Bedhaya Soerya Soemirat Iringi Pahargyan Dhaup Ageng Mangkunegaran
SOLO, POSKITA.co – Tujuh penari Golek Montro dan sembilan penari Bedhaya Soerya Soemirat dari Kawedanan Langen Praja mengiringi Pahargyan Dhaup Ageng Mangkunegaran di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Jumat, 6 November 2026.
Kehadiran kedua karya tersebut memperlihatkan bagaimana tari klasik terus memperoleh makna melalui para pelaku yang mempelajari, merawat, dan menghadirkannya dalam kehidupan Mangkunegaran hari ini.
Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat membawa jejak sejarah yang berbeda. Golek Montro tumbuh sebagai tari penyambutan pada masa Mangkoenagoro VII, sedangkan Bedhaya Soerya Soemirat lahir pada masa Mangkoenagoro IX dan pertama kali dipentaskan dalam rangkaian pernikahan beliau pada 1990. Dalam Dhaup Ageng Gusti Sura, kedua karya tersebut kembali hadir dalam sebuah peristiwa keluarga Mangkunegaran.
“Seni tari dalam Dhaup Ageng bukan sekadar pelengkap perayaan. Setiap karya membawa pengetahuan, sejarah, dan nilai yang terus dijalankan oleh para abdi dalem serta Kawedanan Langen Praja,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo
Golek Montro sebagai Tata Penyambutan
Golek Montro menggambarkan para putri yang beranjak dewasa dan mempersiapkan diri untuk menyambut tamu kehormatan. Dibawakan dengan karakter gerak yang lembut dan terukur, tarian ini menjadi bagian dari tata penyambutan di Mangkunegaran.
Perkembangan Golek Montro di Pura Mangkunegaran berkaitan dengan perjumpaan tradisi tari Mangkunegaran dan Yogyakarta pada masa Mangkoenagoro VII. Karya tersebut kemudian diolah dan diteruskan sebagai bagian dari gaya tari Mangkunegaran. Pada 2021, Golek Montro ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Jawa Tengah.
Maestro tari Mangkunegaran, K.R.Ngt.T. Rusini, menjelaskan bahwa perjalanan Golek Montro tidak dapat dipisahkan dari hubungan budaya yang terjalin pada masa tersebut.
“Golek Montro berakar pada khazanah tari Yogyakarta dan kemudian berkembang di Mangkunegaran. Di sini, karya tersebut dipelajari, diolah, dan menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu,” jelas Rusini.
Dalam Pahargyan Dhaup Ageng, Golek Montro dibawakan oleh tujuh abdi dalem putri setelah prosesi Panggih. Penampilan mereka menempatkan tradisi penyambutan bukan hanya dalam tata penerimaan, tetapi juga dalam bahasa gerak, gendhing, dan keterampilan yang diwariskan.
Bedhaya yang Menghubungkan Dua Generasi
Bedhaya Soerya Soemirat membawa hubungan yang lebih personal dengan perjalanan keluarga Mangkunegaran. Karya ini diciptakan oleh Sulistyo Sukmadi Tirtokusumo dengan iringan yang disusun Sri Hastanto, dan pertama kali dipentaskan pada 1990 dalam rangkaian Boyong Dalem pernikahan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX.
36 tahun kemudian, karya tersebut hadir dalam Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura, putri Mangkoenagoro IX. Kehadirannya membangun jembatan antargenerasi: sebuah karya yang lahir dalam perjalanan pernikahan orang tua kini mengiringi perjalanan baru putrinya.
Dibawakan oleh sembilan abdi dalem putri, Bedhaya Soerya Soemirat menghidupkan semangat perjuangan Mangkoenagoro I melalui komposisi gerak yang memadukan kelembutan bedhaya dengan karakter keprajuritan. Jumlah sembilan penari juga menjadi bagian penting dari identitas penciptaan karya pada masa Mangkoenagoro IX.
“Bedhaya ini membawa semangat perjuangan melalui gerak-gerak yang memiliki nuansa keprajuritan. Namun, kekuatan itu tetap disampaikan dalam tata gerak bedhaya yang halus dan terukur,” ujar Rusini.
Tradisi yang Dijalankan oleh Para Pelakunya
Di balik dua pementasan tersebut terdapat enam belas abdi dalem putri yang menjalani proses pembelajaran dan latihan bersama Kawedanan Langen Praja. Mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan pelaku yang menjaga agar repertoar tari Mangkunegaran terus dipahami dan dapat diwariskan.
Melalui Golek Montro dan Bedhaya Soerya Soemirat, Pahargyan Dhaup Ageng menjadi ruang perjumpaan antara peristiwa keluarga, ingatan sejarah, dan praktik seni hari ini. Tradisi tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup ketika dipelajari, dijalankan, dan diteruskan oleh generasi berikutnya. (Arya)

