Dalih Proposal, Kades Jadi Target Sindikat Penipu Minta Uang di Kebonarum

Spread the love

KLATEN, POSKITA.co – Modus penipuan di era digital di wilayah Kabupaten Klaten membuat resah. Sebelum ada modus penipuan dengan memalsukan atau kloning facebook Camat Wedi, Kukuh Riyadi, mulai Rabu lalu (2/1/2019), beberapa bulan lalu, juga terjadi modus penipuan bentuk lain.

Salah satunya mengatasnamakan dari pimpinan Bappeda Klaten dengan meminta sejumlah uang di Kebonarum. Para Kades di Kebonarum sering ditelpon oknum yang tak jelas darimana asalnya dengan kedok atau modus penipuan. Hal ini dikatakan Kepala Desa Karangduren, Kecamatan Kebonarum, Moh Marsum, kepada wartawan di rumahnya, Sabtu siang (5/1/2019).

“Saya sering dikontak lewat sms  atau dibel langsung oleh orang yang mengaku dari Bappeda dan ujung-ujungnya meminta sejumlah uang. Untuk lebih jelas, kades ajak ketemuan dengan pelaku penipuan atau jumpa darat. Ternyata pelaku tak berani nongol dan kalau dihitung saya sudah dibel 6x lebih,” jelas Marsum yang juga Ketua Paguyuban Kades se Kecamatan Kebonarum.

Sementara Kades Menden, Riyani, juga mengaku pernah dihubungi orang tak bertanggungjawab seperti yang dialami Kades Marsum. Dari tutur kata yang keluar dari pelaku saat mengontak Kades Menden, seperti lidahnya cidal bukan orang Klaten asli.

“Ini Bu Lurah Menden, ya. Ini salah satu kalimat yang keluar dari pelaku. Saat menyebut Menden ini kesannya janggal, kayak bukan orang Jawa asli atau orang Klaten. Saya curiga, soalnya minta uang dan saya jawab akan datang sendiri ke kantor Bappeda. Ternyata saat dirakorkan sama Kades, semua mengalami hal ini,” ujar Riyani.

Kades Ngrundul Wahyu Widjanarko bersama Kades Malangjiwan Gunarto yang sama-sama pernah dibel pelaku penipuan modus dalih proposal bantuan, saat rakor paguyuban Kades.

Wahyu Widjanarko alias Pak Koko yang menjadi Kades Ngrundul, Kebonarum, juga mengalami hal sama dan agak gusar. Pelaku sering mengontak dirinya dengan dalih proposal bantuan lancar dengan syarat harus mentransfer uang terlebih dulu.

“Biasanya pelaku mengontak di luar jam kerja, kadang jam 5 sore, jam 10 malam dan dini hari. Tapi saya sudah curiga, ada kejanggalan dan saya tidak mau melayani,” jelas Wahyu. (Aha)

Caption Foto Atas:
Kades Karangduren, Moh Marsum, tunjukkan bunyi sms dari pelaku modus penipuan orang tak bertanggungjawab yang mengaku dari Bappeda. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *