Soloraya

ISI Solo Resmikan Monumen Becak: Hidupkan Kembali Identitas Visual dan Memori Kolektif Kampung Becak Solo Tanggulsari

SOLO, POSKITA.co – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DIPA Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Solo) secara resmi meresmikan Monumen Becak di kawasan Kampung Becak Solo, Tanggulsari, Kelurahan Banjarsari, Kota Surakarta, pada Sabtu, 24 Oktober 2026 lalu.

Peresmian penanda kawasan ini dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan pameran desain sangkar burung sebagai langkah strategis memperkuat identitas budaya sekaligus memantik potensi ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Program pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi ini diprakarsai oleh dosen ISI Surakarta, Dr. Ketut Gura Arta Laras, S.Sn., M.Sn., bersama Risky Chairani Putri, S.Hum., M.A., dengan melibatkan kontribusi aktif dari mahasiswa. Pendanaan penuh program ini didukung melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ISI Surakarta.

Ketua Tim PKM, Dr. Ketut Gura Arta Laras, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa pembangunan Monumen Becak mengemban misi penting untuk merawat ingatan publik terhadap masa kejayaan transportasi tradisional di wilayah Tanggulsari.

“Melalui pembangunan monumen ini, kami ingin mengingatkan kembali masyarakat tentang sejarah dan masa kejayaan becak, khususnya di kawasan Kampung Becak Tanggulsari. Monumen ini diharapkan menjadi penanda yang memperkuat legitimasi identitas Kampung Becak sekaligus menjadi identitas visual yang merepresentasikan karakter kawasan tersebut,” paparnya.

Seiring perkembangan zaman dan menjamurnya transportasi berbasis digital, eksistensi becak kayuh mengalami penurunan peminat. Realitas sosial ini memicu dinamika baru, di mana sebagian besar keluarga pengayuh becak di Tanggulsari beradaptasi secara ekonomi dengan beralih profesi menjadi perajin sangkar burung.

Anggota Tim PKM, Risky Chairani Putri, S.Hum., M.A., menambahkan bahwa wilayah ini kini menyimpan keunikan ganda, yakni sebagai wilayah bersejarah sekaligus sentra industri kerajinan.

“Monumen Becak ini menjadi identitas yang mencirikan bahwa kawasan tersebut merupakan Kampung Becak Solo. Ini adalah nilai istimewa yang dimiliki Kelurahan Banjarsari. Terlebih, saat ini Kampung Becak Solo juga berkembang sebagai sentra perajin sangkar burung. Kami berharap keberadaan monumen ini dapat semakin dikenal masyarakat luas dan turut mendongkrak nilai serta daya tarik kerajinan sangkar burung yang dihasilkan warga,” urai Risky.

Meski memiliki potensi yang besar, Kampung Becak Solo masih menghadapi tantangan nyata terkait keterbatasan inovasi desain, pengemasan visual produk, hingga strategi pemasaran yang modern.

Oleh karena itu, kehadiran ISI Surakarta tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik monumen, melainkan menyentuh aspek hilirisasi produk lewat pameran desain sangkar burung guna meningkatkan nilai jual kerajinan lokal.

Acara peresmian ini turut dihadiri dan didukung penuh oleh Lurah Banjarsari, Dan Dare Arthadika, S.T. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada ISI Surakarta atas kontribusi nyata dalam memberikan penanda sejarah yang edukatif bagi generasi muda. Ia berharap monumen ini mampu menjembatani memori kolektif masa lalu bagi generasi baru yang tidak mengalami langsung era keemasan becak kayuh.

Melalui pendekatan akademik dan seni yang inklusif, program PKM ISI Surakarta diproyeksikan mampu membuka peluang baru bagi Kampung Becak Solo Tanggulsari untuk bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata budaya, sejarah, dan pusat ekonomi kreatif unggulan di Kota Surakarta. (Arya)