Soloraya

Reaktivasi Permainan Tradisional sebagai Media Pendidikan Karakter

Foto: humas pemkot solo

SOLO, POSKITA.co – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani membuka Festival Bocah Dolanan 2026 di Ndalem Joyokusuman, Sabtu (20/6). Festival yang berlangsung selama dua hari, 20-21 Juni 2026, itu menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali mengenal permainan tradisional di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Mengusung tema “Rumah Beranak-Anak: Reaktivasi Permainan Tradisional sebagai Media Pendidikan Karakter”, festival ini menghadirkan berbagai aktivitas permainan tradisional, pertunjukan seni, lokakarya, hingga ruang interaksi budaya yang melibatkan anak-anak, keluarga, komunitas kreatif, serta pegiat pelestarian budaya.

Dalam sambutannya, Astrid menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menginisiasi penyelenggaraan Festival Bocah Dolanan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memperkuat pendidikan karakter generasi muda.

“Anak-anak saat ini tumbuh di era digital yang sangat dekat dengan gawai dan permainan berbasis teknologi. Karena itu, kita perlu menghadirkan ruang agar mereka tetap mengenal, merasakan, dan menghidupi nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur,” kata Astrid.

Ia menegaskan Kota Solo sebagai kota budaya memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan tradisi yang dimiliki. Salah satunya melalui pelestarian permainan tradisional yang sarat dengan nilai pendidikan.

Menurut Astrid, permainan tradisional tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengajarkan berbagai nilai penting seperti kebersamaan, gotong royong, sportivitas, kreativitas, disiplin, hingga kemampuan berinteraksi sosial.

“Permainan tradisional mengajarkan anak-anak untuk berkomunikasi, bekerja sama, menghargai aturan, dan menyelesaikan masalah secara langsung. Nilai-nilai inilah yang penting untuk membentuk karakter generasi penerus,” ujarnya.

Astrid menilai pelestarian budaya harus dilakukan secara adaptif mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Festival Bocah Dolanan menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat dikemas secara menarik sehingga tetap relevan bagi anak-anak masa kini.

“Semaju apa pun perkembangan teknologi dan pembangunan Kota Solo, nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakat harus tetap kita jaga dan lestarikan,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Astrid juga mengajak para orang tua untuk aktif mendampingi anak-anak mengenal permainan tradisional, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Menurutnya, pembentukan karakter anak tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melalui pengalaman bermain dan interaksi sosial sehari-hari.

Pemerintah Kota Surakarta berharap Festival Bocah Dolanan dapat terus berkembang dan menjadi agenda budaya tahunan Kota Solo. Selain menjadi sarana edukasi dan rekreasi, festival ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.

“Melalui Festival Bocah Dolanan, kita tidak hanya melestarikan permainan tradisional, tetapi juga menanamkan karakter, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya kepada anak-anak sejak dini,” pungkas Astrid.

Cosmas