H. Jumarno, SSos, Anggota DPRD Klaten dari Fraksi PKB Ajak Warga Manfaatkan Kotoran Sapi Jadi Bahan Bakar Biogas
Foto Atas: Tampak H. Jumarno, SSos sedang menunjukkan dua ekor sapinya yang setiap hari dibersihkan kotorannya dan dijadikan bahan bakar biogas, Minggu (22/2/2026) pagi.
KLATEN, POSKITA.co – Meskipun sedang berpuasa Ramadhan, anggota DPRD Klaten dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Klaten, tampak kerja bakti membersihkan kandang sapi yang berada di rumahnya di Talun, RT 7/RW 4, Kemalang, Klaten, Minggu (22/2/2026) pagi.
Ternyata dari penuturan Jumarno, kegiatan resik-resik kandang sapi ini sudah terbiasa dilakukan sejak masih menjadi Kepala Desa Talun dari tahun 1997-2012. Setiap pagi sebelum bekerja ngantoran di Balai Desa Talun hingga saat ini menjadi anggota DPRD Klaten, Jumarno sempatkan Waktu resik-resik kendang mengisi biogas.
“Kita sudah terbiasa resik-resik kandang sapi setelah shalat shubuh, tadarusan, cari pakan suket kolonjono dan akhirnya resik-resik kotoran kendang sapi dimasukkan dalam saluran tabung biogas,” jelas Jumarno mantap.
Kotoran sapi ini adalah limbah sampah dari hewan yang tetap bermanfaat. Selain dimanfaatkan untuk bahan bakar biogas, ampasnya yang masuk di dalam kolam bisa dijadikan pupuk tanaman. Pohon yang disirami air ampas kotoran sapi dari proses biogas ini akan tumbuh subur.
Untuk per harinya minimal harus memiliki 1-2 ekor sapi dan setidaknya per hari ada 5 kg kotoran sapi bisa diproses lewat pipa dan capiteng kotoran sapi yang ada di samping rumah. Kotoran sapi ini, ujar Jumarno, tidak berbau dan aman untuk menjadi bahan bakar biogas.
Diinformasikan, misalnya jumlah kepala keluarga (KK) di Desa Talun ini sekitar 700-an KK dan rata-rata setiap rumah memiliki 2-5 ekor sapi, maka jumlah sapi se Talun ada ada ribuan. Warga Talun ini memang dikenal ulet dalam beternak sapi di dalam rumah dengan makanan utamanya suket kolonjono.
“Misalnya di Talun ini ada 700-an KK, ada ribuan sapi yang dimiliki warga. Ceritanya saat saya menjadi Kepala Desa dulu, ada pelatihan dan anggaran untuk pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi bahan bakar biogas. Saat itu ada 11 warga yang terapkan biogas, seperti H. Saidi, Mulyana, Tarjo, Pak Man, Pak Mul, Sigit, Dodo, Faris, Padi, dan Panto,” jelasnya.
Dengan menerapkan pemanfaatan kotoran sapi untuk bahan bahan bakar biogas ini setidaknya bisa mengurangi sampah hewan yang ada di sekitar rumah. Selain dimanfaatkan untuk bahan bakar biogas dan pupuk tanaman, biogas kotoran hewan sapi ini juga bisa dimanfaatkan untuk menyalakan lampu.

Di beberapa sudut rumahnya juga dipasang saluran listrik dengan energi dari biogas kotoran sapi. Kalau tiba-tiba PLN menyatakan listrik padam beberapa jam, maka energi biogas kotoran sapi ini menjadi energi alternatif. Kalau untuk biogas kotoran sapi ini dipakai bahan bakar, api yang keluar berwarna biru dan aman alias tidak membikin kompor biogas njeblug.
“Klaten ini baru crowded soal sampah, setiap hari jutaan penduduk di Klaten menghasilkan sampah. Termasuk permasalahan TPS Troketon sampai saat ini juga terus menggunung, berton-ton sampah dan bikin kurang nyaman. Alangkah bijaknya jika warga Klaten muncul kesadaran tidak buang sampah sembarangan dan memulai gerakan memanfaatkan limbah sampah menjadi berguna. Adanya TPS3R juga menjadi Langkah bijak kelola sampah,” pesan Jumarno, anggota Komisi II DPRD Klaten. (Hakim)

