Soloraya

Pertama Kali dalam Sejarah! 55 Bhikkhu Thudong Bakal Lintasi Solo, Ada Kirab Akbar Rayakan Waisak

SOLO, POSKITA.co  — Kota Solo bersiap menyambut momen langka dan bersejarah. Untuk pertama kalinya, rombongan 55 Bhikkhu Thudong dari berbagai negara yang sedang melakukan ritual jalan kaki ke Borobudur, dipastikan bakal melintasi Kota Bengawan.

Jika biasanya rute Thudong dimulai dari barat (Jakarta menuju Magelang), tahun 2026 ini para Bhikkhu berjalan dari arah timur, yaitu Surabaya menuju Magelang via Kota Solo.

Momen langka ini akan dikemas dalam Kirab Kerukunan menyambut Hari Raya Waisak pada Sabtu (23/5/2026) besok.

“Ini pertama kali Bhikkhu Thudong melintas di Solo. Kirab ini akan diikuti sekitar 1.500 orang, termasuk perwakilan dari tiap-tiap agama sebanyak 10 orang,” ujar Chanda, Panitia Bersama Hari Waisak di Gedung Sekber Kepatihan Wetan, Kamis (21/5/2026).

Ketua FKUB Kota Solo, Muhammad Mashuri bersama anggota FKUB dan panitia Hari Raya Waisak menjelaskan kegiatan FKUB ke depan, termasuk menyambut Hari Raya Waisak, Kamis (21/5). (foto dokumentasi)

Upaya ini dilakukan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta. Organisasi lintas agama itu berkeinginan agar Kota Bengawan mampu menembus 10 besar Kota Toleran versi Setara Institute tahun 2026.

Sebab Kota Solo masih menduduki rangking ke-12 nasional, sama seperti capaian tahun sebelumnya. Ketua FKUB Solo, Muhammad Mashuri menegaskan, hasil penilaian tersebut menjadi refleksi bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.

Menurutnya, penilaian kota toleran memiliki banyak indikator sehingga tidak bisa hanya dibebankan kepada FKUB maupun pemerintah semata. Namun kata dia, pentingnya keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, media hingga generasi muda.

Tanpa kolaborasi yang kuat, lanjutnya, sulit bagi Solo meningkatkan skor penilaian toleransi secara signifikan.

“Penilaian ini bukan hanya soal kegiatan FKUB saja, tetapi menyangkut  ekosistem kota secara keseluruhan. Maka semua pihak harus bergerak bersama,” tandasnya.

Untuk mengejar target masuk 10 besar Kota Toleran pada 2027, lanjut Mashuri, FKUB menyiapkan sejumlah program strategis yang akan dijalankan secara bertahap sepanjang tahun ini.

Program pertama adalah sosialisasi wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan regulasi kerukunan di 54 kelurahan se-Kota Solo. Program tersebut sudah mulai berjalan di Kecamatan Jebres dan akan dilanjutkan ke Pasar Kliwon, Serengan, Laweyan hingga Banjarsari.

Mashuri menjelaskan, dalam kegiatan tersebut FKUB tidak hanya bertemu perangkat kelurahan, tetapi juga turun langsung menyapa masyarakat, RT dan RW agar pesan toleransi benar-benar dipahami hingga level bawah.

Program kedua adalah branding taman cerdas menjadi “Taman Toleransi”. FKUB berencana menambahkan pesan-pesan moderasi beragama dan edukasi kerukunan di sekitar 17 titik taman cerdas yang ada di Kota Solo.

Menurut Mashuri, konsep tersebut telah mendapat dukungan dari Wali Kota Solo dan saat ini tinggal mematangkan konsep serta penganggaran.

“Esensinya tidak mengurangi fungsi taman cerdas, tetapi ditambah edukasi mengenai toleransi dan moderasi beragama,” katanya.

Program ketiga adalah audisi Putra-Putri Duta Kerukunan. Program ini menyasar generasi muda agar menjadi agen perubahan sekaligus influencer toleransi di lingkungan masing-masing.

Nantinya proses seleksi akan dilakukan mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kota. Para duta kerukunan tersebut akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan edukasi kebhinekaan.

“Kami ingin anak muda menjadi motor penggerak toleransi di tengah masyarakat,” ucap Mashuri.

FKUB juga menyiapkan hotline kerukunan yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam. Layanan tersebut diharapkan menjadi jalur cepat penyelesaian ketika muncul persoalan sosial maupun potensi konflik antarumat beragama.

“Kalau ada persoalan bisa langsung dikomunikasikan sehingga tidak membesar,” imbuhnya.

Selain itu, FKUB akan menerbitkan buletin kerukunan yang berisi pesan-pesan toleransi, kegiatan lintas agama, hingga edukasi moderasi beragama. Buletin tersebut akan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai media literasi sosial.

Program lain yang juga disiapkan adalah kirab kerukunan antarumat beragama berbasis hari besar keagamaan. Agenda terdekat akan dilaksanakan dalam momentum Hari Raya Waisak.

Dalam memperingati Hari Raya Waisak, pada Sabtu (23/5), akan dilakukan kirab kerukunan dengan rute dari Loji Gandrung menuju Balaikota. Dalam kirab diikuti 1.500 orang, termasuk perwakilan tiap agama sebanyak 10 orang dan 55 Bhikkhu Thudong dari berbagai negara yang kini sedang melakukan perjalanan menuju Borobudur.

“Ini pertama kali Bhikkhu Thudong melintas di Solo. Biasanya dari barat, yakni Jakarta menuju ke Magelang. Kali ini, para Bhikku berjalan dari timur yakni Surabaya menuju Magelang dengan melintasi Solo,” kata Chanda, selaku Panitia Bersama Hari Waisak saat ditemui di Gedung Sekretariat Bersama (Sekber) Kepatihan Wetan, Jebres, Kamis (21/5).

Tanto