Dongeng, Bukan Sekadar Pengantar Tidur

Spread the love

KARANGANYAR, POSKITA.co – Kegiatan mendongeng selama ini diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai pengantar tidur. Anak-anak ada yang memiliki kebiasaan sulit tidur jika ibunya belum mendongeng. Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman dan ketika bahan cerita semakin mudah didapat justru semakin sedikit orang tua yang mendongeng.

Siswa antusias mendengarkan dongeng

Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi atau yang biasa disebut dengan Revolusi Industri 4.0 justru ditandai dengan semakin sedikitnya orang tua yang meluangkan waktunya untuk mendongeng. Padahal bahan untuk mendongeng semakin mudah didapat bisa melalui Youtube atau cerita lain dari si empunya internet, Google.

Kegiatan mendongeng jika dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari memiliki banyak manfaat seperti mengajak anak untuk berlatih mendengarkan orang lain saat berbicara, mempererat hubungan kasih antara anak dan orang tua, mengajarkan anak untuk memiliki pekerti yang baik karena biasanya cerita dalam dongeng memberikan pengajaran yang berarti bagi kehidupan, mengajarkan anak untuk memahami isi bacaan, menambah khasanah pengetahuan, mendongeng juga menjadi sarana untuk menyegarkan otak, dan masih banyak lagi.

Untuk pendidikan formal pun, terkadang kegiatan mendongeng menjadi media sampingan mengingat semakin banyaknya materi buku yang harus dipahami dan dikuasai oleh peserta didik. Saat ini peserta didik mulai dari tingkat SD telah diajak untuk “bekerja rodi” memahami materi yang disampaikan guru termasuk dengan segala tugas yang harus dikerjakan selepas kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Slamet Riyadi Surakarta untuk memberikan penyegaran dan meningkatkan komunikasi melalui kegiatan mendongeng. Kegiatan ini dilaksanakan di SDN Suruh 01 Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar belum lama ini. Dengan dibimbing dan didampingi oleh Setyasih Harini, M.Si, dan Dr. Ch. Evy Tri Widyahening beberapa mahasiswa dari semester empat meluangkan waktunya untuk lebih dekat dengan masyarakat khususnya siswa SD.

Menurut Anastasya Alcita Magdalena kegiatan mendongeng baginya merupakan pengalaman baru dan terasa asing mengingat selama mengikuti perkuliahan tidak ada materi mendongeng. Namun kegiatan ini menjadi tantangan tersendiri baginya karena bisa berimajinasi dan berkreasi bersama dengan siswa SD. Sementara, Sheren Rafaela menjelaskan kegiatan ini sangat seru karena secara pribadi harus belajar membuat bacaan yang telah dibacanya disampaikan kepada para siswa dalam Bahasa Jawa. Bagi Sheren, menggunakan Bahasa Jawa untuk berkomunikasi sehari-hari saja sulit apalagi untuk mendongeng. Hal senada juga dialami oleh Bella Vega yang terpaksa harus mencari cerita menarik dan cocok untuk siswa SD. Baginya, cerita dengan mengambil tokoh binatang menjadi dogengnya lebih bisa diterima dan dipahami oleh siswa.

Sebagai pembimbing dan pendamping, Setyasih Harini, MSi menekankan bahwa mahasiswa dari program studi non pendidikan pun mestinya juga diberi pengalaman untuk lebih dekat dengan masyarakat. Hal ini sangat penting karena pada generasi mudalah masa depan bangsa. Mahasiswa yang mampu berkomunikasi dengan siswa SD dianggap seperti kakak sendiri sehingga mudah diterima. Sementara bagi mahasiswa, kehadirannya di tengah-tengah siswa SD menjadi pengalaman baru mengingat laboratoriumnya ada dalam masyarakat itu sendiri. Masih menurutnya kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman berharga dan prestise bagi mahasiswa karena didanai oleh Kemenristek Dikti.

Harapannya semoga kegiatan ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain agar tidak canggung untuk terjun dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Sehingga sebagai generasi muda, mahasiswa dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

COSMAS/*