Soloraya

Perjalanan Spiritual Diaspora Solo, Nina Siska dari ‘Divine Timing’ Hingga Misi Kemanusiaan

SOLO, POSKITA.co – Sosok Nina Siska yang yang punya nama lengkap Niena Sisca Redjopawiro, kecelakaan hebat yang dialaminya pada 2015–2016 bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang mengubah arah hidupnya secara drastis.

Dari mantan bankir dan penyanyi era 80–90an, ia kini dikenal sebagai diaspora Solo di Belanda yang aktif dalam misi kemanusiaan sekaligus sukses membangun bisnis kuliner lemper di Negeri Kincir Angin.

Perjalanan itu ia maknai sebagai “divine timing” waktu Tuhan yang presisi. “Saat tabrakan saya tidak bisa apa-apa, saya marah, kecewa, bahkan sempat tidak bisa berdoa. Tapi justru di situ Tuhan seperti ‘membenturkan’ saya agar melihat jalan yang lebih luas,” ujar Nina dalam perbincangan dengan Media Poskita.co, Sabtu, 14 Februari 2026.

Di masa pemulihan yang mengharuskannya bed rest total, Nina mulai banyak berinteraksi secara digital dengan jejaring pelaku seni dan industri event di Solo. Ia melihat keresahan yang sama: persaingan yang kerap menggerus solidaritas.

Dari titik itulah, tahun 2017 lahir komunitas God Is Love, sebuah wadah yang menyatukan para pekerja event, musisi, dan pelaku industri kreatif di Solo, bahkan mereka yang secara bisnis adalah kompetitor.

“Saya ingin membuat wadah untuk mengembalikan kebaikan Tuhan, matur nuwun Gusti, karena saya masih diberi kesempatan hidup,” tuturnya.

Komunitas ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari pembagian sembako rutin, keterlibatan dalam perayaan Natal bersama di Balai Kota Solo, hingga Ibadah Natal Bersama di Nawa Bistro pada awal 2026 lalu.

Kendati memiliki napas rohani Kristiani, God Is Love bersifat inklusif. Banyak anggota Muslim yang terlibat aktif dalam kegiatan sosial yang digelar.

“Kami melayani tanpa melihat latar belakang agama. Yang penting adalah kasih dan kemanusiaan,” kata John, salah satu motor penggerak komunitas di Solo.

Dukungan juga mengalir dari jejaring diaspora Indonesia di Belanda, memperkuat koneksi antara Solo dan Eropa dalam misi kemanusiaan tersebut.

Pensiun Dini dan Hijrah ke Belanda

Tak lama setelah komunitas berdiri, jalan hidup Nina kembali berbelok. Ia memutuskan pensiun dini dari bank tempatnya bekerja, tepat saat harus menentukan pilihan mengikuti pasangannya ke Belanda.

Momen paling krusial terjadi pada Maret 2020. Setelah pemberkatan pernikahan di GKI Solo Baru, ia terbang ke Belanda pada 13 Maret 2020 hanya beberapa hari sebelum lockdown total akibat pandemi Covid-19.

“Saya mendarat 14 Maret, seminggu kemudian lockdown. Kalau terlambat seminggu saja, ceritanya mungkin berbeda. Saya percaya Tuhan sudah mengatur waktunya,” kenangnya.

Ia menyebut peristiwa itu sebagai bukti “presisi waktu Tuhan” dalam hidupnya.

Di Belanda, Nina menghadapi tantangan baru. Kendala bahasa membuatnya sulit bekerja di sektor formal. Namun hobi memasak makanan Indonesia untuk sesama perantau justru membuka pintu rezeki tak terduga.

Lemper buatannya diminati warga Indonesia hingga masyarakat lokal. Perbedaan kurs mata uang membuat usaha rumahan tersebut berkembang pesat.

“Puji Tuhan, saya bisa merenovasi rumah orang tua karena lemper. Awalnya hanya hobi, tapi ternyata jadi jalan berkat,” ujarnya.

Keberhasilan itu membawanya pulang ke Solo untuk merenovasi rumah keluarga di Mojosongo menjadi hunian megah bernama Ndalem Sudarnan, sebuah bentuk bakti dan dedikasi kepada orang tuanya.

Tepatnya pada Rabu (11/2/2026), ia menggelar ibadah syukur yang dihadiri rekan penyanyi, tetangga, serta keluarga besar Lingkungan Fransiskus Xaverius.

“Kepulangan kali ini khusus untuk nguri-uri rumah bapak dan ibu. Saya bersyukur diberi rezeki dan kesempatan untuk memperbaiki kediaman ini sambil bereuni dengan sahabat lama,” ucapnya haru.

Nina tak menutupi bahwa kecelakaan pada 2015 sempat membuatnya depresi hingga tiga bulan dan sulit berdoa.

“Waktu itu saya marah dan tidak bisa berdoa. Tapi seorang sahabat memaksa saya mengulang Doa Bapa Kami terus-menerus. Di satu titik, mata hati saya seperti dibukakan,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, ia memaknai hidupnya sebagai rangkaian rencana Tuhan yang terjalin rapi, dari kecelakaan, komunitas kemanusiaan, pernikahan, pandemi, hingga bisnis kuliner.

Sebagai penyanyi yang pernah dikenal di era 80–90-an, Nina mengaku kini memiliki perspektif berbeda tentang panggung dan suara.

“Dulu menyanyi untuk nafkah, sekarang saya bernyanyi untuk Tuhan. Setiap nada adalah doa,” ujarnya.

Meski menetap di Belanda, ia tetap aktif mengelola God Is Love bersama tim di Solo. Jarak ribuan kilometer bukan penghalang untuk terus menebar kasih. (Arya)