Epilog Cinta Putri Panembahan Senopati Mataram

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Kisah putri raja, Retno Pembayun, menjadi tokoh utama pementasan teater Babad Mataram di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Kota Solo. Sisi feminim cerita ini diambil dari sejarah pergulatan politik bumi Mataram dengan tanah perdikan atau daerah pajak yakni Tanah Mangir. Setidaknya, feminim cerita ini disampaikan sutradara pentas, Septiani, usai pementasan di TBS.

“Penggarapan ini lebih dititikberatkan pada perspektif Retno Pambayun yang merupakan sosok seorang wanita yang ingin membaktikan diri terhadap tanah air. Meski, dia terhanyut dalam polemik percintaan dengan penguasa Mangir. Ini merupakan cerita garapan yang dipentaskan oleh Kelompok UKM BKKT UNS tahun 2018,” terang sutradara Retno Pambayun.

Dalam pementasan dengan pemeran yang masih mahasiswa ini disajikan awal tokoh Retno Pembayun. Sebuah kalimat kerinduan tentang pria dan cinta terucap dengan khas bahasa Jawa sehingga penonton larut dengan kegalauan putri dari Panembahan Senapati. Pergulatan politik yakni upaya mengakuisisi tanah Mangir ke pangkuan Mataram membuat putri ini terserat ke dalamnya.

“Anak raja yang pertama putri. Tidaklah pantas, anak raja putri naik tahta. Karena ada putra selir pertama putra maka bisa jadi naik tahta anak putra dari selir ini,” tutur penasihat Kerajaan Mataram, Ki Juru Mertani, yang menyarankan kepada Panembahan Senopati untuk mengirim putrinya, Retno Pembayun untuk ke negeri Mangir.

Dimulailah kisah cinta putri raja ini ketika menyamar menjadi Kinasih, salah satu penari atau ledek jalanan. Berawal ingin menaklukan Ki Ageng Wonoboyo atau dikenal dengan Ki Ageng Mangir justru muncul benih-benih cinta. Operasi intelijen ibarat sekali dayung terlampaui, karena penari ini dinikahi oleh Ki Ageng Mangir setelah menjalin rasa dari susuk pengikat rambut yang jatuh saat menari.

“Ya, aku bukan Kinasih tapi Retno Pembayun, putri dari Raja Mataram,” ucap Retno Pembayun yang saat gagal menikam pisau di tubuh Ki Ageng Mangir.

Cinta tidak membuat Ki Ageng Mangir emosi setelah terkuak kedok Kinasih tapi mengajak pulang ke kerajaan. Emosi penonton diganggu, dengan sikap Ki Ageng Mangir justru terang-terangan kalau menikahi anak dari putri raja. Alur politik berubah, strategi Juru Mertani juga tidak seperti direncanakan maka Raja marah. Di saat itulah, Ki Ageng Mangir langsung dihabisi oleh mertuanya yang tak lain adalah Panembahan Senopati saat dirinya melakukan sungkem atau sikap menghargai mertuanya.

“Kakak, benar yang kamu sampaikan, mungkin ini ajalku bertemu Tuhan,” jelas Ki Ageng Mertani saat berpamitan kepada keluarganya saat antar istrinya.

Tak hanya itu, garapan tersebut juga menyuguhkan tarian klasik yang ditampilkan oleh anggota UKM BKKT UNS. Kali ini, Humas Yayasan Diwa Center, Junaedi Edi Purwanto, mengatakan kalau pihaknya konsen dalam pengembangan budaya, sosial, pendidikan hingga kesehatan.

“Kami merasa bangga turut dilibatkan. Mengingat, ini merupakan sebuah budaya asli Indonesia yang perlu dilestarikan,” katanya ditemui usai pementasan. (Agung Santoso)

Caption Foto:
Pertunjukan teater “Retno Pembayun” yang dipentaskan oleh UKM BKKT UNS di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (26/10) malam. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *