Pendidikan

Merawat Loyalitas, Menjemput Keberkahan Ilahi

SOLO, POSKITA.co – Mendapat kunjungan dari SD Muhammadiyah Palur Program Khusus Sukoharjo yang dipimpin oleh Noor Afifah Rachmawati, Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo Sri Sayekti berharap studi inspirasi seperti ini sejatinya bukan sekadar tempat terjadinya transfer ilmu pengetahuan.

“Lebih dari itu, studi inspirasi mampu mearawat loyalitas dan menjemput keberkahan ilahi dan saling memberi inspirasi,” kata Sri Sayekti, Senin (25/5/2026).

Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di tengah derasnya arus persaingan dunia pendidikan modern, kemegahan bangunan fisik atau kecanggihan fasilitas teknologi rupanya bukanlah jangkar utama.

Fondasi terbesar dari keberhasilan sebuah institusi pendidikan swasta justru terletak pada aspek spiritual dan karakter internalnya mulai dari kesucian niat, keselarasan pola pikir, serta loyalitas para guru dan karyawannya.

Sekolah dan madrasah Muhammadiyah diibaratkan sebagai sebuah “Kapal Dakwah”. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah kendaraan utama syiar.

“Refleksi mendalam bagi para pejuang Pendidikan bahwa ancaman terbesar karamnya sebuah lembaga bukanlah kompetitor dari luar, melainkan rapuhnya perilaku dan integritas di dalam tubuh sendiri,” bebernya.

Kemudian, bahwa fakta di lapangan menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan. Sebesar 68 persen wali murid atau masyarakat memilih meninggalkan sebuah lembaga pendidikan hanya karena kecewa terhadap perilaku petugas atau gurunya.

“Angka ini jauh melampaui faktor kekecewaan terhadap fasilitas (14 persen) maupun persoalan harga dan kompetisi (9 persen). Citra baik dan kepercayaan umat yang telah dirajut rapi selama bertahun-tahun bisa runtuh seketika akibat satu sikap yang arogan atau kurangnya rasa empati,” urainya.

Guna menjaga amanah dan kepercayaan masyarakat, setiap pendidik yang bertindak sebagai pengawai diimbau untuk senantiasa mengokohkan “Tiga Pilar Kesetiaan”.

Pertama, Pilar Lengan (Syukur dan Balas Budi), yakni kesadaran untuk tidak menggigit lengan orang yang telah berjasa membantunya. Kedua, Pilar Kapal (Anti-Sabotase), yaitu komitmen kuat untuk tidak melubangi kapal tempatnya berlayar melalui desas-desus, gosip, atau perpecahan internal yang merusak. Ketiga, Pilar Piring (Menjaga Kehormatan), sebuah prinsip mulia untuk tidak meludahi piring tempat ia menjemput rezeki.

“Transformasi menuntut adanya hijrah pemikiran (mindset). Guru dan karyawan diajak mengikis mentalitas mengeluh yang diwakili oleh frasa “Hanya saja…”, lalu mengubahnya menjadi mentalitas pejuang yang mengadopsi prinsip “Justru karena…”. Melalui cara pandang ini, setiap keterbatasan tidak lagi dilihat sebagai hambatan, melainkan sebuah peluang dakwah untuk berbuat lebih baik,” jelasnya.

Ketika seluruh perangkat sekolah melayani umat dengan excellent dan penuh keikhlasan, hukum alam dan ketetapan Allah SWT akan bekerja. Dedikasi yang tinggi secara linear akan mendongkrak kepercayaan masyarakat.

“Imbasnya, target Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dapat tercapai secara maksimal hingga 100 persen,” ucapnya.

Lembaga yang mandiri dan surplus secara finansial ini pada akhirnya akan mengalirkan kembali keberkahan tersebut berupa peningkatan kesejahteraan (royalitas) bagi para gurunya.

Namun, di atas semua hitungan matematis itu, Republika mencatat pesan spiritual terdalam dari konsep manajemen ini. Setiap senyuman yang merekah, tutur kata yang santun, dan bantuan yang tulus kepada wali murid adalah bagian dari pelayanan amal.

“Ini adalah bentuk “Manajemen Ilahi” sebuah mesin spiritual dan ikhtiar nyata untuk menolong sesama hamba Allah, demi menjemput pertolongan-Nya yang Maha Luas, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak,” pungkasnya.

Cosmas