Diplomasi Budaya melalui Seni Pertunjukan, SIPA 2026 Mendapat Apresiasi dari Kemenpar
SOLO, POSKITA.co — Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 kembali menyuguhkan perayaan seni pertunjukan bertaraf internasional di Kota Surakarta. Berlangsung di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, SIPA 2026 mempertemukan seniman Indonesia dan mancanegara melalui pertunjukan tari, musik, serta seni tradisi dan kontemporer.
Rangkaian pembukaan SIPA 2026 diawali dengan Opening Ceremony yang dipandu oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Direktur SIPA, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, Wakil Walikota Surakarta, serta perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Direktur SIPA, Irawati Kusumorasri dalam sambutannya menyampaikan “Di dalam tema Kinetic Kinship: Beyond Boundaries terdapat imajinasi daya cipta tak kasat mata, dimana SIPA meleburkan segala batasan, hanya ada ruang luas untuk mengekspresikan ide dan visi kreatif,” Kamis, 10 September 2026 malam.
GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo juga menyampaikan apresiasinya terhadap SIPA “Atas nama Mangkunegaran, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada SIPA serta berbagai pihak yang bekerjasama yang telah menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya dinikmati secara visual melainkan menjadi sesuatu yang dapat mempertemukan manusia, gagasan, dan budaya dalam satu wadah.”
Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani dalam sambutannya menambahkan “SIPA memiliki arti penting untuk Kota Solo sendiri, hadirnya SIPA ini memperkuat ekosistem pertunjukan budaya serta memperkuat status Kota Solo sebagai Kota Budaya.”
Sambutan juga disampaikan oleh Antonio Prakoso, Perwakilan dari Kementrian Pariwisata RI, Antonio menyampaikan “Apresiasi kepada SIPA yang konsisten terpilih menjadi salah satu event jajaran Karisma Event Nusantara (KEN), ini menunjukkan konsistensi SIPA dalam menghadirkan festival budaya yang berkomitmen menjadikan sebuah panggung yang mempertemukan beragam budaya, mempertemukan beragam manusia serta seniman yang diperhitungkan di kancah Internasional”
Dalam kesempatan tersebut, turut dilaksanakan penyerahan Piagam Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai bentuk apresiasi terhadap SIPA sebagai salah satu event yang memiliki kontribusi terhadap pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Opening Ceremony SIPA 2026 secara simbolis ditandai dengan pemukulan alat musik oleh Direktur SIPA, Perwakilan Mangkunegaran, Wakil Walikota Surakarta, serta Perwakilan dari Kementrian Pariwisata Republik Indonesia.
Opening Ceremony ini juga di meriahkan dengan pesta kembang api yang menjadi ikonik SIPA setiap tahunnya. Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian pertunjukan SIPA 2026 sekaligus memperkuat keterkaitan antara seni pertunjukan dengan identitas budaya Kota Surakarta.
Usai prosesi pembukaan, panggung SIPA 2026 langsung menghadirkan pertunjukan kolaboratif yang melibatkan Ambassador SIPA 2026, Semarak Candrakirana Art Center, Sanggar Sikambang Manih, dan ISI Padang Panjang Panjang.
Perpaduan antara seni tradisi dan eksplorasi artistik menjadi bagian dari semangat SIPA dalam menghadirkan pertunjukan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Duta Besar New Zealand, Mr. Philip Taula. Kehadiran perwakilan diplomatik tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan budaya antarnegara melalui seni pertunjukan.
Kedutaan Besar New Zealand, Philip Nathan Taula yang turut hadir menyampaikan “Beberapa hubungan yang paling kuat yang bertahan lama, justru terletak pada hubungan budaya. Salah satu tempat kerjasama kebudayaan antara kedua negara ini adalah SIPA”. Hal ini menunjukkan komitmen SIPA menjadi fasilitator diplomasi kebudayaan antar negara.
Acara dilanjutkan dengan penampilan Ohinemataroa dari New Zealand melalui karya “Kapa Haka”. Kapa Haka merupakan bentuk ekspresi seni masyarakat Māori yang memadukan unsur gerak, musik, nyanyian, dan tradisi.
Tidak hanya New Zealand, SIPA 2026 juga menghadirkan delegasi dari kawasan Asia. Nomadart dari Korea Selatan tampil membawakan karya berjudul “Logic”. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari keberagaman perspektif artistik yang ditampilkan dalam SIPA 2026.
Selanjutnya, Seed Dance Company dari Taiwan menghadirkan karya “Lost Connection”. Melalui seni tari, pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian karya internasional yang memperlihatkan bagaimana isu dan gagasan dapat diterjemahkan melalui bahasa tubuh dan gerak.
SIPA 2026 juga memberikan ruang yang kuat bagi seni pertunjukan Indonesia. Salah satunya melalui penampilan Kemantren Langenpraja Mangkunegaran-Surakarta. Kehadiran Kemantren Langenpraja menjadi representasi kekayaan tradisi Surakarta yang hadir berdampingan dengan karya-karya seni dari mancanegara.
Rangkaian pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh Gaung Marawa dari Sumatera Barat dengan karya “Tarekat (Nyanyian Surau)”. Karya tersebut membawa kekayaan ekspresi budaya Sumatera Barat ke dalam perhelatan SIPA 2026 sekaligus memperlihatkan keberagaman seni Nusantara dalam satu panggung.
Kehadiran delegasi internasional dan kelompok seni Indonesia menjadikan SIPA 2026 bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan lintas budaya. Melalui seni pertunjukan, masyarakat dapat mengenal beragam ekspresi budaya dunia, sekaligus memberi kesempatan bagi seniman Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan seni Nusantara.
SIPA 2026 kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para seniman dan delegasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam perhelatan seni pertunjukan internasional tersebut. Melalui seni pertunjukan, SIPA turut memperkuat peran Kota Surakarta sebagai ruang pertemuan seni internasional sekaligus menjadikan seni dan budaya sebagai jembatan hubungan antar masyarakat lintas negara. (Arya)

