Panen Ketiga Gagal, Petani Malangjiwan Gerdal Hama Tikus dengan Emposan
Keterangan Foto: Lilik Nugraharja STP, MEng, selaku Kabid Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKPP Klaten, bersama PPL dan perangkat desa Malangjiwan di lokasi gerdal hama tikus.
KLATEN, POSKITA.co – Puluhan petani Kelompok Tani Mukti Tani Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Klaten, tampak terjun di persawahan dalam gerakan penanganan hama tikus yang sudah tiga musim tanam selalu bikin resah, Selasa (19/5/2026) pagi. Informasikan dari Camat Kebonarum I Nyoman Gunadhika, SE, tiga kali masa panen, baru yang ketiga masa panen ini gagal alias tidak bisa panen.
Untuk membantu para petani, Kecamatan Kebonarum mengajak Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, serta para penyuluh pertanian, membantu keresahanpagi para petani dengan gerdal atau gerakan pengendalian hama tikus. Gerdal tidak ala gropyokan atau penjebakan dengan aliran listrik, tapi dengan emposan atau asepan racun tikus.
“Para petani Desa Malangjiwan telah melaporkan ke Kepala Desa dan kita dapat info adanya serangan hama tikus ini. Kita koordinasi dengan DKPP Klaten dan PPL, akhirnya ada gerdal hama tikud dengan bahan berupa alat emposan atau pengasapan. Pengasapan ini juga efektif bisa membasmi hama tikus di sawah menggunakan belerang. Dan belerang yang dibakar akan menghasilkan gas beracun yang dialirkan ke dalam lubang tikus menggunakan alat emposan,” jelas Camat Nyoman kepada redaksi
Harapannya dengan gerdal ini, petani bisa bercocok tanam pagi dengan hasil maksimal. Ada luasan lahan 26 hektar sawah di kelompok Tani Mukti Malangjiwan memang banyak yang diserang hama tikus. Petani ke depannya, bisa tersenyum bahagia dan bisa panen lagi.
Hal senada juga disampaikan Lilik Nugraharja STP, MEng, selaku Kabid Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKPP Klaten, bahwa hama tikus kalau dibiarkan merajela akan membuat tanamam apapun di sawah akan habis. Kebetulan persawahan Desa Malangjiwan ini diserang hama tikus dengan memakan daun dan batang padi.
DKPP Klaten untuk gerdal hama tikus menggunakan alat jebakan listrik, sangat tidak direkomendasikan. Ada beberapa kasus petani melakukan jebakan aliran listrik persawahan di malam hari, malah ada petani yang menjadi korban. Dengan cara emposan belerang, menjadi cara penanganan gerdal hama tikus lebih efektif.
“DKKP Klaten ke sini bareng-bareng bersama Camat, Kades, perangkat desa, PPL, para petani, dan masyarakat, khususnya di Malangjiwan ini dalam antisipasi serangan tikus. Gerakan dengan brancus atau racun tikus dan kadang juga dengan gropyokan tikus. Saat ini gerdal dengan emposan brancus atau racun tikus. Kalau efektifnya sebenarnya dengan burung hantu, mudah-mudahan ada CSR yang bantu ke sini untuk pengadaan burung hantu,” jelas Lilik.
Burung hantu itu per hari bisa makan 4-5 tikus dan burung hantu juga tidak membahayakan manusia. Untuk penggunaan Brancus, penglihatan tikus akan berkunang-kunang dan tidak beberapa langsung mati tikusnya di dalam lubang. Cara penggunaannya, lubang tikus ditemukan dan sisi lainnya juga ditutup. Tidak boleh bocor lubang sarang tikus yang ada di lahan persawahan.
Di wilayah Kecamatan Kebonarum ini pola tanamnya padi, padi, pantun, sebab daerah Kebonarum ini murah airnya. Jadi wilayah Kecamatan Kebonarum bisa menjadi daerah lahan produksi ketahanan pangan padi. Dijelaskan pula, se Kabupaten Klaten ini total lahan persawahannya ada 29.670 hektar luasnya, untuk ditanami padi ada 23 ribu hektar.

Untuk tanaman lainnya ada jagung, tebu, tembakau dan berau (tidak diolah). Untuk lahan sawah ditanami tembakau ada 2 ribu hektar dan lahan berau ada sekitar 6 ribu hektar untuk persiapan ditanami tepat sasaran. Saat ini ada sekitar 1500 kelompok tani se Klaten yang selama ini juga diberikan arahan bimbingan dari para PPL.
Lilik yang sudah 27 tahun mengabdi di DKPP Klaten menambahkan, para petani saat ini harus pintar-pintar dalam mengolah lahan persawahan. Kelompok tani juga harus hidup dan mengoptimalkan pertemuan-pertemuan, salah satunnya dengan aksi cepat melakukan gerdal hama tikus dengan lakukan koordinasi dengan pihak terkait. Selama masih ada persediaan alat emposan hama tikus, kelompok tani lainnya bisa mengajukan permintaan bantuan ke DKPP Klaten.
“Kembali soal hama tikus, ke depannya kita terus menggaungkan adanya pola tanam yang tepat. Di wilayah tertentu pola tanamnya ada padi, padi, palawija, tetapi seperti di Kebonarum ini berbeda. Pola tanamnya padi, padi, pantun. Untuk kurangi dan cegah merebaknya tikus, di wilayah Kebonarum ini perlu diajukan bantuan pengadaan burung hantu atau burung Ceguk. Burung hantu ini ditakuti tikus dan makannya memang tikus sawah,” ujar Lilik yang 3 tahun lagi memasuki purna tugas. (Hakim)

