Media Video dalam PJJ di Masa Pandemi Covid-19

Spread the love

Putu Eny Witariani, M.Pd.
Guru SDN 4 Kaliakah, Jembrana

Pembelajaran Jarak Jauh membuat guru harus kreatif saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Guru dapat melaksanakan pembelajaran daring maupun luring, atau gabungan keduanya: blended learning. Agar pembelajaran bermakna dapat menggunakan video.
Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses menuntut guru agar melaksanakan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis siswa. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, tentu guru juga harus mampu merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan baik. Guru juga hendaknya mampu memilih metode, model, dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi yang akan disampaikan.
Mewabahnya Covid-19 telah merubah cara guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran yang biasanya tatap muka berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Guru yang biasanya mengajar di kelas, kini terpaksa mengajar dari rumah. Siswa yang biasanya belajar bersama teman-temannya di kelas, kini dipaksa untuk belajar dari rumah. Orang tua siswa yang biasanya bekerja, kini dirumahkan dan menemani anak belajar di rumah. Semua ini dilakukan hanya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Memang tidak mudah, tapi harus dijalani.
Guru dan siswa mulai melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ dapat dilaksanakan guru secara daring, luring, dan kombinasi keduanya (blended). Pemilihan jenis PJJ yang diterapkan guru tentu harus disesuaikan dengan kondisi siswa di kelasnya. Jika semua siswa siap dengan gawai dan mendapat akses sinyal internet yang baik, tentu dapat melaksanakan PJJ secara daring dengan memanfaatkan berbagai aplikasi pembelajaran yang ada. Jika semua siswa tidak siap dengan gawai dan/atau tidak mendapat akses sinyal internet yang baik, maka guru dapat melaksanakan PPJ secara luring dengan memanfaatkan siaran radio, TV edukasi, modul, dan media lainnya. Jika sebagian siswa memiliki gawai dan dapat mengakses internet, maka guru dapat memadukan PJJ daring dan luring (blended).
Dalam melaksanakan PJJ, tentu guru dan siswa menghadapi banyak tantangan. Diawali dengan ketidaksiapan guru dalam menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak guru yang sebenarnya belum siap dalam menghadapi PJJ di masa pandemi Covid-19 ini. Berbagai upaya pun dilakukan oleh guru secara mandiri, salah satunya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang mendukung pelaksanaan PJJ.
Masalah selanjutnya mucul dari orang tua siswa. Dimana kebanyakan orang tua siswa belum siap dalam menyediakan sarana pembelajaran berupa gawai atau laptop. Hal ini tentu akan sangat memengaruhi proses pembelajaran, karena sarana menjadi hal yang sangat fundamental. Pendekatan kepada orang tua tentu menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan.
Selain itu, kendala sinyal internet menjadi masalah klasik dalam pelaksanaan PJJ ini. Belum meratanya jaringan internet di Indonesia menjadi penyebabnya. Saat ini, hal yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa yang tidak mendapat akses internet adalah dengan mencari tempat-tempat yang sinyal internetnya bagus, misalnya pohon atau batu sakti.
Selain sinyal internet, masalah kuota internet juga menjadi kendala bagi siswa. Kurangnya penghasilan orang tua, karena banyak yang dirumahkan menjadi salah satu penyebabnya. Kadang untuk membeli beras pun, orang tua masih berpikir keras, apalagi ditambah untuk membeli kuota belajar bagi anaknya. Hal ini tentu sudah dicarikan solusi oleh Mas Mendikbud dengan memberikan kuota belajar. Semoga dengan adanya program pemberian kuota belajar dari Kemdikbud, masalah kuota internet bisa teratasi sehingga membantu pelaksanaan pembelajaran.
Kondisi tersebut tentu tidak membuat guru menyerah dalam memberikan hak siswa untuk belajar. Guru akan selalu hadir di hati siswa, karena peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Teknologi hanya berfungsi untuk mempermudah proses pembelajaran. Agar pembelajaran bermakna, maka harus tetap ada interaksi antara guru dan siswa.
Untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna kepada siswa dalam PJJ, maka video pembelajaran menjadi salah satu alternatifnya. Hal ini karena video pembelajaran mempunyai banyak keunggulan. Pertama, video pembelajaran mudah dibuat oleh guru. Guru dapat membuat video pembelajaran yang paling sederhana, yaitu dengan teknik rekam layar. Guru cukup menginstal aplikasi rekam layar, seperti Bandicam, FastStone, Screen On Matic atau yang sejenis. Agar video lebih menarik, maka guru dapat membuat PowerPoint sesuai dengan materi yang akan dijelaskan. Jika Powerpoint sudah siap, maka guru dapat memulai rekam layar sambil menjelaskan materi yang telah dibuat.
Kedua, hasil rekaman tentu secara tidak langsung mampu menghadirkan guru di hadapan siswa. Hal ini tentu akan dapat mengobati rasa kangen siswa terhadap gurunya. Harapannya, siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar.
Ketiga, video yang dibuat guru mudah untuk dikirim ke siswa. Video dapat dikirim langsung melalui WhatsApp atau dapat diunggah ke Drive ataupun Youtube. Jika video diunggah di Youtube, maka video dapat ditonton siswa tanpa paket internet (offline) selama 30 hari dengan memanfaatkan fitur download pada aplikasi Youtube. Hal ini tentu dapat menjadi solusi bagi siswa yang susah sinyal internet ataupun bagi siswa yang mempunyai kuota internet yang terbatas. Fitur ini membuat siswa dapat menonton video secara berulang-ulang, tanpa takut kehabisan kuota dan tidak perlu tergantung dengan sinyal internet.
Agar video menjadi lebih interaktif, maka guru dapat memberikan tugas melalui pesan yang ditampilan di video atau melalui tugas tersendiri. Intinya dengan video pembelajaran tetap dapat menghadirkan interaksi antara guru dan siswa, sehingga proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik. ***
Editor: Cosmas