Soloraya

Tak Punya Gedung Kesenian, Ratusan Seniman Solo Protes Lewat Kirab Budaya

Ratusan seniman, budayawan, para pegiat seni beserta masyarakat umum menggelar kirab budaya di CFD Jalan Slamet Riyadi, Minggu (26/7/2026). (foto dokumentasi)

SOLO, POSKITA.co – Mengaku sebagai kota budaya, kota Solo belum memiliki gedung kesenian. Untuk itu ratusan seniman Solo protes melalui kirab budaya.

Ratusan seniman, budayawan, para pegiat seni beserta masyarakat umum menggelar kirab budaya yang syarat penuh makna di Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (26/7/2026).

Kirab yang dimulai dari depan Solo Grand Mall (SGM) hingga Gladak tersebut memiliki satu tujuan yakni segera dibangun gedung kesenian dan kebudayaan di Kota Solo.

Agar tujuan itu dapat terwujud, sebanyak 300 peserta kirab mengalungkan pita hitam di leher. Bukan sekadar atribut, kirab tersebut sebagai simbol duka dan keprihatinan lantaran sudah cukup lama Kota Solo tidak memiliki Gedung Kesenian. Di tangan mereka, ribuan stiker dibagikan kepada warga yang memadati sepanjang jalan mulai dari Solo Grand Mall (SGM) hingga ke Bundaran Gladak. Adapun isi stiker memiliki makna sederhana, tetapi menyimpan harapan besar : Solo membutuhkan gedung kesenian dan kebudayaan.

Bagi para pelaku seni, kirab tersebut bukan sekadar aksi turun ke jalan. Mereka mengingatkan bahwa Kota Solo selama ini dikenal sebagai kota seni dan budaya, tetapi belum memiliki gedung kesenian sebagai ruang berekspresi dan berkarya.

“Kirab ini diikuti sekitar 300 orang dari berbagai elemen masyarakat. Ada seniman musik, tari, lukis, patung, keramik, budayawan, hingga komunitas seni lainnya. Ini bentuk keprihatinan kami karena Solo belum memiliki gedung kesenian,” terang Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Dr Kusumo Putro SH MH saat menyampaikan maksud dan tujuan kirab.

Dia menyayangkan karena Kota Solo yang telah berusia lebih dari 280 tahun, bahkan telah melahirkan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, namun, hingga kini para seniman masih belum memiliki rumah bersama untuk menggelar pertunjukan, pameran, maupun aktivitas kebudayaan secara layak. Padahal, seni dan budaya selama ini menjadi identitas yang melekat pada Kota Bengawan. Berbagai festival budaya, pertunjukan tari, karawitan, hingga seni rupa rutin digelar dan menjadi daya tarik wisata.

Melalui aksi ini, lanjut Ketua FBM yang juga sebagai advokat tersebut, para seniman berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap kebutuhan ruang budaya yang selama ini mereka perjuangkan. (**)

Tanto