Astrid Dukung Idaman, Solo akan Jadi Pusat Edukasi Jamu Aman
Foto: dok
SOLO, POSKITA.co – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menghadiri kegiatan Kick Off Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN) yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Gedung Gradhika Bakti Praja Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Selasa (9/6). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala BPOM RI Taruna Ikrar, M.Biomed., Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, serta para kepala daerah kabupaten/kota.
Program IDAMAN merupakan inisiatif BPOM untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi jamu yang aman, bermutu, dan bermanfaat, sekaligus mendorong pelaku usaha obat bahan alam agar memenuhi standar keamanan dan mutu. Program ini juga diarahkan untuk membentuk Kabupaten/Kota IDAMAN yang memiliki ekosistem jamu yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Astrid menegaskan Kota Surakarta siap mendukung penuh pelaksanaan Program IDAMAN. Menurutnya, Solo memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat budaya jamu di Indonesia dengan ekosistem yang masih tumbuh kuat hingga saat ini.
“Surakarta memiliki modal budaya yang sangat kuat dalam pengembangan jamu. Jamu bukan sekadar produk kesehatan tradisional, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Solo. Karena itu kami mendukung penuh Program IDAMAN agar masyarakat semakin sadar pentingnya mengonsumsi jamu yang aman, bermutu, dan bermanfaat,” ujar Astrid.

Astrid menjelaskan, perkembangan industri jamu di Kota Surakarta menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan Laporan Tahunan Balai POM di Surakarta Tahun 2025, terdapat 4 Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), 9 Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), serta 63 fasilitas distribusi obat bahan alam di Kota Surakarta.
“Untuk ukuran kota urban, jumlah tersebut cukup besar dan menunjukkan tingginya aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi obat bahan alam di Kota Solo. Pelaku usaha jamu berkembang mulai dari usaha rumahan, UMKM, hingga industri yang telah menjangkau pasar nasional bahkan internasional,” katanya.

Selain industri formal, tradisi jamu gendong yang dijajakan secara keliling maupun di pasar-pasar tradisional juga masih bertahan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Solo. Pemerintah Kota Surakarta terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, pendampingan legalitas usaha, sertifikasi halal, perizinan, hingga penguatan pemasaran digital.
Astrid menambahkan, pengembangan jamu juga menjadi bagian dari strategi besar Kota Surakarta dalam memperkuat sektor wellness tourism atau wisata kesehatan dan kebugaran.
“Solo memiliki ekosistem yang sangat mendukung, mulai dari tradisi minum jamu, layanan spa dan pijat tradisional, kuliner sehat, hingga berbagai aktivitas berbasis kesehatan yang berakar pada budaya lokal. Ke depan, jamu akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan wellness tourism di Kota Surakarta,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Kota Surakarta juga terus mendorong pelestarian budaya jamu yang menjadi bagian dari warisan budaya Keraton Surakarta. Berbagai tradisi kesehatan dan perawatan diri yang berkembang di masyarakat saat ini berakar dari budaya Keraton, mulai dari tradisi meracik jamu, penggunaan tanaman herbal, hingga filosofi hidup sehat yang diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah Kota Surakarta memandang warisan tersebut sebagai aset budaya yang perlu terus dilestarikan, dikembangkan, dan dikenalkan kepada generasi muda maupun wisatawan.
Astrid menilai pelestarian warisan Keraton memiliki peran penting dalam pengembangan industri jamu di Kota Surakarta. Menurutnya, racikan jamu tradisional yang berasal dari lingkungan Keraton memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui riset, standarisasi, dan pendampingan sehingga dapat menjadi produk unggulan yang aman, bermutu, dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Dalam konteks wellness tourism, warisan budaya Keraton memberikan keunikan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Wisatawan tidak hanya menikmati jamu sebagai minuman kesehatan, tetapi juga memahami sejarah, filosofi, dan tradisi yang melatarbelakanginya. Inilah kekuatan yang dimiliki Kota Solo,” ujar Astrid.
Dalam forum tersebut, Astrid juga menyampaikan bahwa Kelurahan Jayengan akan menjadi salah satu lokus intervensi pilot project Program IDAMAN di Kota Surakarta.
“Kami berharap Jayengan dapat menjadi percontohan. Kalau Solo selama ini dikenal memiliki kampung batik, ke depan kami berharap juga dapat tumbuh sentra atau kampung jamu yang menjadi destinasi wisata baru sekaligus pusat edukasi jamu aman bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengapresiasi berbagai inovasi pengembangan jamu yang tumbuh di Surakarta. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan Djampi Jawi, kafe jamu modern di Kota Solo yang berhasil mengemas budaya minum jamu dengan konsep kekinian sehingga diminati kalangan muda.
Menurut Taj Yasin, inovasi semacam itu menjadi bukti bahwa jamu dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa meninggalkan akar budaya yang dimiliki.
Astrid menilai keberadaan usaha-usaha kreatif seperti Djampi Jawi menunjukkan bahwa jamu memiliki peluang besar untuk menjangkau generasi muda sekaligus memperkuat citra Solo sebagai kota budaya yang sehat dan modern.
Ia juga berharap sinergi antara Pemerintah Kota Surakarta dan BPOM terus diperkuat, tidak hanya dalam pengawasan, tetapi juga edukasi, pendampingan, serta pengembangan industri jamu berbasis budaya.
“Harapan kami, jamu tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat, membuka peluang usaha baru bagi UMKM, dan menjadi ikon unggulan Kota Surakarta dalam menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan kolaborasi yang kuat bersama BPOM, kami optimistis Solo dapat menjadi salah satu pusat pengembangan jamu nasional sekaligus destinasi wellness tourism yang unggul,” pungkas Astrid.
Cosmas

