Wajah Baru Rutan Solo: Ketika Dinding Penjara Jadi Kanvas Grafiti Seniman Dunia
Presiden Direktur PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus bersama dengan Dirjen PAS Mashudi dan Bupati Karanganyar, Rober Christanto secara simbolis turut coret-mencoret di dinding tembok dalam pembukaan MOS 2026 di Rutan Kelas I Surakarta, Jumat (15/5). (foto dokumentasi)
SOLO, POSKITA.co — Dinding-dinding kokoh Rutan Kelas I Surakarta mendadak berubah menjadi panggung seni visual global. Mulai Jumat (15/5/2026), gelaran grafiti internasional besutan PT Indaco Warna Dunia, Meeting of Styles (MOS) 2026, resmi ditabuh.
Bukan sekadar corat-coret mural biasa, festival tahunan ini menjelma menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan denyut nadi masyarakat Solo dan Karanganyar dengan para maestro jalanan dunia. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 50 seniman grafiti top dari 19 negara turun ke jalan, membawa karakter visual khas mereka—mulai dari gaya urban modern yang eksentrik hingga peleburan budaya lokal.
Salah satu magnet utama yang paling menyedot perhatian publik dalam MOS 2026 adalah program Cultural Prison Art. Lewat program ini, para seniman internasional berkolaborasi langsung dengan para warga binaan di dalam Rutan Solo.
Mereka mengusung filosofi mendalam Jawa, “Memayuhayuning Bawono”, sebuah pesan kuat untuk menjaga keharmonisan kehidupan dan alam semesta.
“MOS tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tapi juga tempat bertemunya berbagai identitas budaya tanpa sekat bahasa maupun negara,” ujar Presiden Direktur PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus.
Antusiasme masyarakat pun sudah terasa sejak masa pre-event. Banyak warga yang rela berdiri berjam-jam di ruang terbuka hanya untuk menyaksikan bagaimana para muralis dunia ini menyulap tembok kusam menjadi mahakarya visual.
Bagi industri kreatif di Solo Raya, MOS 2026 adalah batu loncatan besar. Dukungan penuh dari pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, dinilai sukses menaikkan kelas festival ini menjadi event seni premium skala internasional.
“MOS 2026 ini merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami karena mendapatkan dukungan nyata dari Pemerintah,” pungkas Iwan optimis.
Lewat goresan cat semprot para seniman dunia, Solo dan Karanganyar kini tidak hanya dikenal lewat budaya adiluhungnya, tetapi juga sebagai episentrum baru bagi seni urban kontemporer di Asia Tenggara.
“Dalam pre-even kemarin, kami berkolaborasi menghasilkan karya grafiti di Cultural Prison Art dengan tagline ‘Memayuhayuning Bawono’. Ini sangat relevan dengan tema MOS tahun ini, yaitu Togetherness atau kebersamaan,” jelas Iwan.
Suasana di dalam lapas pun tampak berbeda. Para warga binaan terlihat antusias berdiskusi dan belajar teknik mural bersama seniman luar negeri. Tidak hanya belajar melukis, mereka juga menyerap nilai tentang kreativitas, harapan, dan semangat membangun masa depan baru.
Lebih jauh Iwan menambahkan, di tengah situasi geopolitik dunia yang penuh tantangan, MOS 2026 mencoba menghadirkan pesan berbeda lewat seni jalanan. Para seniman menyuarakan semangat perdamaian, solidaritas, hingga pentingnya hidup berdampingan melalui mural dan grafiti.
“Kami berharap MOS 2026 membawa semangat kebersamaan bagi seluruh masyarakat, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga di kancah dunia dan masa depan,” paparnya.
Adapun event MOS 2026, selain digelar di Rutan Solo, juga dihelat di kawasan Pabrik Cat PT INDACO yang berada di Kampung Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar.
Disela pembukaan MOS 2026 di Rutan, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Mashudi, menegaskan pihaknya terus memperkuat program pembinaan dan kemandirian warga binaan melalui kerja sama dengan dunia industri. Hal itu ditandai dengan peresmian kolaborasi antara jajaran Pemasyarakatan dan PT Indaco di Rutan Kelas I Surakarta, Jumat (15/5).
“Kami dari jajaran Pemasyarakatan berkolaborasi dengan PT Indaco untuk melaksanakan kegiatan mural bagi warga binaan. Ini adalah bukti bahwa kami membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga untuk memberikan bekal kemampuan bagi mereka,” ungkap Mashudi.
Menurutnya, pelatihan mural dan seni visual tersebut diharapkan menjadi bekal penting bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat. Dengan kemampuan berkarya dan melukis, mereka diharapkan mampu mandiri secara ekonomi dan tidak kembali terjerat persoalan hukum.
“Harapannya setelah keluar dari rutan, mereka bisa diterima dengan baik oleh masyarakat karena mempunyai kemampuan untuk melukis dan berkarya. Ini adalah kegiatan kolaborasi yang sangat baik,” tambahnya.
Mashudi mengapresiasi PT Indaco dan jajaran Kantor Wilayah yang menggagas program tersebut. Dia berharap model pembinaan berbasis kolaborasi industri seperti di Kota Solo dapat diterapkan di ratusan lapas lain di Indonesia. (**)
Tanto

