihan makan dan minum yang dipesan WN bersama ibunya 2 menu dan 2 minum seharga Rp 530.200.
Asri menjelaskan, peristiwa bermula ketika HN dan ibunya sepakat bertemu di resto, namun kedatangan mereka tidak secara bersamaan.
Setelah makan, ibunya HN yakni WN pulang lebih dahulu karena ada keperluan lainnya. Sedang HN masih menunggu temannya yang akan datang ke resto. HN saat itu berpikir makannya sudah dibayar oleh ibunya. Namun ternyata ibunya yakni WN belum membayar biaya makan.
‘Sedang WN berpikir makannya akan dibayar putrinya yang masih menunggu temannya open bill dulu yang akan datang ke resto,” kata Asri Purwanti.
Lebih lanjut Asri menambahkan, karena yang ditunggu tidak segera datang, HN sempat menunggu temannya di mobil di area parkir sekitar 30 menit.
Menurut Asri, persoalan tersebut bukan sekadar tentang tagihan makan, melainkan dampak unggahan tersebut membuat kliennya merasa malu keluar rumah setelah konten tersebut beredar di masyarakat.
Asri berharap, pengelola resto lebih mengutamakan norma-norma serta etika berkomunikasi yang baik dari pada memilih memviralkan pelanggannya sendiri.
“Kami ingin persoalan seperti ini tidak langsung dibawa ke media sosial tanpa tabayun terlebih dahulu,” paparnya.
Dari hasil penelusuran, kata Asri, bisa dilihat dilayar CCTV bila tidak terpotong saat kliennya lewat, kasir tidak ada yang menegur kalau tagihan belum dibayar. Bahkan HN merasa yakin kalau biaya makan sudah dibayar ibunya yang keluar lebih dulu.
Begitu pula saat HN berada di dalam mobil hampir 30 menit, memang ada yang datang namun tidak mengetuk pintu mobil dan oleh HN dikira hanya ingin menegur karena HN cukup lama berada didalam mobil dan tidak ada yang menegur kalau billnya belum dibayar.
Pihak manajemen resto melalui Supervisor Grandma’s Signature, Andreas Adi Wijaya menjelaskan kronologi yang berbeda.
Dia mengatakan pihak restoran memiliki rekaman kamera pengawas dan saksi terkait kejadian tersebut. Menurutnya, Sang ibu dan anaknya datang menggunakan kendaraan berbeda. Setelah tim kasir menyampaikan bahwa tagihan belum terbayar, WN disebut mengatakan akan masuk ke mobil .
Tim kasir kemudian kembali menghampiri WN saat berada di mobil untuk mengingatkan soal pembayaran. Keberadaan WN di mobil alasannya masih menunggu teman. Petugas restoran lalu mempersilakannya menunggu di dalam. Namun, menurut Andreas, HN akhirnya meninggalkan area restoran setelah temannya datang dan tidak kembali hingga keesokan harinya.
“Dari tim kasir kami sudah menyampaikan bahwa tagihan itu belum terbayar,” ungkap Andreas saat dikonfirmasi awak media.
Dikatakan, restoran tidak memiliki nomor telepon HN. Menurutnya, datang langsung tanpa reservasi dan pihak restoran hanya mencatat nama pelanggan untuk keperluan pelayanan.
Lebih lanjut Andreas menambahkan, pihak restoran sempat menelusuri pelat nomor kendaraan. Namun, pemeriksaan yang dilakukan disebut tidak menunjukkan kecocokan dengan mobil yang digunakan pelanggan.
Andreas membenarkan, pihaknya mengunggah konten terkait kejadian itu melalui Instagram. Dijelaskan, unggahan pertama menampilkan pelanggan dan mobil dengan wajah serta pelat nomor yang disamarkan. Namun, restoran tidak mendapat respons setelah unggahan pertama. Selang 1×24 jam, pihaknya mengunggah konten tanpa penyamaran (diblur-red)
Menurutnya, unggahan tanpa penyamaran muncul pada Rabu (7/10/2026). Setelah unggahan itu muncul, pelanggan menghubungi restoran dan menyampaikan bahwa setsu HN sudah dibayar oleh ibunya serta tidak berniat meninggalkan tagihan. Usai unggahan tersebut, pembayaran dilakukan pada hari yang sama, sekitar satu jam setelah konten tanpa penyamaran diunggah.
Pihak restoran kemudian menghapus kontenu tersebut dan mengunggah klarifikasi melalui Instagram bahwa tagihan sudah dibayar. Ditegaskan, pihak restoran memiliki bukti dan saksi untuk menjelaskan kejadian tersebut. DIa juga menyampaikan bahwa konten telah diturunkan setelah pembayaran dan klarifikasi dilakukan. (**)
Tanto

