Di Hari Kedua SIPA Hadirkan Beragam Seni Pertunjukan dari Dalam dan Luar Negeri
SOLO, POSKITA.co – Memasuki hari kedua penyelenggaraan, Solo International Performing Art (SIPA) 2026 yang digelar di Pamedan Mangkunegaran, menghadirkan beragam karya seni pertunjukan dari dalam dan luar negeri yang mempertemukan kekayaan tradisi, eksplorasi tubuh, serta kreativitas artistik dalam satu panggung.
Pada Jumat, 11 September 2026, rangkaian pertunjukan hari kedua diawali dengan penampilan AYI Dance Papua yang membawakan karya berjudul “WIT”. Pertunjukan ini menjadi salah satu representasi kekayaan seni Papua yang hadir dalam perhelatan SIPA 2026.
Selanjutnya, panggung SIPA 2026 menghadirkan Gigi Art of Dance dari Jakarta dengan karya “ALIH”. Kehadiran kelompok seni dari ibu kota ini menambah keberagaman perspektif dalam rangkaian pertunjukan hari kedua, sekaligus memperlihatkan perkembangan seni tari dan gerak di Indonesia.
Setelah penampilan dari Indonesia, SIPA 2026 kembali mempertemukan penonton dengan seni pertunjukan internasional. SyuRei by Ryukyu Art Embassy dari Jepang tampil membawakan karya “Okinawan Dance.”
Melalui karya tersebut, seni tradisi Okinawa hadir di panggung SIPA 2026. Pertunjukan ini menjadi bagian dari pertukaran budaya yang memperkenalkan karakter seni Jepang kepada masyarakat Surakarta sekaligus membuka ruang dialog antara budaya lokal Indonesia dan budaya internasional.
Masih dari Jepang, Company Danzak juga turut menghadirkan pertunjukan seni dengan judul “Tatara”. Karya ini menggambarkan tentang kekuatan, proses penempaan, serta warisan budaya Jepang.
Rangkaian pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Komunitas Seni Hitam Putih dari Padang Panjang melalui karya “Tubuh Padang”. Karya tersebut membawa perspektif artistik dari Sumatera Barat ke panggung SIPA 2026. Tubuh menjadi medium untuk mengeksplorasi gagasan, identitas, serta pengalaman budaya yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk seni pertunjukan.
Kehadiran karya dari Padang Panjang sekaligus memperkuat komitmen SIPA dalam memberikan ruang bagi berbagai komunitas seni daerah untuk tampil berdampingan dengan seniman internasional.
Sebagai salah satu penampilan penutup rangkaian pertunjukan hari kedua, Smara Tantra dari Solo menghadirkan karya “Ramayana Ngadonin Eling-Eling Shara Sargede”. Pertunjukan tersebut membawa kisah Ramayana ke dalam perspektif seni pertunjukan yang berkembang di Solo.
Kehadiran karya ini menjadi representasi kuat dari kekayaan budaya lokal sekaligus memperlihatkan bagaimana cerita tradisional dapat terus dihidupkan melalui kreativitas seniman masa kini.
Perpaduan antara karya dari Papua, Jakarta, Jepang, Padang Panjang, dan Solo memperlihatkan keberagaman latar budaya yang menjadi kekuatan utama SIPA 2026. Setiap delegasi menghadirkan karakter dan pendekatan artistik yang berbeda, namun dipertemukan dalam satu ruang pertunjukan.
Megumi Kato, Direktur Ryukyu Art Embassy dari Jepang mengatakan, “Kami berupaya keras pada Latihan tari kami. Kami bersemangat untuk tampil di SIPA Festival.”
Rangkaian SIPA 2026 hari kedua kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para seniman dan kelompok seni sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam perhelatan seni pertunjukan internasional tersebut.
SIPA 2026 terus menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi ruang pertemuan berbagai identitas budaya. Dari Papua hingga Jepang, dari Jakarta hingga Sumatera Barat dan Solo, setiap karya menghadirkan cerita dan perspektif yang memperkaya pengalaman penonton.
Melalui panggung SIPA 2026, keberagaman tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan seniman, masyarakat, dan berbagai komunitas dalam semangat kolaborasi serta apresiasi terhadap seni pertunjukan. (Arya)

