Tanah Warisan Petani Buta Huruf Diserobot

Spread the love

SRAGEN, POSKITA.co – Sengketa terkait penyerobotan kepemilikan tanah acap kali terjadi. Salah satunya dialami Nyamin dan saudara-saudaranya warga Dukuh Hargorejo RT 24 Desa Dawung, Kecamatan Jenar,Sragen. Tanah warisan orang tuanya justru dikuasai orang lain.

Informasi yang dihimpun Nyamin dan saudaranya mendapat warisan berupa tanah tegalan dari orang tuanya Rono Sentono dengan nomor letter C 1117 Persil 74 klas D V. Sedangkan luas tanah sekitar 9175 meter persegi. Namun tanah warisannya itu saat ini dikuasai orang lain.

Awalnya pada 2011 Desa Dawung, Kecamatan Jenar dipimpin Kades S. Saat itu terdapat surat pernyataan bahwa tanah tegalan milik Rono Sentono nomor C 1117 Persil 74 Klas D V luas 9175 M2 adalah milik ahli waris Rono Sentono. Ahli warisnya antara lain Nyamin, Sarbin, Sardi dan Widji. Hal tersebut tertera dalam surat dengan kop Pemerintah Desa Dawung nomor 590/1071/XI/2011 dan ditandatangani oleh Kades S dengan cap stempel basah pemerintah desa Dawung tanggal 28 Nopember 2011.

Namun pada tanggal 28 Pebruari 2016 kades S kembali mengeluarkan surat keterangan waris (SKW) Rono Sentono C 1117 adalah KS. Hingga pada tanggal 15 September 2016 terbitlah sertifikat atas nama KS dengan nomor hak milik 01696. Setelah tersertifikasi, lahan itu dijual oleh KS kepada Spd warga Desa kandang sapi, Kecamatan Jenar.

Setelah tanah tersebut dikuasai Spd, pada September 2020, lahan digarap dan semua pohon jati ditebang habis. Karena merasa ada penyerobotan tanah, pihak ahli waris Rono Sentono yang disebutkan pada surat Leter C tahun 2011 yakni Nyamin, Sarbin, Sardi dan Widji melaporkan dugaan penyerobotan tanah tegalan ke Polres Sragen.

Kemudian ditindaklanjuti pihak penyidik polres dengan memintai keterangan pelapor. Penyidik juga sudah memanggil terlapor KS dan Mantan Kades S serta Spd warga kandang sapi Jenar yang menguasai tanah tersebut.

Pihak pelapor yang merasa ahli waris yang resmi berharap tahan tegalan itu kembali pada mereka. ”Kami tidak rela tanah tegalan milik orang tua saya diserobot orang lain. Meski saya bodoh tidak bisa baca menulis dan miskin, saya tetap berjuang mencari keadilan, saya berharap pihak kepolisian segera menindak tegas para penyerobot tanah,” keluh Nyamin.

Pihaknya menuding tanah itu bisa bersertifikat atas nama KS karena keterlibatan mantan kades S. Setelah mengeluarkan SKW. Menurutnya tanpa ada surat SKW dari kades, tidak mungkin bisa disertifikatkan.

Pengacara korban dari LBH Mawar Saron Surakarta Andar Beniala Lumbanraja merasa kasihan pada ahli waris Rono Sentono. Mereka warga miskin dan awam dengan hukum. “Kami minta keadilan karena klien kami buta huruf. Padahal pihak desa sejak awal mengetahui lahan leter C itu merupakan hak ahli waris yang pertama disebutkan di awal,” terangnya Kamis (16/9).

Tidak hanya itu, petani kliennya juga dirugikan karena tanaman pohon jati sejumlah sekitar 80 pohon dibabat habis oleh yang menguasai lahan tersebut saat ini. “Padahal mereka yang merawat dan menanam pohon itu di lahan yang mereka miliki sendiri,” ujarnya. (Cartens)