Soloraya

Konferensi PWI Surakarta Digelar Pemilihan Ketua Baru

Foto: dok

SURAKARTA, POSKITA.co – Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta periode 2026-2030 digelar di Monumen Pers Nasional, Sabtu (20/6/2026).

Forum tertinggi organisasi wartawan di tingkat kota ini menjadi momentum memilih Ketua PWI Surakarta periode 2026-2030 sekaligus menentukan arah organisasi dalam lima tahun mendatang.

Konferensi dijadwalkan dibuka oleh Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani. Selain itu, jajaran pengurus PWI Pusat juga hadir dalam agenda tersebut.

Ketua Umum PWI Pusat menugaskan Ketua Bidang Organisasi Zulkifli Gani Ottoh dan Ketua Bidang Pembinaan Daerah Mirza Zulhadi untuk menghadiri sekaligus mengawal jalannya konferensi.

Pemilihan Monumen Pers Nasional sebagai lokasi konferensi bukan tanpa alasan. Surakarta merupakan kota bersejarah tempat lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.

Delapan dekade kemudian, kota yang sama kembali menjadi saksi proses regenerasi kepemimpinan organisasi wartawan terbesar di Indonesia tersebut.

Menjelang pelaksanaan konferensi, panitia menggelar gladi bersih untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana.

Gladi bersih dihadiri Ketua PWI Surakarta Anas Syahirul Alim. Selang tak lama kemudian, Kepala Monumen Pers Nasional Widodo Hastjaryo juga hadir menyaksikan langsung jalannya persiapan.

Sejumlah jurnalis muda ikut ambil bagian dalam gladi bersih. Hadir pula wartawan senior, di antaranya Setyo Wiyono dan Anindito, yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan konferensi.

Ketua Panitia Konferensi PWI Surakarta, Bramantyo, mengatakan seluruh persiapan telah rampung dan gladi bersih menjadi tahapan terakhir sebelum konferensi dimulai.

“Seluruh persiapan telah kami matangkan. Kami ingin konferensi ini berjalan lancar, tertib, dan menjadi momentum lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa PWI Surakarta semakin maju,” kata Bramantyo disela gladi bersih, di Monumen Pers, Jumat (19/6/2026).

Menurut Bramantyo, konferensi tahun ini memiliki nuansa berbeda. Setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, seluruh peserta akan bersama-sama menyanyikan Mars PWI sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang organisasi yang lahir di Kota Surakarta.

“Kami ingin menghidupkan kembali semangat para pendiri PWI. Karena digelar di tempat kelahiran PWI, kami berharap konferensi ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga momentum memperkuat persatuan, profesionalisme, dan integritas insan pers,” ujarnya.

Pelaksanaan Konferensi PWI Surakarta 2026-2030 juga mendapat dukungan dari berbagai mitra. Dukungan diberikan oleh D’Lawu Bistro & Mountain Cottage Gondangrejo, PT SHA Solo, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), The Sunan Hotel Solo, FIM by Zigna, Syariah Hotel Solo, dan Toko Roti Ganep’s.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra yang telah memberikan dukungan. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi panitia untuk menyelenggarakan konferensi yang profesional, tertib, dan bermartabat,” tutur Bramantyo.

Momentum Menentukan Arah Organisasi
Konferensi PWI Surakarta tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepengurusan.

Forum ini juga menjadi ruang evaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah kebijakan PWI Surakarta lima tahun ke depan di tengah pesatnya transformasi industri media.

Saat ini PWI memiliki sekitar 20 ribu anggota yang tersebar di 38 provinsi, sementara PWI Surakarta membawahi tujuh kabupaten/kota di wilayah Solo Raya.

Melalui konferensi ini, diharapkan lahir kepemimpinan baru yang mampu menjaga profesionalisme, independensi, integritas jurnalistik, serta memperkuat peran PWI Surakarta dalam menghadapi tantangan dunia pers di era digital.***

Cosmas