Dewi Sri Green Umbrella Memukau Penonton Festival Chiangmey Thailand

Spread the love

Thailand, Poskita.co

Delegasi Rumah Budaya Indonesia Satu menggelar seni pertunjukan Dewi Sri Green Umbrella menampilkan bentuk karya kolaborasi tari, wayang, sketsa bathik, musik, dan tembang-tembang tani berhasil memukau penonton di Festival Chiangmey, Thailand.
Menurut Joko Ngadimin, selaku sutradara, Dewi Sri Green Umbrella, menceritakan ketika para petani meninggalkan sawah pertaniannya untuk urban ke kota, sawah pertanian menjadi terbengkalai dan tandus tak terurus. Bahkan tanah sudah dikuasai para pengembang berdiri pabrik pabrik dan mall. Para petani yang masih mau menggarap sawah pertaniannya juga meninggalkan cara-cara bertani yang ramah lingkungan dan meninggalkan adat tradisi budaya pertanian.

Bersama Town Pau Wali Kota Chiangmey


“Dewi Sri kecewa dan marah, hama tanaman merajalela, petani gagal panen dan terjadi paceklik. Namun ketika petani sadar dan kembali ke desa mengolah sawah pertaniannya dengan baik dengan cara bertani yang ramah lingkungan serta tetap menggunakan adat tradisi budaya pertanian berupa wiwit, methik, pranotomongso, dan sebagainya,” ujar Joko Ngadimin.
Joko Ngadimin melanjutkan, Dewi Sri merasa senang, hama tanaman hilang dan panen pun melimpah. Sebagai tanda syukur maka petani melakukan adat tradisi “Pesta Panen” bersih desa. Para petani berpesta, menari, bernyanyi dan berdoa bersama membangun kebahagiaan.
Selain Dewi Sri Green Umbrella, banyak kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari berturut turut. Rumah Budaya Indonesia Satu mengadakan kegiatan seni budaya yaitu parade seni budaya, pertunjukan, workshop dan pameran.

Workshop


“Acara hari pertama, sore hari tanggal 20 Januari mengikuti parade seni budaya dengan beberapa kelompok seni budaya dari Kota Chiangmai Thailand. Pada malam harinya Pembukaan Festival ditampilkan pertunjukan yaitu Dewi Sri Green Umbrella,” papar Joko Ngadimin.
Pada hari kedua tanggal 21 Januari selain mengadakan workshop dan pameran kerajinan wayang, sketsa payung, dan memakai kebaya, juga dipergelarkan karya tari Kidung Sudamala yang mengangkat tema sejarah Candi Sukuh dan potensi alam gunung Lawu Kabupaten Karanganyar yang merupakan Punjering Jagad. Hari ketiga 22 Januari selain melanjutkan workshop dan pameran, juga ditampilkan karya seni pertunjukan kolaborasi dari beberapa grup kelompok seni lain yang mengangkat tema Perdamaian dan Harmony.

Penyerahan cinderamata Berupa Kalung Topeng Sekartaji


“Kesan kesan yang dapat kami rasakan bahwa penyambutan dari delegasi Rumah Indonesia Satu sangat baik dan penuh rasa menghormati, yaitu ketika kami datang di bandara Chiangmai kami dijemput oleh Walikota dan para pegawainya dan panitia dengan penuh rasa gembira,” ujar Joko Ngadimin.
Diberitakan sebelumnya, Delegasi Rumah Budaya Indonesia Satu, yang merupakan kolaborasi berbagai seni tari, musik, pedalangan, kidung tani, tembang tani, mantra tani, dan seni rupa alam, menampilkan Dewi Sri Green Umbrella di Festival Chiangmey Thailand, 18-24 Januari 2023.
Menurut Margono Gogon, kepada Poskita.co, Minggu (22/01/2023), seniman yang terlibat yaitu Joko Ngadimin (sutradara dan pemusik), Margono Gogon (asisten sutradara dan dalang), Isnen Sholihin (sketsa pertunjukan dan setting), Fitri Anekawati (penari Dewi Sri), Warih Dharmastuti (penari Sri Sedani), dan Ridwan Maulana (sound man dan pemusik). Peserta delegasi Rumah Budaya INDONESIA SATU bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kepala Museum dan Cagar Budaya Indonesia, Drs Pustanto MM.
Joko Ngadimin, selaku sutradara menuturkan, karya “Dewi Sri Green Umbrella” mengambil tema potensi kekayaan alam dan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Karanganyar terutama yang berkaitan dengan potensi alam pegunungan, pertanian kebun teh Ngargoyoso, situs budaya candi Sukuh, Candi Cetho, dan potensi seni budaya masyarakat pegunungan (Gunung Lawu) yang mengandung nilai-nilai sejarah peradaban Nusantara dan kekayaan spiritual.
“Konsep karya ini juga sesuai dengan gagasan besar dan tujuan besar Bupati Karanganyar, Juliyatmono untuk mewujudkan Karanganyar sebagai pusat peradaban Nusantara, Karanganyar, The Life Center of Nusantara, sekaligus mempromosikan segala potensi seni budaya dan ekonomi kreatif ke tingkat Internasional dalam upaya peningkatan ekonomi kreatif, budaya, dan pariwisata,” kata Joko Ngadimin.
Dijelaskan Joko Ngadimin, makna “Dewi Sri Green Umbrella”, Dewi Sri adalah Dewi kesuburan, Dewi Kemakmuran, Green adalah makna simbolik yang berarti “hijau” atau subur makmur yang berbasis pada kearifan lokal dan harmony alam. Umbrella adalah makna simbolik yang berarti memayungi, membangun keselamatan dan memberikan keteduhan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Sehingga makna keseluruhan Dewi Sri Green Umbrella adalah Dewi Sri Sang Dewi Kemakmuran yang telah memayungi dan memberi kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. ***
Cosmas