TUJUH MAKOM RELIGIUOS PANGERAN SAMBER NYAWA

Spread the love

OLEH KUSTAWA ESYE
Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh
(Spirit Religious, Culturan & Education)

MENELADANI Raden Mas Said tidak hanya dari heroismenya sebagai pejuang kemerdekaan, politisi ulang, negarawan dan figurnya raja yang berbudi bawa laksana. Raden Mas Said, sebenarnya juga maestro seni budaya yang piawai mengejowantahkan filosofi falsafah religious dalam karya-karya fenomentalnya.

Dalam berolah seni gamelan dan gending-gending Jawa, contohnya. Raja Pura Mangkunegara I ini selain dikenal sebagai apresiator, juga berhasil merefleksikan esensi dan filosofi falsafah seni gamelanmaupun gending-gending Jawa.

Esensi filosofi falsafah gending, menurutnya dapat dirasa dari tiga perspektif kehidupan. Pertama; Raos Kawiraman yang merefleksikan cita rasa runtut, titi, patut, pratitis, tatag, lan mantep. Kedua; Raos Kasulistyan yang merefleksikan cita rasa edi, peni, resik, endah, alus, luhur, lan bening. Dan Ketiga; Raos Kasusilan yang merefleksikan cita rasa suci, lebet, santosa, jejer, prabawa, mandiri, budi pekerti, lan gesang bebrayan.

Berdasarkan filosofi penguasaan gending di atas, hakikatnya filosofi falsafah tersebut mengarah kepada pembentukan moralitas dan kepribadian (character building). Inilah karakteristik seorang pimpinan yang komitmen menjaga keseimbangan refleksi religious, kemiliteran dan moralitas.

Tidak aneh jikalau Raden Mas Said sangat menonjol dalam mengembangkan kesenian, dibandingkan Raja-raja lainnya yang bertahta di Tanah Jawa. Bukan saja aktivitas yang dilakukan dan dijiwainya, sekian banyaknya karya seni yang diciptakan, adalah manifestasi Raden Mas Said sebagai seorang empu atau maestro seni budaya.

Seperti membuat perangkat gamelan, menciptakan aneka tarian tradisional, penulisan buku sastra, penulisan Al Quran (tercatat hingga delapan kali), penulisan Juz Amma dengan huruf Arab dan Jawa, serta membuat aneka macam tulisan kaligrafi Arab dan huruf Jawa.

Karya seni berupa gamelan yang dihasilkan dan dikoleksi antara lain gamelan Kyai Udan Riris, Kyai Udan Arum, Kyai Kanyut, Kyai Mesem, Gong Kyai Anggun Anggun, Kyai Pamedharsih (kodok ngorek), Monggong Pakurmatan, Kyai Segarawindu, Kyai Lipur Tambahoneng, dan Kyai Galaganjur (bendhe perang).

Sedangkan karya seni ciptaan Pangeran Samber Nyawa yang hingga kini menjadimaster piece Pura Mangkunegaran diantaranya; Bedhaya Mataram-Senopaten Anglirmendung, (formasinya tujuh penari wanita, pesinden, dan penabuh wanita) yang menjadi monumen perjuangan Perang Kesatrian di Ponorogo.

Ada lagi Bedhaya Mataram-Senopaten Diradameta (Gajah Mengamuk dengan formasi tujuh penari pria, pesinden, dan penabuh pria), sebagai monumen perjuangan perang di Hutan Sitakepyak. Dan Bedhaya Mataram-Senopaten Sukapratama (Kebahagiaan utama dengan formasi tujuh penari pria, pesinden, dan penabuh pria) monumen Perjuangan Perang Bedah Benteng Kompeni Yogyakarta.

Dalam berbagai aktivitas kesenian yang dilakukan Raden Mas Said, konsep-konsep ajaran agama Islam juga sangat mempengaruhinya. Setidaknya, sebagaimana dalam penciptaan ketiga tarian tadi. Filosofi falsafah angka tujuh, dalam formasi penarinya merupakan perspektif ajaran tasawuf Islam. Diyakini, inilah pengejawantahan religious Raden Mas Said.

Menurut ajaran tasawuf Islam, untuk menuju kesempurnaan iman manusia, harus melalui tujuh maqom (tempat pemberhentian atau tataran pendakian spirit spiritual), dalam setiap pemberhentiannya manusia akan mengalami perubahan menuju dimensi kesempurnaan religious yang lebih tinggi.
Adapun tujuh proses pemberhentian tadi masing-masing, Pertama; Attaubatu Allaumu, bersesal dari hati selanjutnya diikuti tobat kepada Allah. Kedua; Mujahadah Nafs, pantang berteriak, menahan hawa nafsu, dan setiap perbuatan selalu didasarkan hukum halal dan haram.

Ketiga; Muamalah wa Khalifah Fil Ardl, berusaha menjaga dan menambah keindahan alam (memayu hayuning bawana), memupuk rasa sosial dalam arti luas dan wajar. Keempat; Qonaah wa Zuhud, kepasrahan, yaitu hidup bersahaja dan sederhana mencegah kemewahan. Kelima; Shobar wa Tahamul, sabar dan tahan menderita dalam menghadapi segala cobaan.

Keenam; Istiqomah wa thoah, setia, teguh, tekun dan taat (percaya dan taat sepenuhnya kepada kekuasaan Allah). Dan ketujuh; Syukur wa Ridho, sejahtera dan puas, dalam arti bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, tidak mengharapkan berlebihan, menerima secara penuh dan sadar apa yang sudah digariskan Allah atau semeleh lan nrimo ing pandum. [*/]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *