Nasional

Kagum dengan Anti Bullying di Ponpes Budi Utomo, Mbah Con Minta Tularkan ke Lainnya

Foto: dokumentasi

SOLO, POSKITA.co – Ponpes Budi Utomo Surakarta bisa jadi praktek baik Anti bullying di sekolah maupun pondok pesantren.

Kebijakan tersebut bertujuan untuk mencegah perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan. Cara mendidik santrinya bukan sekadar membuat aturan, melainkan membangun kebiasaan saling membantu, menghormati, dan tidak merendahkan sesama santri. 

Pola pendidikan ini ternyata membuat Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko yang akrab disapa Mbah Con terkesima.

Dia ingin mempelajari sistem pencegahan bullying tersebut yang kemudian bisa diterapkan di sekolah lain di Kota Solo.

Untuk menerapkan ilmu yang baik, Mbah Con juga ingin belajar dari berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren, terutama dalam menciptakan lingkungan aman bagi para pelajar.

“Ini salah satu contohnya pondok pesantren yang saya lihat tadi ada anti-bullying. Seperti apa? Nanti kita bisa sampaikan ke yang lain biar kejadian bullying di lingkungan sekolah atau pesantren tidak terjadi,” kata Condro.

Menurutnya, praktik baik dari satu lembaga pendidikan perlu dibagikan kepada lembaga lainnya. Dengan begitu, sekolah dan pesantren dapat saling belajar untuk mencegah perundungan sekaligus menjaga keamanan lingkungan pendidikan.

Usai menerima kunjungan Kapolresta Pimpinan Ponpes Budi Utomo Surakarta, KH M Thoyibun, menjelaskan pencegahan bullying dimulai sejak santri pertama kali masuk pesantren. Mereka mengikuti pembinaan bersama untuk memahami bahwa seluruh santri memiliki visi, misi, dan tujuan yang sama. Thoyibun menanamkan nilai kebersamaan dengan mengingatkan santri agar saling membantu dan tidak menyakiti teman.

Di lingkungan ponpes, lanjutnya, ada larangan santri mengejek, menghina, menjatuhkan, atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

“Intinya itu, saling membantu, tidak boleh menjatuhkan, tidak boleh menghina, tidak boleh mengejek, tidak boleh merugikan. Harus memberikan pertolongan kepada teman atau saudara-saudaranya,” terangnya.

Ponpes Budi Utomo juga menerapkan evaluasi rutin setiap pagi dan malam. Para pamong memantau kondisi santri, termasuk hubungan pertemanan dan pergaulan mereka sehari-hari. Setiap pagi, pengasuh mengevaluasi kejadian selama malam sebelumnya. Sebaliknya, evaluasi malam membahas aktivitas santri sejak pagi hingga sore. Pola tersebut membantu pengasuh mengetahui lebih awal jika muncul persoalan di antara para santri.

Thoyibun menyebut, kebiasaan saling menghormati dan menghargai menjadi bagian penting dalam kehidupan pesantren. Dengan pendekatan tersebut, lanjutnya, lingkungan santri tetap kondusif tanpa persoalan perundungan.

Selain mempelajari pola pencegahan bullying, Polresta Surakarta akan menjalin kerja sama pembinaan dengan Ponpes Budi Utomo. Materinya antara lain keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), keselamatan berlalu lintas, serta bahaya narkoba dan minuman keras. Thoyibun menyambut baik kerja sama tersebut. Sebab pihak pesantren terbuka apabila kepolisian memberikan edukasi kepada para santri mengenai berbagai persoalan sosial dan keamanan. (**)

Tanto